Showing posts with label olahraga. Show all posts
Showing posts with label olahraga. Show all posts

Tuesday, June 28, 2011

Berprestasi di Tengah Keterbatasan


KBR68H - Anda yang dilahirkan dan hidup dalam kondisi sehat walafiat, adakah yang Anda lakukan untuk mengharumkan nama Indonesia? Cobalah belajar dari 46 atlet, yang tengah bersiap meramaikan Olimpiade Dunia untuk penyandang tuna grahita. Reporter KBR68H Novri Lifinus bertemu para atlet tuna grahita ini sebelum meraka bertolak ke olimpiade tersebut di Athena, Yunani.

Cerita selengkapnya di sini.

Wednesday, January 28, 2009

Mencoba Menyelamatkan Persebaya

Klub sepakbola Persebaya Surabaya gunjang-ganjing pasca dilarang menerima dana dari pemerintah daerah untuk menopang hidupnya. Enam pemain dilepas, pelatih pun mesti diputus kontrak. Persebaya tak punya uang untuk membayar mereka. Para Bonekmania, suporter Persebaya, tak rela klub mereka terpuruk dan terancam tak masuk Liga Super Indonesia di musim kompetisi mendatang. Kontributor KBR68H Petrus Riski memotret upaya para Bonekmania yang dikenal rusuh, bergotong-royong mengumpulkan sepeser demi sepeser untuk menyelamatkan Persebaya.

Audio: Yel-yel Bonekmania

Teriakan puluhan suporter Persebaya Bonekmania memecah keheningan suasana Mess Persebaya di Jalan Karang Gayam Surabaya. Tak tampak ada pemain atau pengurus di mess ini, setelah pengurus Persebaya memutuskan untuk melepas 6 pemain mereka: Bejo Sugiantoro, I Putu Gede, Kurnia Sandi, Rustanto Sri wahono, Fahrudin, Jordi Kartoko. Persebaya juga memutus kontrak pelatih Fredy Mulli.

Para Bonekmania khawatir, dilepasnya para pemain dan pelatih Persebaya bakal merusak kekompakan tim. Padahal Persebaya tengah memimpin klasemen sementara wilayah Timur, modal besar untuk lolos ke Liga Super Indonesia musim kompetisi 2009-2010. Nur Hasyim, koordinator suporter Persebaya dari Yayasan Suporter Surabaya khawatir, langkah ini bakal membuat prestasi Persebaya merosot.

Audio: “Putaran pertama kemarin kita itu sudah apa itu, kompak dengan kondisi tim yang bagus, pelatih yang bagus yang mumpuni, itu yang kita khawatirkandengan kondisi seperti ini dengan pemecatan pemai, tidak diperpanjangnya pelati, itu nanti situasi persebaya saya khawatirkan tidak seperti putaran pertama. Kita tidak menginginkan hancurnya persebaya, persebaya bukan milik golongan tertentu, persebaya milik warga surabaya.”

Ini memang langkah terpaksa yang harus dilakukan Persebaya. Aturan Menteri Dalam Negeri menyebutkan, klub sepakbola tak boleh lagi menerima kucuran dana APBD. Kemandirian klub secara keuangan pun menjadi salah satu syarat yang ditetapkan Badan Liga Indonesia, penyelenggara Liga Super.

Pembina Yayasan Suporter Surabaya (YSS) Wastomi Suheri mengaku kecewa dengan pengurus Persebaya sehingga klub mengalami kesulitan keuangan. Padahal, kata Wastomo, sebagian besar pengurusnya adalah pengusaha.

Audio: “Intinya kita kecewa dengan sampai, kenapa sih persebaya tim sebesar in, pengusaha sebanyak initidak bisa mendanai persebaya.”

Tak rela Persebaya terpuruk, para Bonekmania muncul dengan ide menggalang dana dari sesama suporter. Salah satunya dengan berjualan stiker dan atribut klub Persebaya.

Audio: Yel-yel Bonekmania

Rudianto, suporter Persebaya asal kampung Jambangan mengatakan, meski nilainya tidak seberapa, Bonekmania ingin membantu Persebaya mengatasi masalah keuangan yang membelit klub.

Audio: “Kami bonek ini dengan pro-aktif terus melakukan penggalangan dana dengan menjual stiker-stiker bonek ke seluruh anggota bonekmania di seluruh surabaya, dan kesemuanya itu akan disampaikan secara langsung ke manajemen agar meski itupun nggak sebanyak yang dibutuhkan persebaya saat ini.”
Para bonek alias bondo nekat memang terlanjur punya cap negatif. Citra rusuh yang melekat seringkali menjegal langkah supporter Persebaya untuk menggalang dana. Tapi Agus Esi memang betul-betul nekat, meski harus dikejar-kejar polisi lantaran berjualan stiker Persebaya di perempatan jalan.

Audio: “Ya kemarin sabtu cari-cari dan di pinggi-pinggir jalan,di depan hotel sahid situ, kita cari dana disitu ternyata dibubarkan sama polisi. Habis itu kita cari dana di setiap korwil, di setiap korwil kita minta dana ke anak buah-anak buah, trus kita kumpulin, kita kasihkan ke persebaya.” Audio: Yel-yel Bonekmania

Wastomi Suheri, Pembina Yayasan Suporter Surabaya mengatakan, upaya menggalang dana buat Persebaya tak hanya berjualan stiker dan atribut, tapi juga lewat situs internet dengan alamat bonex-cyber.web.id. Para bonek menjual lagu-lagu dukungan buat Persebaya yang mereka ciptakan menjadi nada sambung telfon seluler. Ada juga yang menggandeng musisi dalam negeri untuk membuat rekaman lagu.

Audio: “Kita juga ada kerjasama dengan pihak-pihak lain, contoh yang sekarang ini lagi kerjasama dengan Telkomsel. Kita ini membuat lagu-lgu, lagu-lagu Persebaya, kita jadikan lagu nsp, kalau itu dibeli orang, dibeli Bonek, didownload, itu kita akan mendapat royalti, royalti itu kita sudah sepakati separuh dari royalti yang kita terima itu kita akan berikan pada persebaya. Kita juga membentuk namanya bonek cyber, sampeyan bisa lihat di situ di websitenya bonek, disitu apa aja kegiatan mereka ada, itu cara-cara kita penggalangan dana. Memang tdak besar, tapi itu adalah sebagai bentuk kepedulian suporter pada persebaya.”

Audio: Lagu Bonekmania

Wastomi tak mau menyebut berapa besar sumbangan para Bonekmania yang sudah diberikan kepada Persebaya. Yang jelas, kata bonek asal Kampung Jambangan Rudianto, penggalangan dana bakal terus bergulir sampai dirasa cukup.

Audio: “Untuk saat ini dari semua korwil yang ada masih terus melakukan penggalangan dana dan itu akan terus bergulir hingga persebaya keluar dari krisis pendanaan tersebut.”

Kalau para Bonekmania begitu gigih mencari dana untuk Persebaya, apa yang sudah dilakukan para pengurus klub untuk mengatasi masalah keuangan?

Audio: Lagu Bonekmania

Di masa jayanya Persebaya adalah klub yang disegani di jagat persepakbolaan Indonesia. Klub ini sempat dua kali menjadi Juara Liga Indonesia Divisi Utama. Klub ini juga rajin menyumbang pemain untuk tim nasional, yunior maupun senior. Tapi prestasi klub berjuluk buaya hijau ini mulai menurun sejak 2006. Ketika itu Persebaya mendapat sanksi dari PSSI untuk turun kasta ke Divisi Satu karena menolak melanjutkan pertandingan di babak 8 besar.

Setelah itu Persebaya berubah menjadi tim guram, sampai kemudian musim kompetisi lalu gagal melaju ke Liga Super karena hanya menduduki posisi 14 di klasmen Divisi Utama.

Audio: Yel-yel Bonekmania

Prestasi Persebaya saat ini cukup meyakinkan. Klub ini menjadi pimpinan klasemen sementara wilayah Timur, modal besar untuk melaju ke musim kompetisi 2009-2010 Liga Super Indonesia.

Tapi begitu keluar aturan Menteri Dalam Negeri, kondisi keuangan klub langsung morat-marit. Aturan tersebut melarang klub menerima kucuran dana APBD. Pemutusan kontrak pemain dianggap jadi solusi terbaik, mengingat keuangan Persebaya yang lebih besar pasak daripada tiang.

Audio: Yel-yel Bonekmania

Pengeluaran Persebaya per bulan mencapai 850 juta rupiah. Ini untuk gaji pemain, operasional, sewa stadion dan lain-lain. Sementara pemasukan, kurang dari separuhnya, sekitar 450 juta rupiah, dari sponsor dan penjualan tiket. Setelah dipotong biaya operasional, maka kas Persebaya minus 400 juta rupiah lebih. Belum lagi biaya untuk satu musim kompetisi yang bisa mencapai 20 miliar rupiah.

Ketika masih disuntik dana APBD Surabaya, setiap tahun Persebaya menerima uang 10-17 miliar rupiah, kata Muhammad Alyas, anggota Komisi D DPRD Surabaya.

Audio: “Fluktuatif ya, pernah mendapatkan 15 milyar, terus persebaya turun divisi dan anggarannya turun menjadi 10 milyar, ketika kembali lagi di divisi utama itu anggaran pun ditambahkan lagi menjadi 17,5 milyar. Tapi anggaran itubukan hanya untuk klub persebaya semata-mata tapi untuk juga operasional daripada pengurus cabang atau pengcab pssi surabaya.”

Karena itu, keputusan melepas 6 pemain dan tidak memperpanjang kontrak pelatih Freddy Mulli telah menghilangkan beban keuangan klub secara signifikan. Ketua Harian Persebaya Cholid Ghoromah.

Audio: “Untuk masalah dana, setelah kita melepas enam pemain dan pelatih ini, syukur alhamdulillah sekarang kita tidak ada utang dan tidak ada tunggakan lagi sama pemain dan pelatih, semua berjalan dengan lancar, semuanya beres.”

Setelah kondisi keuangan membaik, Cholid optimistis Persebaya bakal tetap solid. Target lolos ke Liga Super Indonesia 2009 diyakini bakal tercapai.

Audio: “Yang kita lepas kan enam, jadi masih ada dua puluh satu, dan dua puluh satu ini kompak, solid, gak beda jauh lah. Apalagi persebaya sekarang ini juga, manajer, pelatih, dan pengurus akan mencari pengganti pemain yang bagus-bagus. Jadi pengurus, manajer dan pelatih ini konsisten akan membawa persebaya lolos ke liga super.”

Bila Persebaya betul-betul bisa masuk Liga Super, maka dana tak lagi jadi masalah. Akan lebih mudah menggandeng sponsor dengan status peserta liga bergengsi ini, kata Cholid.

Audio: “Kalau ke liga super, saya rasa sponsor mudah, sedikit mudah kita untuk mencari daripada di divisi utama.”

Audio: Yel-yel Bonekmania

Muhammad Alyas dari Komisi D DPRD Surabaya, sekaligus bekas pengurus Persebaya dan PSSI pada 2005-2008 menambahkan, meski tak lagi menikmati uang APBD, Persebaya diharapkan tetap mampu berprestasi.

Audio: “Yang jelas sepak bola itu kan memang uang atau anggaran itu cukup dominan, tapi kan bukan satu-satunya faktor penentu kemenangan sebuah tim. Besarnya nilai anggaran bagi sebuah tim itu tidak berbanding lurus dengan prestasi yang dimiliki. Oleh karena itu persebaya ini harus tetap menjadi ikon persepakbolaan nasional, untuk itu persebaya harus meraih prestasi.”

Para bonek macam Nur Hasyim dan Wastomi Suheri, meminta pemain dan pengurus Persebaya berjuang total dalam mewujudkan prestasi tertinggi. Supaya suporter yang juga telah bekerja keras demi Persebaya, tak kecewa.

Audio: Kita ingin supaya pengurus bisa mengembalikan kekompakan tim, soalnya apa, tim tanpa kekompakan, siapapunmulai pemain yang apa,gaji besar, pemain bintang apapun gak mungkin bisa tanpa ada kekompakan tim.”

Audio: “Apapun yang terjadi, suporter minta manajemen, pengurus ini tidak setengah hati untuk urusi tim ini, harus fight. Pemain juga gitu, harus fight, karena suporter juga fight.”

Audio: Lagu Persebaya


[Petrus Riski |KBR68H]


foto: muizemo.wordpress.com

Tuesday, January 27, 2009

Berlaga dengan Dana Cekak


Kompetisi Liga Super Indonesia tahun ini dipenuhi klub sepakbola yang kekurangan dana. Sebagian besar masih menyusu pada anggaran pemerintah daerah, meski sudah dilarang Menteri Dalam Negeri. Niatnya baik, membuat klub sepakbola lebih mandiri dan professional. Tapi klub merasa perkembangan sepakbola bisa terganggu kalau tak didukung dana daerah. Reporter KBR68H Fuad Bakhtiar menampung keluh kesah klub peserta Liga Super Indonesia berikut ini.

Audio: suasana latihan bola

Melki Pekey mengumpan bola kepada Pierre Njanka. Kaki pemain asal Kamerun itu sigap menerima umpan dan mengiring bola menuju lini pertahanan lawan. Satu – dua pemain lawan berhasil ia lewati dan … Gol!!

Audio: suasana latihan bola

Tapi, tak ada skor buat Njanka dan timnya dalam pertandingan di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan sore itu. Di stadion berharga sewa 10 juta rupiah sekali pakai itu, mereka hanya berlatih rutin antar sesama pemain Persija Jakarta.

Hampir pasti, selalu saja ada para pendukung yang setia menunggui tim kesayangan mereka. Sekretaris Umum The Jakmania, G.A. Richard Supriyanto.

Audio: The Jak kepada Persija itu melebihi seperti orang bekerja loh. Rutinitasnya, setiap agenda persija main di manapun ataupun bentuknya uji coba di luar kota, tentu mereka akan berangkat. Kalau bicara musik, tentu hanya yang bisa dijangkau. Kalau ini tidak

Untuk bisa tampil seperti harapan klub dan para pendukungnya, perlu ongkos besar. Hanya untuk sewa Stadion Utama Gelora Bung Karno, Persija mesti mengeluarkan ongkos lebih dari 110 juta rupiah sekali pakai. Padahal selama pertandingan musim Liga 2008 – 2009 ini, Persija paling tidak akan menggunakan stadion itu tujuh kali. Direktur Bisnis dan Pemasaran PT. Persija Raya Soni Sumarsono mengatakan Persija masih boros, meski belum bisa mencari uang sendiri.
Audio: komposisinya mungkin yang harus dibenahi. Tidak semuanya pemain mahal, tapi di-mix dengan pemain muda yang harganya belum begitu mahal. Kalau hanya untuk pemain saja habis sekitar 1,5 miliar setiap bulan, dan 3 miliar untuk 8 kali pertandingan dalam setahun

Di musim ini, Pemerintah Jakarta sudah menyiapkan 21 miliar rupiah untuk Persija. Soni memperkirakan, Persija membutuhkan lebih dari 30 miliar rupiah untuk membayar gaji pemain, pelatih dan keperluan lain selama semusim ini.

Masih dari ibukota negara, ada Persitara Jakarta Utara. Klub ini berada dalam ajang kompetisi yang sama dengan Persija. Tapi, kondisi keuangannya jauh berbeda.

Manajer Persitara, Harry Gendhar Ruswanto menyatakan, klubnya belum bisa hidup tanpa dana dari daerah.

Audio: karena persitara ini bukanlah tim besar dan hidup di kota administratif. Tahun 2007 – 2008 sangat tergantung pada APBD karena kota administratif beda dengan kota otonom. Yang otonom itu hanya ada di provinsi, di mana semua keputusan ada di provinsi. Jadi, tanpa APBD, mungkin persitara tidak pernah akan ada di sini
Untuk musim kompetisi ini, Persitara mendapat kucuran 15 miliar rupiah dana rakyat. Kata Harry, itu masih kurang karena Persitara membutuhkan 18 miliar rupiah untuk biaya semusim.

Menurut catatan penyelenggara kompetisi Liga Super, Badan Liga Indonesia, kebanyakan klub memang kekurangan dana. Direktur Kompetisi Liga Joko Driyono menuturkan …

Audio: sebenarnya yang porsinya bagus dalam mendapatkan income dari bisnisnya ya baru arema. Tiga yang tidak mendapatkan dana apbd adalah arema, BKT Bontang dan Pelita Jaya Audio: suasana latihan bola

Kebangkrutan klub-klub Liga Super membayang karena bakal dihentikannya bantuan dana dari APBD. Peraturan Menteri Dalam Negeri atau Permendagri Nomor 59 tahun 2007 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah, melarang anggaran daerah dipakai membiayai klub sepakbola.

Saat prihatin memperhatikan kondisi keuangan ke-18 klub Liga Super, Joko berandai-andai kemandirian dan prestasi klub-klub besar di benua lain, bisa segera ia temui di tanah air.

Audio: Apa yang dilakukan klub eropa, bukan hanya tropi. Tapi untung rugi. Real Madrid tidak juara liga, tapi keuntungannya tetap tinggi. Semua pemain impor harus diperhitungkan mendatangkan pendapatan tinggi. Yang perlu dihindari jika klub merasa punya uang banyak yang tidak bersumber dari bisnis, itu akan membuat trend sepakbola menjadi dirugikan

Meski sudah banyak klub yang terlilit beban keuangan, pengamat sepakbola Tondo Widodo menilai, tak perlu ada upaya penyelamatan klub dengan mengucurkan uang negara. Larangan menteri itu akan menjadi sarana seleksi alamiah klub menjadi professional.

Audio: Jujur saja, ini namanya jor-joran. Sehingga kalau pelatih atau pemain asing mengatakan harganya 1,5 miliar, itu membuat harga pemain nasional dan local naik karena mereka tidak mau kalah. Ada persoalan lain ketika dana APBD masih digunakan untuk membiayai klub ini, terjadi hal-hal tidak benar. Ketika anda dikontrak 500 juta, tapi anda hanya menerima 250 juta. Itu tidak benar dan peristiwa ini benar terjadi. Sudah tepat kalau pemerintah menghentikan dana apbd untuk klub

Menurut Tondo Widodo, jika ada 10 klub saja yang bisa bertahan dalam liga tertinggi ini, sudah bagus.

Audio: suasana latihan bola

Tahun ini menjadi batas terakhir pemerintah daerah boleh mengucurkan dana kepada klub sepakbola peserta Liga Super Indonesia. Jadi, tidak ada cara lain bagi klub yang masih ingin berkompetisi kecuali dengan mencari uang sendiri.

Persija Jakarta berusaha percaya diri menghadapi situasi itu.

Audio: kondisi harga pasar pemain, itu yang harus kita sesuaikan dengan kemampuan pasar karena harga pemain saat ini sudah melambung sangat tinggi. Nanti tentunya membutuhkan koreksi pasar untuk mendapatkan harga yang layak

Begitulah cara Direktur Bisnis dan Keuangan Persija Sonny Soemarsono hendak membenahi pengelolaan anggaran klubnya bila kucuran dana dari APBD dihentikan.

Selain memperketat pengeluaran, kata Sonny Soemarsono, Persija juga sudah berhitung soal potensi pemasukan. Misalnya, supaya bisa memenuhi 40 persen biaya operasional klub dari hasil penjualan tiket.

Audio: trus sponsorship bisa mencapai 35 persen juga, kemudian dari merchandise dan benefit-benefit lain mencapai 30 persen. Tapi, yang pertama yang bisa kita raih dari ticketing

Sampai kini, Persija masih merugi secara bisnis. Tapi, Sonny optmistis, perusahaan sudah menyiapkan cara meraup untung, kapan pun aliran dana dari APBD Jakarta dihentikan. Apalagi, saat ini sudah ada sejumlah sponsor yang mau membiayai Persija di musim depan.

Tapi, Sonny melupakan satu hal, The Jakmania. Sekretaris Umum Persija Jakarta, G.A Richard Supriyanto menuturkan bisnis Persija akan lebih tangguh andai mau melibatkan sekitar 35 ribu pendukungnya.

Audio: kita sudah coba membangun potensi sejak tahun lalu, namun persoalannya pihak PT tidak bisa melibatkan supporter dalam mengelola merchandise Audio: suasana pertandingan Liga Super

Rekan sekota Persija, Persitara Jakarta Utara, punya persiapan sendiri. Misalnya dengan mengubah nama menjadi Batavia FC di 2009 ini. Tujuanya untuk meningkatkan ketenaran klub. Selama ini, orang lebih mengidentikkan klub sepakbola milik warga Jakarta adalah Persija dan bukan Persitara.

Manajer Persitara Harry Ruswanto mengatakan, Persitara juga berpeluang mendapatkan banyak sponsor, asalkan Pemerintah Jakarta dan Badan Liga selaku penyelenggara bisa mengubah kebijakan periklanan.
Audio: terus terang ajah, untuk mencari sponsor, kadang-kadang mereka menanyakan, saya mau mensponsori kamu berapa M, tapi saya minta reklame. Kita tidak bisa di jakarta utara minta reklame dengan ukuran sesuai kemauan sponsor. Ukuran reklame jakarta utara hanya 4 x 6 meter. Nah untuk baliho besar, semuanya ada di pemerintah provinsi.

Itu baru cara mencari pemasukan rutin bagi klub. Aturan lain yang membelit klub peserta Liga Super Indonesia yang mulai bergulira tahun lalu ini adalah aturan dari Badan Liga Indonesia. Misalnya, keharusan menyerahkan deposit minimal 5 miliar rupiah dan bisa menyediakan stadion yang aman dan nyaman.

Audio: suasana stadion

Di gelaran Liga Super edisi perdana ini, Badan Liga juga mengharuskan klub memenuhi tiga syarat lain. Yakni, mempunyai sistem yang menunjang peningkatan sportivitas pemain, berbadan hukum dan manajemen klub secara profesional, mulai dari kualitas pelatih hingga para pejabat administratifnya.

Direktur Kompetisi BLI Joko Driyono berpendapat klub tak semestinya mengeluhkan aturan itu karena itulah syarat yang bisa membuat klub menjadi professional dan mandiri.

Audio: kita akan create sedmikian rupa agar sepakbola bukan hanya sekedar beban, tapi peluang karena di sana ada bisnis. Nah karenanya lambat laut BLI sebenarnya BLI punya planning dua tahap, 2012 memperbaiki seluruh infrastruktur kompetisi, stadion dan internal BLI seperti wasit. Endingnya pada 2018, beberapa klub sudah menikmati keuntungan

Pemerhati masalah sepakbola, Tondo Widodo menilai, klub keteteran mengikuti aturan liga karena masih hidup dengan tradisi belanja, belanja, belanja. Tapi klub tak pernah bertanya, uangnya dari mana?
Audio: tapi mereka itu rata-rata berbadan tinggi besar, larinya cepat, menakutkan karena item-item hehe .. tapi tidak dapat mengangkat kualitas klub itu sendiri. Walhasil hanya membuang-buang saja. Nah itu harus dihentikan. Sampai kapanpun kompetisi BLI ini tidak akan bermuara pada pembentukan tim nasional yang baik karena kualitas para pemainnya tidak teruji karena posisi-posisi pentingnya ditempati orang asing

Tondo yakin, Liga Super Indonesia akan menumbuhkan iklim sepakbola yang profesional di negeri ini bila kucuran dana APBD dihentikan.

Selalu ada harapan jika klub mau bekerja keras dan belajar membenahi diri. Misalnya dengan mengoptimalkan prinsip-prinsip pemasaran sebuah produk. Pengamat bisnis olahraga Fritz Simanjuntak mengatakan, peluang bisnis tak cuma dari penjualan tiket, cinderamata dan penyewaan stadion serta jual beli pemain. Kata Fritz, pilihan nama yang menjual juga ikut menentukan.

Audio: Saya sarankan ubahlah nama dari sebuah persitara jakarta utara, bagian dari persija, seolah-olah. Buatlah branding. Saya ndak tahu apa yang terkenal di jakarta utara. Contohnya Los Angeles menjadi LA Lakers. Chicago bulls. Jadi namanya dijadikan branding. Audio: suasana pertandingan bola

Putaran kedua Liga Super Indonesia sudah dimulai sejak hari Sabtu lalu. Kompetisi yang bakal berakhir Juni nanti, akan menjadi arena menunjukkan jati diri, tak cuma urusan jumlah gol terbanyak dan posisi klasemen puncak, tapi juga kemampuan mengumpulkan dana untuk menghidupi diri.


[Fuad Bakhtiar | KBR68H]


foto: www.bolanova.com