Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Monday, July 4, 2011

Mainan Aman, Anak Sehat


KBR68H - Tahukah Anda bagaimana memilih mainan yang aman demi kesehatan anak Anda? Selain mengetahui mainan yang tepat sesuai usia, perlu juga diperhatikan hal-hal teknis seputar permainan tersebut, seperti penggunaan cat yang tidak beracun. Tapi soal ini, belum tentu orangtua paham. Pembuat mainan anak yang aman, Dhanang Sasongko, giat memperkenalkan ini kepada orangtua dan guru di sekolah. Tak hanya itu, ia pun ikut merumuskan standar nasional untuk permainan yang aman untuk anak. Reporter KBR68H Rifka Nur Fahma menemui Dhanang yang tengah memberikan pelatihan kepada guru dan orangtua murid.

Cerita selengkapnya di sini.

Thursday, June 23, 2011

Jujur itu Hebat


KBR68H - “Jujur itu Hebat” Slogan singkat itu tertulis di mana-mana, di sudut-sudut aula Mahkamah Konstitusi. Slogan itu diilhami keberanian seorang perempuan bernama Siami, yang mengungkap praktik kecurangan di ujian nasional sekolah anaknya yang mencontek massal. Siami lalu diusir warga karena ia berlaku jujur. Siami menyatukan orang-orang yang selama ini masih terdiam melihat ketidakjujuran. Reporter KBR68H Arin Swandari merangkum kisah Siami dan dukungan untuk kejujuran dan keberaniannya.

Cerita selengkapnya di sini.

Thursday, February 5, 2009

Bullying Terus Terjadi


Atas nama disiplin, masih banyak guru yang percaya bahwa tindak kekerasan bisa mendisiplinkan anak. Padahal sekolah adalah tempat cari ilmu, bukan tempat jadi korban kekerasan. Sekolah, mestinya, bisa memberikan rasa aman seperti rumah. Tapi alih-alih aman, anak justru bisa bonyok di tangan guru. Reporter KBR68H Rezki Hasibuan memotret secuplik fenomena guru yang menjadi pelaku kekerasan dan mencari tahu kenapa ini masih terus terjadi.

Audio: Suasana Awaluddin Korompot menampar 18 siswa

Ini adalah suara rekaman ketika Awaludin Korompot, guru SMK 3 Gorontalo, menampar 18 siswanya.

Awal mulanya begini. Awaludin tengah mengajar di kelas. Lantas ada belasan siswa yang lewat setelah belajar pengukuran kesehatan jasmani. Mereka lewat sambil bersenda gurau, Awaludin kesal karena merasa terganggu. Ia lalu keluar, membariskan ke-18 siswa tersebut dan menamparnya satu per satu.

Audio: Suasana Awaluddin Korompot menampar 18 siswa

Awaludin tak sadar kalau aksi main tampar ini direkam lewat telefon selular salah satu siswa. Rekaman itu lantas tersebar ke mana-mana, sampai akhirnya status guru Awaludin Korompot dicopot.

Sekolah adalah tempat belajar, bukan tempat unjuk kekerasan. Kenyataannya, masih banyak sekolah dengan guru-guru ringan tangan macam Awaludin Korompot.

Audio: Suasana sekolahan

Udin adalah siswa kelas 3 SD, di sebuah SD Negeri di Jakarta. Ia meminta namanya dirahasiakan, baru mau bercerita tentang kekerasan yang diterimanya. Gara-gara tak lancar membaca, dua gigi depan Udin rontok, bibir dan gusinya cedera akibat benturan.

Audio: Dijedotin ininya ke pinggir meja (gara gara apa?) bacanya pelan. Yang luka bibir sama gigi dan baham eh baham gusi.. abis itu aku ke kamar mandi kumur-kumur abis itu aku disuruh baca lagi...

Setelah kejadian itu, Udin bicara pada media. Ibu guru yang menampar, katanya akan dipindahkan. Tapi setiap hari Udin masih bertemu sang guru. Justru Udin yang dipindah, dari kelas siang ke kelas pagi, tetap di sekolah yang sama.

Audio: Suasana sekolahan

Audio: Pas lagi jam istirahat di dekat kelas gue itu ada kelas kosong gue main main di situ. Kejadian agak absurd dua langsung maen gampar gue. Gue gak tau apa-apa tapi gue takut juga akhirnya gue diam. Tampaknya dia hanya menunjukkan otoritas saja, karena setelah itu dia cerita-cerita ke murid lain dan guru lain bahwa dia sudah mukul gue dan gak diapa-apain di sekolah.

Aribowo Sangkoyo kini sudah 28 tahun. Kenang-kenangan akan masa SD yang tak terlupakan adalah ketika ia dipukul oleh si guru. Hingga kini rahangnya bermasalah akibat dipukul.

Audio: Yah akhirnya gini, sampai sekarang rahang gue masih bunyi kalau lagi mengunyah....

Audio: Suasana sekolahan

Husni, fotografer lepas, meski kini usianya sudah kepala 4, masih harus mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit. Nyeri di kepala bagian belakang kerap kumat. Dulu, semasa SMP, kepala bagian belakangnya dipukul oleh guru olahraga.

Audio: Tanpa ini, main pukul kepala saya, suasana jadi diam bahkan akibatnya bahkan dipukul kepala belakang. Akibatnya saya mengalami kunang-kunang mata selama beberapa hari. Belajar pun jadi terganggu

Cerita 18 siswa di Gorontalo, Udin di Jakarta yang terjadi sekarang rupanya tak jauh beda dengan yang dialami Bowo dan Husni bertahun silam. Ini menunjukkan, metode hukuman dengan kekerasan masih dilestarikan oleh sejumlah guru.

Pakar pengajaran dari LSM PLAN Indonesia Sudiyo menduga, sistem kekerasan ini terpengaruh gaya mendidik ala militer. Padahal yang dididik guru bukan tentara, hanya anak-anak.

Audio: Apakah dulu warisan sistem militerisasi dari Belanda dan Jepang itu kurang paham juga yah. Tapi yang juelas di sekolah-sekolah kalau mau mendisiplinkan anak yah seperti di militer. Seperti harus berbaris seperti di militer. Itu menjadikan anak gak nyaman. Dia anak akan berpikir koq saya diperlakukan seperti militer atau tentara.

PLAN Indonesia sempat melakukan penelitian soal penyebab tindak kekerasan yang terjadi di sekolah-sekolah pada 2008. Sampelnya diambil dari tiga kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta.

Hasilnya begini. Lebih 25% kekerasan di SMP dilakukan oleh guru. Lebih 20% kekerasan di sekolah tingkat SMA terjadi akibat hukuman fisik dari guru ke siswa. Jakarta ada di tempat pertama, sebagai kota dengan tindak kekerasan guru terhadap siswa yang cukup tinggi. Total, hampir separuh kekerasan yang terjadi di sekolah, pelakunya adalah guru.

Juru Bicara PLAN Indonesia Paulan Aji mengatakan, tak hanya Indonesia yang masih memelihara budaya kekerasan guru ke siswa, tapi juga Negara-negara lain.

Audio: Jangan salah, teman kita di Irlandia mengatakan pendidikan dengan model memukul biasa. Di Belanda biasa juga. Jangan-jangan kita meniru metode pendidikan masa lampau yang menggunakan stik. Di Afrika menggunakan juga di India menggunakan juga di beberapa negara asia juga masih memakai metode pendidikan dengan memukul dan mencaci

Singapura, tetangga dekat Indonesia, juga masih memelihara budaya kekerasan. Bahkan ada undang-undang yang secara resmi memuat kalau guru boleh memukul murid. Ketentuannya, guru hanya boleh memukul telapak tangan siswa laki-laki. Siswa perempuan boleh bersyukur karena mereka dilindungi dari berbagai jenis kekerasan.

Paulan Aji dari PLAN Indonesia mengingatkan, sudah ada 23 negara di dunia yang melarang segala macam bentuk hukuman fisik terhadap anak. Di Indonesia sebetulnya sudah berlaku aturan ini, lewat Undang-undang Perlindungan Anak.

Tapi kenapa masih saja terjadi kekerasan guru terhadap siswa?

Audio: Suasana sekolahan

Audio: Apalagi yang dipukul daerah kepala saya benar benar tak bisa terima. Anak saya ngalamin tuuuh, walau cuma pakai koran digulung. Tapi, anak saya malu tuh. Dia bilang khan sudah gede ngapain dipukulin lagi. Di depan teman-temannya lagi. Ini khan benar-benar tak punya perasaan gitu loooh...

Johan Romadhon tak bisa terima anak perempuannya, Maryam, dipukul kepalanya oleh guru. Ia tak habis pikir, kenapa harus ada kekerasan fisik ketika anaknya tak lancar membaca tulisan Arab.

Audio: Suasana sekolahan

Yang juga tak dihitung oleh guru adalah perasaan malu karena diperlakukan kasar di hadapan teman-temannya. Tapi Eni Komala Sari, guru SMK UISU Medan, tegas mengatakan, hukuman macam begini masih diperlukan. Kata dia, kenakalan anak-anak makin hari makin membuat jengkel.

Audio: Ya muridnya kadang kalo kita lagi menerangkan dia gosip, main HP. Di SMK kami HP gak dirazia tapi tolong di silent. Tapi gak di silent dia balas SMS ngutak atik HP. Bahkan ada yang nyanyi bersenandung. Yah terpaksa kita hukum cubit kita panggil ke depan

Karena itulah, Eni percaya, hukuman fisik masih diperlukan.

Audio: Gimana yaa sebenarnya gak mau pukul gak mau mencubit gak mau menampar. Tapi kita ngomong ke depan ini anak bakal jadi orang-orang yang berguna. Apalagi anakl sekaang luar biasa kurang ajarnya luar biasa tak beretikanya. Jadi mau tak mau harus fisik

Audio: Suasana sekolahan

Eni Komala menyesalkan langkah SMK 3 Gorontalo yang mencopot guru Awaludin Korompot karena menampar 18 siswanya. Eni dan sejumlah guru berniat melakukan unjuk rasa ke kantor DPRD Sumatera Utara. Mereka meminta supaya guru tak diberi sanksi jika member hukuman kepada siswa.

Audio: Kami herannya kenapa hukum ini selalu memanjakan orang tua dan murid, jadi kami guru ini buat apa. Kita mau diatur murid atau kita mengatur murid. Kalau kita diatur murid mau jadi apa anak itu ke depan. Orang tua mengirim anak ke sekolah untuk dapat ilmu khan. Kalau gak mau dapat ilmu otomatis hukuman yang kita kasih.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia PGRI Sulistiyo sependapat dengan Eni Komala. Sulistyo menekankan, ada perbedaan antara hukuman fisik yang dilakukan guru dengan penganiayaan yang dilakukan penjahat.

Audio: Guru kalau terpaksa harus menghukum ini sebenarnya berniat agar kenakalan anak itu tak berlarut-larut. Hukuman dalam pendidikan diperbolehkan. Ketika guru bermasalah karena hukuman jangan disamakan dengan penganiayaan yang dilakukan oleh penjahat. Hukuman guru bernilai pendidikan beda dengan apa yang dilakukan penjahat kepada kita.

Audio: Suasana Awaluddin Korompot menampar 18 siswa

Audio: Pas lagi jam istirahat di dekat kelas gue itu ada kelas kosong gue main main di situ. Kejadian agak absurd dua langsung maen gampar gue.

Audio: Tanpa ini main pukul kepala saya, suasana jadi diam bahkan akibatnya bahkan dipukul kepala belakang.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi jelas tak sepaham. Bagi Seto, mendidik pasti bisa dilakukan tanpa memasukkan unsur kekerasan.

Audio: Memang harus siakui ini fenomena gunung es. Kekerasan terhadap anak yang dilakukan guru atau pendidik ini keliru. Ini karena masih kuatnya paradigma keliru dalam mendidik. Mereka pikir untuk membuat anak disiplin itu perlu unsur kekerasan

Kak Seto mengatakan, anak bisa disiplin jika mereka senang dengan metode pengajaran yang ditawarkan guru.

Audio: Iya mungkin dengan pemahaman sebagai berikut. Belajar yang efektif adalah belajar yang menyenangkan. Coba dengar pendapat dari shinizi suzuki. Pakailah cara mengajar dengan belajar kepada ibu. Anak-anak gampang belajar dengan bahasa ibunya karena mengajarnay dengan penuh kasih sayang. Akhirnya belajar nya menyenangkan sehingga bisa menguasai pelajaran dengan cepat

Anak-anak, kata Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi, adalah peniru yang baik. Aribowo Sangkoyo, 28 tahun, yang dulu pernah dipukul guru, percaya itu.

Audio: eeeh salah satu dampak gue pernah dikerasin oleh guru waktu kecil , gue jadinya biasa melihat kekerasan sekarang ini ( ini semua karena perisitiwa itu?) gue sih curiganya itu tuh salahs atu faktornya itu. Soalnya kalau anak kecil mengalami peristiwa seperti itu ingat sampai gede

Audio: Iya karena anak-anak adalah peniru yang terbaik. Murid kencing berdiri guru kencing berlari. Jadi kalau anak-anak sekarang tawuran mohon dicatat ada faktor oknum guru disana. Ada guru yang merusak citra pendidik dengan kekerasan dan anak menirunya lebih dahsyat lagi...

Audio: Suasana tawuran

Pakar psikologi remaja dan anak-anak dari Universitas Indonesia Vera Italibiana meminta guru lebih kreatif mencari metode baru untuk mengajar, demi menjauhkan diri dari kekerasan.

Audio: Hukuman dalam bentuk fisik itu sangat tak dianjurkan karena dalam satu sisi akan menyakiti anak dan tak berpengaruh apapun bagi pembentuka n perilaku anak. karena sia anak Cuma sakit, diingatnya terus dan parahnya si anak menajdi terbiasa dan menganggap kekerasans ebagai salahs atu cara menyelesaikan masalah

Audio: Suasana sekolah


[Rezki Hasibuan | KBR68H]


foto: www.indyra.wordpress.com

Wednesday, February 4, 2009

Anak Belajar Perbedaan


Indonesia adalah keberagaman. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tapi tetap satu, tak bisa begitu saja terwujud tanpa adanya kesadaran soal perbedaan dan keberagaman. Salah satu cara menumbuhkan kesadaran akan perbedaan adalah lewat pendidikan, seperti yang dilakukan di Sanggar Kreativitas Anak, bagi anak-anak jalanan. Reporter KBR68H Anto Sidharta melongok pelajaran soal perbedaan di kelas kecil itu.

Audio: (Suasana) Tetap satu bangsa? Bangsa apa? Bangsa indoensia…ada suku apa saja yah..? aceh, bali, ambon…semua ada di negara Idonesia…tetap satu bangsa…

Belasan anak kelas 1 SD di daerah Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, sigap mengacungkan jari. Mereka ingin segera menjawab pertanyaan yang diajuan guru atau kakak pendidik.

Audio: Ada medan, ada jawa…jadi gak boleh saling ngejek…Jadi ngak boleh saling ngejek..tuti matanya kecil, boleh gak ngejek-ngejek, eh sipit-sipit? Gak boleh…angel belo-belo boleh gak? Gak boleh…karena semua ciptaan? Allah… Audio (menyanyi): Dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau..sambung menyambung menajdi satu, itulah indonesia….

Ini bukan di sekolah, tapi di sebuah rumah kontrakan sederhana. Ruang tempat mereka belajar sempit, hanya ukuran 3x3 meter. Ada sepuluh meja dan kursi kecil disediakan untuk anak-anak ini. Ruangan yang agak pengap tertolong dengan kehadiran sebuah kipas angin.

Audio: (suasana) Ada agama apa di Indonesia? Hindu.kristen…islam…budha… Idul fitri,…natal.. Gereja…pura…

Di ruang kelas berinding biru kusam itulah anak-anak belajar soal perbedaan: suku, agama, ras dan golongan.

Audio: Boleh gak saling ngejek? Kamu khan orang Kristen gak boleh main sama aku? Gak boleh. Kayak Angel kita harus hormati…jadi harus berteman, saling sayang

Audio: Harus saling? Menyayangiii…siapa yang sayang temannya? Sayaaa…


Anak-anak ini ada di bawah asuhan organisasi Anak Jalanan Indonesia, ISCO. Hari itu mereka tengah belajar soal perbedaan, dengan judul materi ‘Berdamai dalam Perbedaan’. Ini materi yang cukup berat bagi anak-anak kecil. Karena itulah, digunakan media gambar serta nasihat, kata salah satu pendidik, Siti Khodijah.

Audio: Ngasih ceramah dulu, baru media gambar. Tadi tk jadi ngasih arahan biar paham, apasih yang akan dikejakan pada dia sebelum ke gambar. Kita jelasin agama apa aja. Kola da ras, keriting, rambut lurus, ada yang sipit emang ada wujudnya yah aslinya..seperti ini nih..

Salah satu gambar yang biasa dipakai untuk mewakili perbedaan adalah pelangi.

Audio: Jadi seperti apa? Pelangiii..yang apa? Banyak warna jadi indah..siapa yang mau jadi pelangi? Sayaaa..Pelangi Indah tidak? Indaahh…

Audio: Siapa yang mau bikin pelangi? Sayaa…pake krayon..bisaaa gak dibuatin..jelek tapi hasil karya sendirii…

Anak-anak mulai menggambar pelangi seperti cotoh yang digambarkan kakak pendidik. Sesudahnya, mereka bersama-sama menyanyikan lagu ‘Pelangi’.
Audio: Pelangi-pelangi alahkah indahmu…merah kuning hijau di langit yang biru. Pelukismu agung siapa gerangan? Pelangi2 ciptaan tuhan.

Selain teori di dalam kelas, anak-anak juga diajak ke lapangan untuk melihat bagaimana perbedaan ada di tengah kehidupan sehari-hari. Rita Handayani, penanggung jawab program ISCO di Cipinang.

Audio: Kenapa harus beda sih gambar mesjid dengan gereja, kenapa mesjid ada kubahnya? biasanya langsung kita cari mesjid atau gereja deket sini nah anak2 kunjungan. Masuk nanya sama orang yang ada di situ. Lalu dibahas apa yang udah kalian dapatkan saat naya ke pendeta, ustad, biksunya..

Selain lewat materi khusus, pelajaran ini juga diselipkan di pelajaran lain, seperti matematika.

Audio: Klo perbedaan pada matematika di bilangan2. akdang merka suka mengambar, gambnar orang. Kadanag anak bingung juga. Itu kak , 2 laki2,. Terus ini apa? Dua perempuan. Khan ada perbedaan gamabrnya..

Pelajaran apa pun yang tengah dibahas, materi perbedaan selalu diulang, supaya tertanam di benak setiap anak. Siti Khodijah, salah satu pendidik di ISCO.

Audio: Ada tahapan-tahapannya. Gak hanya dalam saat itu. Karena anak cepet lupa. Ada tahapan2 lanjutan, jadi gak pas hari ini ajah. Karena mereka juga dalam setiap hari ada nilai2 yang dipelajari dia.

Supaya materi ini betul-betul sampai, orangtua ikut dilibatkan. Jumira, salah satu orangtua murid.

Audio: Ke orang ramah tamah ke orang islam, hindu, atau agama lain lah. Gak boleh beda2in. agama sama ajah, cuma caranya lain-lain.

Apa pentingnya mengajarkan perbedaan sejak dini?

ISCo adalah lembaga yang menampung anak-anak jalanan. Kehidupan anak jalanan membuat mereka melulu bersinggungan dengan kelompok lain. Perbedaan, kata Manajer ISCO Jakarta, Marryah, jadi makanan mereka sehari-hari. Tapi perbedaan seringkali membuat masyarakat terkotak-kotak.

Audio: ISCO kan melihat ada perbedaan di setiap anak. Contoh perbedaan orang atas dan bawah, nanti melebar ke keadaan anak. Misalnya anak yang hidup di tempat kumuh gambaran fisiknya jorok, beda dengan yang di komplek mungkin lebih bersih…

Audio: Yang membuat ada perbedan ada masy dan org2 ttt yang menjadikan kotak. Semua manusia sama, tapi dalam komunitas mana ada kotak, ini jawa, sunda.

Karena itulah, nilai hidup bermasyarakatan jadi penekanan di Sanggar Kreativitas Anak, kata Rita Handayani, penanggung jawab program ISCO di Cipinang.
Audio: Kita ada modulnya. Namanya Sos. Jadi disitu diajarkan semua perbedaan, walau semua beda, kita tetep warga Indonesia! anak ISCO.

Selain soal perbedaan, nilai-nilai lain secara bergiliran dijadikan materi pelajaran. Misalnya, penghargaan dan hormat, toleransi, kerjasama, yang disajikan per bulan. Para pendidik di ISCO berpendapat, ini adalah nilai dasar yang sangat minim diajarkan di sekolah dan keluarga, terutama dari kalangan yang kurang mampu. Rara dan Siti Khodijah, pendidik di Sanggar Kreativitas Anak.

Audio: Belum tentu ini diajarkan di rumah mereka, melihat ekonomi dan orang tua mereka. Kita harapkan ini lebih baik lagi… Audio: Kesadaran ortu untuk pendidikan kurang klo kebersamaan merka lebih solid. Karna di tempat tiggal mereka ada non muslim dan mereka menghargai juga.

Teori di kelas tidak akan ada artinya kalau tidak diterapkan sehari-hari oleh anak-anak ini. Ainun dan Istri yang masih SD, serta Pipit dan Ratih yang duduk di bangku SMP berbagi pemahaman mereka soal apa itu perbedaan.
Audio: Sama-sama manusia. Ngajak main gak? Ngajak. Seneng diajarin beda agama? seneng Ada orang Kristen, namanya jesica. Suka main sama dia? suka. Main ayunan di sekolahan.

Audio: Gak milih2 temen karena semua suku bangsa sama. Bisa saling berkenalan walau beda agama dan suku.

Audio: Kita gak boleh menghina temen walau kita gak sama agama…

Sikap positif ini juga harus dibawa sampai ke lingkungan rumah dan keluarga. Jumirah dan Karyati sudah membuktikan perubahan sikap anak-anak mereka.
Audio: Alhamdulilah gak dibeda2 kan. Jangan milih orang lain dia agama Kristen, islam, agama lain2, biarin sama ajah
Audio: Bedaain gak? Gak beda2in. sama ajah sih, bareng2 mau..

Perbedaan adalah kekayaan yang harus dihormati. Manajer ISCO Jakarta Marryah mengatakan, nilai ini mesti terus ditanamkan sejak dini, sebagai tameng untuk menjaga keberagaman di tanah air.

Audio: Kita berangkat ke fisik manusia, misalnya orang negro dan Indonesia. Tapi ita lihat persamaan. Ramuan yang kita sajian pada akhirnya dia yang memilih. Ah kita gak cocok dengan orang cina karna kecederungan seperti ini. Tapi pada akhirnya apa pun yang dia lihat dia tidak menajdi pemicu perbedaan.

Audio: menyanyi 'Dari Sabang sampai Merauke'

[Anto Sidharta | KBR68H]


foto: iscofoundation.org

Tuesday, February 3, 2009

Taman Baca Gratis


Di negeri ini, buku masih barang mahal. Akibatnya, angka buta aksara pun ikut tinggi. Hingga Agustus 2008 saja, masih ada 11.8 juta penduduk Indonesia yang tak bisa baca. Makin mahalnya harga buku membuat akses terhadap buku makin sulit. Di tengah kondisi sulit seperti ini, kehadiran taman bacaan gratis menjadi berkah. Wawasan bisa diperluas tanpa keluar uang. Reporter KBR68H Mustakim berkunjung ke sejumlah taman bacaan di Jakarta.

Audio: Suasana Manggarai

Kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, adalah daerah padat penduduk. Rumah penduduk tampak berhimpit dan berjejal. Setengah jam saya mencari di mana Taman Bacaan Zhaffa, melewati sejumlah gang sempit yang dipenuhi warga yang beraktivititas.

Taman Bacaan ini menempati sebuah rumah mungil. Di depannya, tak ada plang penanda apa pun. Tapi Anda akan tahu kalau Anda tidak tersesat jika melihat apa yang ada di teras. Di sana banyak rak, masing-masing disesaki buku. Tampak puluhan anak usia 6 sampai 13 tahun yang bergerombol, semuanya asik membaca.

Audio: Suasana taman baca zaffa

Berawal dari keprihatinan, Yudi Hartanto mendirikan Taman Bacaan Zhaffa pada Agustus 2008.

Audio: Alasannya sederhana untuk menyediakan akses bacaan gratis kepada lingkungan terutama mungkin rasa sosial saya kepada masyarakat dan rasa kepedulian kami di lingkungan untuk menyediakan taman bacaan gratis ini.

Di lingkungan sekitar Yudi masih banyak warga yang tak bisa baca karena tak mampu beli buku.

Audio: Sampai saat ini memang di lingkungan mangarai memang menengah ke bawah lebih banyak lagi menengah ke bawah mereka yang pinjam buku anak-anak, yang putus sekolah ga hanya dari lingkungan manggarai tempat menara air tapi juga dari kampung lain memang dari ekonomi ke bawah

Audio: Suasana taman baca zaffa

Latifah mengaku sering datang ke Taman Bacaan Zhaffa, sejak taman baca gratis ini berdiri. Menurut siswa kelas VI SD ini, dalam seminggu, ia bisa 3 sampai 4 kali ke sana. Sebelum ada rumah baca, Latifah sangat jarang baca buku karena nyaris tak pernah beli buku. Maklum, gaji orangtua Latifah pas-pasan. Membeli buku tak pernah masuk daftar belanja.

Audio: Rumah baca ini bisa dulu ga suka baca semenjak ada rumah baca ini bisa lebih giat baca karena lebih enak udah gitu lebih dekat rumahnya
Airina Mukhlas memuaskan keinginannya membaca komik di Taman Bacaan Zhaffa.

Audio: Kadang-kadang doraemon, detektif conan komik banyak. kadang-kadang buku pelajaran, pelajaran banyak deh

Audio: Suasana taman baca kwartet

Taman bacaan yang tak kalah ramai ada di Cibubur, Jakarta Timur. Namanya Taman Baca Kwartet. Di sini, buku-buku tertata rapi. Serambi tempat rak buku berada berukuran cukup luas, sekitar 5x6 meter. Di sana ada juga ruang baca khusus. Serupa dengan Zhaffa, Taman Baca Kwartet ini juga memanfaatkan rumah pribadi.

Salah satu pendiri, Edi Dimyati mengatakan, taman baca ini buka tiap hari, dari pukul 10 pagi sampai 5 sore. Pustakawan di salah satu penerbit besar ini mengatakan, sebagian besar pengunjungnya adalah anak-anak.

Audio: Prosentase kebanyakan anak-anak sd, kemudian smp dan sma. selain itu orang dewasa juga ikut membaca di kwartet

Audio: Suasana taman baca kwartet

Akhmad Saikhu hampir tiap hari datang ke sana. Siswa kelas 1 MP ini mengaku lebih betah di Taman Baca Kwartet ketimbang di perpustakaan sekolah karena koleksi bukunya yang lebih lengkap dan suasananya lebih santai.

Audio: Juga lebih senang membaca buku karena banyak yang mengatakan buku itu sumber ilmu jadi kalau kita rajin membaca antara lain kita jadi tahu isi buku itu apa apalagi buku itu buku pengetahuan jadi ga hanya disekolahan doang kita bisa tahu pengetahuan disini kita juga bisa tahu

Kehadiran Taman Baca Kwartet, bagi Syahbani Ali, siswa kelas 5 SD adalah pemicu utama dia suka membaca.

Audio: Setelah ada kwartet aja jadi suka baca. dulu kurang baca karena bosen ga ada yang bisa dibaca selain buku pelajaran sama komik

Tak hanya anak-anak yang meramaikan Taman Baca Kwartet. Ada juga penjual mi ayam asal Purwokerto, Jawa Tengah, namanya Ratno. Tiap hari ia menyempatkan mampir ke taman baca ini. Sembari jualan, satu-dua jam disisihkan untuk membaca. Lulusan SMP ini mengaku senang dengan kehadiran Taman Baca Kwartet karena dengan begitu ia bisa baca tanpa keluar uang.

Audio: Dulu aku gemar membaca cuman ga ada buku-buku kalaupun ada harus cari dengan sistem sewa alhamdulillah disini ada buku yang bisa dibaca dengan lengkap dan gratis juga bisa dipinjam

Audio: Masalah perekonomian yang jelas keterbatasan duit kalau untuk beli buku paling pinjam temen itu aja buku yang sederhana kalau di kwartet berbagai macem jenis buku ada kita bisa memilih dengan leluasa bisa mempelajari apa yang kita inginkan semuanya ada di kwartet
Audio: Suasana taman baca kwartet

Taman bacaan gratis jadi surga bagi mereka yang haus pengetahuan tapi duit cekak. Dari anak-anak sampai orang dewasa bisa memanfaatkan buku-buku yang tersedia di taman bacaan. Taman Baca Zhaffa dan Kwartet hanya sebagian kecil, masih banyak taman baca lain tersebar di penjuru Jakarta. Seperti apa riuhnya dunia taman baca di ibukota? Simak laporannya setelah jeda.
Audio: Suasana di taman baca

Sejak 2005, taman bacaan mulai marak di Jakarta, juga di Indonesia. Seribu Satu Buku, sebuah komunitas taman bacaan, mencatat, di Jakarta saja ada seratus lebih taman bacaan. Di seluruh Indonesia, ada lebih dari 200 taman bacaan.

Ketua Komunitas Seribu Satu Buku Agus Rahmat mengatakan, taman bacaan dimaksudkan untuk menyediakan sarana baca buku bagi mereka yang kurang mampu.

Audio: Mereka sebenarnya berangkat dari kondisi masyarakat sekitar awalnya justru melihat dari karena buku mahal aksesnya ke toko buku susah jadi mereka mengusahakan bikin taman bacaan gratis agar mereka bisa baca

Agus yakin, sebenarnya minat baca masyarakat Indonesia tinggi. Sayang, aksesnya terbatas lantaran harga buku yang selangit.

Audio: Kita percaya minat baca anak-anak karena konsen ke anak-anak itu tinggi yang rendah adalah akses terhadap bahan bacaan kita tidak percaya kalau minat baca anak atau orang Indonesia itu rendah kita percaya minat baca itu tinggi itu bisa dilihat yang paling simple di ruang tunggu apapun yang ada disitu dibaca entah itu koran tahun 2006 atau majalah yang sudah lecek mereka masih mau baca
Yudi Hartanto sepakat. Pendiri Taman Bacaan Zhaffa ini mengaku sengaja mendirikan taman bacaannya demi bisa menyediakan buku secara gratis. Apalagi, taman baca ini ada di tengah daerah padat penduduk yang sebagian besar kurang mampu. Membeli buku sama sekali tak masuk prioritas mereka, kata Yudi.

Audio: Kalau menurut saya akses bacaan ini kan jauh dari masyarakat kita bisa lihat yang beli buku jarang karena buku mahal buku sekolah ganti-ganti itu yang membuat mereka berfikir untuk beli buku mereka masih berfikir urusan perut mereka masih berfikir sembako lebih mereka butuhkan dibanding buku alasan akses bacaan kurangya seperti itu untuk itu kita dari taman bacaan zhaffa menyediakan akses bacaan yang lebih dekat kepada masyarakat dan menggratiskan jadi kita ibaratnya merasa terpanggil memang buku itu mahal tapi supaya mereka tetap bisa baca salah satunya kita harus menyediakan buku bacaan di rumah baca ini

Akses adalah kata kunci di balik berdirinya taman bacaan. Mereka yang punya koleksi buku berlebih, didorong untuk menyumbangkan buku demi taman bacaan. Supaya akses terhadap buku bisa lebih luas lagi. Empat orang di balik Taman Bacaan Kwartet patungan uang dan buku untuk mendirikan tempat ini. Pendiri Kwartet Edi Dimyati

Audio: Awalnya dari kegelisahan temen-temen mereka gemar membaca terus suka mengkoleksi buku pada akhirnya punya niatan dan ide bikin sebuah tempat dimana buku koleksi pribadinya dimanfaatkan untuk orang lain selain dibaca sendiri kita dari beberapa pendiri patungan dari kocek masing-masing untuk mendirikan rumah baca ini jadi awalnya biaya pribadi sampai pada akhirnya resmi berdiri rumah baca kwartet pada 6 agustus 2005

Berkat patungan dan menampung sumbangan dari kawan sampai penerbit buku, koleksi di Taman Baca Kwartet kini mencapai empat ribu buku. Mulai dari tabloid, komik, buku pelajaran hingga ensiklopedi; lengkap.

Audio: Kebanyakan sih fiksi jadi buku-buku hiburan karena anak-anak kebanyakan sukanya komik sebenarnya sih ga papa dibanyakain koleksi komik karena untuk merangsang anak-anak datang kesini dan membaca disini juga ada buku ensiklopedi, atau monograf yang lain kaya kamus segala macem dan yang lain non fiksi tapi perbandingan untuk fiksi dan non fiksi 75:25, 75 persen untuk fiksi

Audio: Suasana anak-anak di taman baca

Anak-anak adalah sasaran utama taman bacaan. Anak mesti dibiasakan membaca untuk membuka wawasan. Demi menggaet minat anak-anak, Taman Bacaan Kwartet melengkapi diri dengan berbagai permainan yang merangsang kreativitas anak. Misalnya mengajari anak-anak bermain sulap. Sesekali, kata Edy, Taman Baca Kwartet juga mengajak anak-anak pergi ke tempat yang punya nilai sejarah dan pengetahuan tinggi.

Audio: Selain membaca kita secara rutin mengadakan acara yang berhubungan dengan kreatitifas kita bikin kerajinan, menggambar dengan jari kemarin kita berkujung ke bi atas undangan bi untuk rumah baca perkenalan museumnya terus kita juga ke museum gajah dan museum sejarah nasional yang di monas terus nonton bareng kalau misalnya ga ada acara kita kumpul ngobrol main tebak-tebakan untuk menjaga ikatan emosional dengan anak-anak jangan sampai putus

Di Taman Baca Zhaffa, anak-anak juga jadi sasaran utama. Di sana, kerap dihelat acara bermain bersama atau nonton bareng film-film yang bermuatan pendidikan, kata pendiri Zhaffa, Yudi Hartanto. Tujuannya supaya membuat anak makin tertarik berada di taman bacaan dan membaca buku. Misalnya nonton film Laskar Pelangi dan kisah para nabi.

Audio: Suasana saat menonton film

Selain nonton film, anak-anak juga kerap diajak bermain. Kembali Yudi.

Audio: Selain baca dan pinjam buku kita melaksanakan kegiatan seperti bimbingan belajar atau origami atau nonton film bareng atau kita bisa beredukasi dan lain-lain untuk yang remaja kita mau mengadakan pelatihan sablon untuk mereka jadi itu kegiatan selain baca dan pinjam buku

Audio: Suasana di sekitar taman bacaan

Antusiasme masyarakat terhadap taman baca gratis ini sangat tinggi. Yudi dari Taman Bacaan Zhaffa sampai kewalahan melayani pengunjung. Sampai akhirnya Zhaffa membatasi jam buka taman bacaan menjadi hanya sore hari.

Audio: Awalnya ga dijam-jamin artinya ga dijadwal buka jam empat sampai malam kita buka tiap hari pokoknya full dari pagi ternyata karena dibuka seperti itu di rumah saya masih sama keluarga kewalahan makanya dikasih jadwal jam empat aja kita buka setelah jam empat itupun sudah banyak yang antri untuk datang ke rumah kita sangat antusias mereka datang ke tempat kita setiap hari pasti ada

Audio: Suasana di taman bacaan Zhaffa yang ramai itu

Saat ini di Jakarta sudah ada 100-an taman baca gratis. Di seluruh Indonesia, baru ada 200-an. Ini tentu jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang lebih 220 juta orang. Harga buku yang terus naik membuat orang enggan membeli buku.

Idealnya, ada lebih banyak lagi taman baca gratis. Di angan-angan Agus Rahmat dari Komunitas Seribu Satu Buku, satu taman bacaan di tiap RT.

Audio: Kalau impian kita sebenarnya satu rt satu taman bacaan paling tidak untuk di jakarta karena selama ini di tingkat kelurahan ada taman bacaan masyarakat yang dikelola oleh pkk atau kelurahan tapi menurut kita aksesnya agak terbatas karena terkait dengan jam kantor terus kadang sabtu minggu tutup jadi idealnya menurut kita satu rt satu taman bacaan

Audio: Suasana taman bacaan

Bayangkan kalau cita-cita itu tercapai. Betapa membaca buku tak lagi terhalang kondisi ekonomi, betapa luasnya wawasan yang bisa diselami setiap orang.
Audio: Suasana taman bacaan

[Mustakim | KBR68H]


foto: http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com/

Friday, January 23, 2009

Gebrak Malaria ala Banjarnegara


Kalau mau berguru soal malaria, datanglah ke Banjarnegara, Jawa Tengah. Warga dan pemerintah daerah setempat sudah membuktikan kalau malaria bisa dilawan dengan beragam jurus. Banjarnegara yang duluna sarang malaria, kini angka kasus malaria hampir nol. Kuncinya adalah bersama-sama menjalankan program ‘Gebrak Malaria’. Sambil menikmati salak manis khas Banjarnegara, Reporter KBR68H Humto Jaya Marbun berguru ilmu tangkal malaria di sana.

Audio: Suasana Desa Limbangan Banjarnegara

Banjarnegara, Jawa Tengah dikenal sebagai sarang malaria. Itu dulu. Sekarang, kondisinya berubah total.

Misalnya Desa Limbangan, Madukara, sudah dua tahun ini sejak 2007 lalu, bersih dari catatan penyakit malaria. Lembar buram malaria di Limbangan terjadi pada 2003 silam, saat 20-an warga dari 80 Kepala Keluarga terserang malaria. Ketika itu, di penjuru Banjarnegara, ribuan orang juga terkena malaria. Karena itu, dua tahun tanpa malaria, bagi Kepala Desa Limbangan Turjono, adalah prestasi. Tahun 2003, ada 20-an orang dinyatakan malaria, sementara tahun 2006, hanya ada satu kasus.

Ini hasil kerja keras seluruh warga desa, kata Turjono.

Audio: Dulu, memang tahun 2003, Desa Limbangan salah satu desa basis malaria. Banyak sekali yang kena malaria. Sampai akhir Desember 2003 ada 20-an orang kena malaria.

Penyebab malaria di Desa Limbangan adalah perkampungan kumuh dan kebun salak milik warga. Sejauh mata memandang di Limbangan, hamparan perkebunan salak tampak jelas. Tak ada yang salah dengan memiliki kebun salak. Tapi yang jadi gara-gara malaria adalah kebun tak dilengkapi system irigasi yang baik, sehingga air menggenang. Ini jadi lokasi empuk bagi nyamuk aedes agyptie bertelur.

Audio: Setelah ditemukan malaria, bersama Dinas Kesehatan, untuk upayakan penurunan. Akhirnya, 2004 menurun, 2005- sampai sekarang tidak ada kasus. Tidak ada yang meninggal. Tapi dirawat intensif di rumah sakit. Selainnya dirawat JMD.

Perlahan, Turjono mengajak warga berperang melawan malaria. Sasaran pertama adalah kebun salak, supaya tak lagi jadi sarang nyamuk.

Audio: Dulu, memang pemukiman di sini kumuh dan karena banyak tanaman salak jadi sarang nyamuk.

Kebun salak yang ditanam tanpa aturan membuat nyamuk berkembang biak di Limbangan. Jarak pohon per pohon tidak diperhatikan sehingga warga tidak sadar perkebunan mereka sudah menjadi sarang nyamuk. Saking banyaknya pohon salak, sulit menembus perkebunan untuk membersihkannya secara rutin. Kebun salak diurus hanya pas panen saja.

Jalan tengahnya, Turjono meminta warganya mengurangi penanaman pohon salak demi merenggangkan jarak antar pohon. Dengan begitu, jadi lebih mudah untuk merapikan bagian dalam kebun. Menghalau sarang nyamuk yang mungkin ada.

Audio: Suasana Desa Limbangan

Setelah rampung dengan kebun salak, perang melawan malaria dilanjutkan dengan membangun Pos Malaria Desa atau PMD. Di Desa Limbangan dibangun tiga pos, masing-masing diisi lima orang. Mereka disebut sebagai Juru dan Kader Malaria Desa.

Audio: Kita kerja sama dengan para kader malaria. Kita bikin pos malaria desa di tiga titik. Setiap pos ada kader sukarela. Masyarakat yang kena malaria, ada gejalanya ambil darahnya di PMD. Ditempati kader-kader malaria.
Apa beda Juru Malaria Desa, JMD, dengan Kader Malaria Desa?

Audio: JMD dari Puskemas. PTT. Tapi kalau kader dari desa yang tidak ada bayarannya. Tugas kader: beri penyuluhan, ambil darah orang yang kena gejala. Beri obat yang positif terkena malaria. Kalau tiga hari belum sembuh dirujuk ke rumah sakit.

Suparni adalah salah satu Kader Malaria Desa. Tanpa digaji, Suparni sukarela memeriksa orang, terutama anak-anak, yang dicurigai terserang malaria. Honor baru ada kalau mengikuti pelatihan yang digelar Dinas Kesehatan Banjarnegara. Sayang, tidak banyak yang berminat menjadi kader malaria.

Audio: Tidak pakai pendaftaran. Ditunjuk. Sukar. Susah. Kayak gajian. Masih banyak belum sadar diri. Honor tidak ada. Tapi kalau ada pelatihan ada dikasih duit honor.

Sebagai kader malaria, ada saja halangan yang dihadapi. Salah satu yang paling sulit adalah mengecek malaria di keluarga kaya. Kata Suparni, mereka gengsi kalau dinyatakan positif malaria.

Audio: Dikatakan susah, nggak susah. Dikatakan mudah, enggak. Umpamanya, kalau ada yang sakit orang kaya atau pintar, agak takut. Paling saya bilang ke kader lain, itu mungkin malaria. Orang kaya atau orang pintar itu gengsi kalau ada anggota keluarganya yang kena malaria.
Audio: Suasana SD Limbangan

Anak-anak pun dilibatkan dalam aksi memberantas malaria, yaitu lewat dokter cilik. Datang saja ke SD Limbangan kalau curiga kena malaria. Di Unit Kesehatan Sekolah, UKS, ada Atun, Isna dan Firda, siswa kelas 5 SD, yang siap menyambut. Ada juga Andre dan Dini yang sudah kelas 6. Di UKS, mereka belajar tentang berbagai macam penyakit, termasuk malaria. Dari sini pula mereka belajar soal pentingnya hidup sehat, langkah awal melawan malaria.

Audio: Mengajak teman untuk hidup sehat, contohnya membersihkan lingkungan sekolah dan pribadi meliputi badan, menggosok gigi, memotong kuku, bersih pakaian dan makanan.

Mereka berlima seperti dokter. Setiap teman yang datang ke Klinik UKS akan diperiksa. Jika sepintas terlihat tanda-tanda malaria, maka mereka mengambil sampel darah. Kecil-kecil begini, mereka sudah bisa menyuntik untuk ambil darah lho. Darah itu kemudian diserahkan kepada Juru Malaria Desa unuk diperiksa lebih detil.

Audio: Di UKS berlima. Pagi belajar seperti biasa. Pelajaran selesai dulu baru ke uks. Yang ngajari ibu guru. Diajari soal TBC, demam berdarah, influenza, malaria. Tetangga saya pernah kena malaria. Trus diambil darahnya untuk dilaporkan ke JMD.

Bersama Juru Malaria Desa, dokter cilik ini jadi pertolongan pertama bagi masyarakat, kata Nurhayati, guru Dini dan kawan-kawan.
Audio: Dokter kecil dibantu JMD. Kalau dokter kecil menemukan kasus maka akan melapor ke JMD untuk selanjutnya dirujuk ke Puskesmas.

Ini baru sekelumit program Gebrak Malaria Desa yang dicanangkan pada 2003 lalu oleh Pemerintah Daerah Banjarnegara. Apalagi langkah yang dilakukan Pemda setempat?
Audio: Lagu Jawa

Malaria adalah sejarah kelam bagi Desa Limbangan, Banjarnegara, Jawa Tengah. Pada 2003 lalu, malaria menyerbu Banjarnegara. Lebih dari 200 desa di sana terjangkit penyakit ini, korban mencapai 10 ribu orang. Rumah sakit tak sanggup menampung pasien malaria yang membludak, apalagi Puskesmas yang kapasitasnya terbatas.

Audio: Lagu Jawa

Panglima perang dimainkan langsung oleh Bupati Banjarnegara, Djasri. Beberapa program dirancang demi menghilangkan malaria dari bumi Banjarnegara.

Gerakan Jumat Bersih digalakkan. Siswa sekolah hingga pegawai kantor pemerintah diwajibkan ikut bersih-bersih setiap Jumat pagi hingga jelang tengah hari. Anggaran daerah pun dialokasikan untuk penanganan malaria. Mulai dari beli obat, penyuluhan juru dan kader malaria sampai pengasapan lingkungan rumah serta kebun salak milik warga. Tujuannya satu: menyingkirkan nyamuk aedes agyptie penyebab malaria.

Audio: Inilah kiprah Kabupaten Banjarnegara yang tahun 2003 puncak kasus. Ribuan rakyat saya terkena malaria. Kemudian kita sepakat perang malaria. Namanya perang habis-habisan. Dari siswa sampai masyarakat terlibat. Kerja bakti terus menerus membersihkan lingkungan. Apbd juga mendampingi gebrak malaria.

Audio: Suasana SD Limbangan

Kesadaran terhadap malaria ini harus terus dipupuk dan diteruskan antar generasi, supaya Banjarnegara tak perlu lagi membuka lembar kelam malaria. Karena itulah anak-anak sekolah jadi sasaran kampanye yang tepat.

Salah satunya dengan menerbitkan buku malaria. Buku umum berukuran sedang ini berisi pengenalan dan upaya pengendalian malaria di Banjarnegara. Buku berisi kiat-kiat terhindar dari malaria. Termasuk cara-cara pertolongan pertama terhadap penderita malaria. Sejak 2008, juga ada Jurusan Malarologi di Kampus Politeknik Banjaregara, khusus belajar soal malaria di Banjarnegara.

Audio: Sehingga pelajaran yang mahal ini kita bukukan. Sekarang kita buka politeknik jurusan malarologi. Khususnya, malaria. Di dunia, hanya banjarnegara yang punya itu. Hehehe. Audio: Suasana anak-anak Banjarnegara

Kepala Dinas Kesehatan Banjarnegara Yusri Husein mengatakan, mereka menggelar berbagai lomba untuk memacu anak sekolah memberantas malaria. Misalnya, lomba paduan suara anti malaria, lomba cerdas cermat malaria, lomba dokter kecil dan Unit Kesehatan Sekolah malaria. Lomba digelar untuk anak SD hingga SMA.

Audio: UKS dan dokter kecil. Sekolah sehat kita lombakan. Selalu kita lakukan setiap tahun yang mana muatan lokal di lomba inilah kita beri materi itu. Lomba koor berantas malaria. Ini media promosi untuk sekolah supaya tahu apa itu malaria.

Yang juga unik dari Banjarnegara adalah memasukkan pelajaran soal malaria dalam muatan lokal kurikulum sekolah. (Pelajaran ini namanya khusus Malaria. Setara nama pelajaran lainnya seperti Olahraga, IPS, Bahasa Indonesia, Matematika, Agama, dll)

Audio: Guru pun sudah kita latih cara ambil darah. Sehingga guru langsung lapor ke JMD atau ke puskesman. Apa positif malaria atau tidak. Kalau setiap pemeriksaan itu biasanya diberikan obat sementara, kalau positif baru diobati.

Audio: Suasana Desa Limbangan Banjarnegara

Senjata pamungkas yang masih dipakai sampai sekarang adalah kelambu. Ini adalah penangkal paling mudah dan murah bagi warga Banjarnegara untuk terhindar dari serangan nyamuk malaria. Semua rumah penduduk wajib dilengkapi kelambu. Kalau ada yang tak mampu beli kelambu, pemerintah daerah siap membantu.

Audio: Untuk hindari kontak nyamuk. Ada dana dari APBD untuk pengadaan kelambu. Di dinas kesehatan, di gudang, masih ada stok kelambu. kalau di daerah yang kita programkan, ternyata semua program ini nggak bisa, terakhir, kelambu inilah yang kita serahkan.
Audio: Suasana Desa Limbangan Banjarnegara

Kini perang berhasil dimenangkan warga Banjarnegara. Memang, kadang masih ada saja yang tumbang gara-gara malaria. Tapi Bupati Banjarnegara Djasri memastikan, angka kasus malaria sudah turun drastic sejak program Gebrak Malaria dijalankan.

Audio: Tugas kita menjaga meningkatkan supaya tidak muncul lagi malaria. 0,18 per seribu, sekarang kasusnya seperti itu. Dan itu tidak murni dari banjarnegara. Ada juga yang bekerja di luar daerah, ke sini malah datang membawa malaria.

Lembar sejarah malaria sudah ditutup. Masyarakat Banjarnegara sudah berhasil diajak hidup bersih, sebagai langkah pertama menghadang malaria. Kini tinggal putar otak bagaimana menangkal malaria yang datang dari daerah lain.
Audio: Suasana Desa Limbangan Banjarnegara


[Humto Jaya Marbun |KBR68H]


foto: www.geocities.com

Friday, January 16, 2009

Susahnya Bangun Lebih Pagi


Sudah dua pekan ini anak-anak sekolah di Jakarta masuk sekolah lebih pagi. Yang biasanya masuk pukul 7 teng, kini mereka masuk pukul 06.30. Pemerintah Jakarta percaya, langkah ini mujarab untuk mengobati penyakit macet Jakarta di pagi hari. Banyak orangtua yang protes, keberatan anak mereka disiksa untuk bangun lebih pagi. Tapi pemerintah bak khafilah yang terus berlalu. Apakah kebijakan masuk sekolah lebih pagi ini betul-betul mujarab menyembuhkan kemacetan? Reporter KBR68H Liza Desylanhi melongok ke rumah satu keluarga yang jam hidupnya berubah gara-gara kebijakan ini.

Audio: suara menghidupkan kompor

Waktu baru menunjukkan pukul 4 dini hari. Dingin membekap kawasan Pondok Petir, Sawangan. Ayam belum berkokok, yang terdengar hanya suara orang mengaji, terdengar lewat pengeras suara mesjid, tak jauh dari kediaman Keluarga Gunawan Gouw. Berbekal jaket untuk menahan dingin, Rini, ibu tiga anak, mulai sibuk di dapur.

Audio: Suara ketel bunyi Audio: Suara masak nasi goreng

Sambil memasak air serta menyiapkan sarapan, Rini membangunkan dua anak pertamanya. Si sulung, Adelia Disa, duduk di kelas 3 SMA di Jakarta Selatan. Anak tengahnya, Muhammad Adrian, kini kelas 2 SMP Negeri Unggulan di Tangerang. Berkali-kali Rini mengetuk pintu kamar keduanya agar lekas bangun.

Audio: Suasana Rini membangunkan anak

Sembari masak nasi goreng, Rini bercerita. Bangun dan beraktivitas pagi sebetulnya sudah jadi kebiasaan keluarganya. Maklum, rumah mereka jauh dari sekolah Disa dan Adrian, juga jauh dari kantor Rudi, sang ayah. Biasanya pukul setengah lima, semua anggota keluarga mulai bangun, bersiap-siap, mandi dan sarapan. Tapi begitu muncul kebijakan memajukan jam sekolah, semua harus bangun jauh lebih pagi.

Audio: Kalau tiap pagi otomatis bangun lebih awal lagi, jadinya ga bisa tidur gitu, bentar-bentar melek, karena takut kesiangan anak-anak. Karena kalau dia dah kesiangan pasti ngeluh, mama aku kesiangan niy. Otomatiskan saya yang harus lebih bangun pagi lagi, harus bangunin berkali-kali lagi.

Tak jarang Disa bangun tidur dalam keadaan masih lelah. Belum cukup tidur, tampaknya. Sebab, tidur malamnya pun larut, karena harus mengerjakan setumpuk PR. Belum lagi stres, takut besok terlambat.

Audio: Ya tambah cape aja, jadi bangunnya lebih pagi, trus ya tambah ngantuk juga disekolahan. Jadi buru-buru semuanya.

Audio: Suasana memanggil untuk sarapan

Sarapan, yang biasanya jadi ajang bertukar cerita, kini dilakukan dalam senyap. Semua terlalu mengantuk untuk berbincang. Padahal, kata Rini, sarapan adalah saat istimewa untuk berkumpul dengan seluruh anggota keluarga.

Audio: Itu terasa banget, bapaknya kalau pulang dah malem, saya juga dah ngantuk, ngobrol juga dah ngga terlalu banyak. Frekuensi ngobrol juga jadi lewat telepon. Kadang-kadang dia sampai kantor baru telpon, ini ada ini nih. kadang-kadang kalau pagi-pagi gitu sibuk semua jadi lupa ada yang mau diomongin.

Audio: Suasana memanaskan motor

Pukul 6 kurang lima menit. Rudi, Disa dan Adrian bersiap berangkat, bertiga di atas sepeda motor bebek. Pertama mengantarkan Disa, lalu Adrian. Karena ikut mengantarkan kakaknya yang masuk sekolah lebih pagi, Adrian kerap jadi orang pertama di sekolah.

Audio: Masuk jam 7:15. iya masih ngantuk, sampai sekolah juga belum ada orang, sampai sekolah belum ada orang. Ya itu, ngikutin kakak

Begitu juga sang ayah, Rudi Gunawan. Karena sampai kantor paling pagi, dia biasanya ‘membayar’ kekurangan waktu tidurnya di kantor.

Audio: ya sampai kantor jadi lebih pagi, mau ngapain gitu. Kalau sekarang jam tujuh dah sampai kantor, aktivitas kantor jam 9. Paling ngobrol sama satpam. atau tiduran lagi di mushollah

Audio: Suasana jalan raya Audio: Suara bel masuk sekolah

Di sekolah, hiruk pikuk juga dimulai lebih pagi. Di pintu gerbang SMP 43 Jakarta Selatan, siswa tampak bergegas masuk. Ada yang sampai setengah berlari, karena pintu gerbang segera ditutup. Belasan lainnya kurang beruntung. Pintu terlanjur ditutup.
Audio: Suasana guru mencatat anak yang terlambat

Masih ada saja siswa yang telat, meskipun pintu gerbang ditutup lima menit setelah jam masuk. Kepala Sekolah SMP 43 Bambang Wiyono maklum kalau masih ada yang terlambat. Karenanya, belum ada sanksi menanti.

Audio: Mengenai hukuman kita tidak mendadak saat ini saja. Kalau terlambatnya karena kasus sekarang ya tidak, minggu ini kita kaji. Itu akan jadi saran dan masukan bagi pemda, bahwa 6:30 bermasalah, karena ini..ini atau 6:30 tidak bermasalah walaupun masih ada yang terlambat.

Kalau banyak keluarga yang kelimpungan dengan jam masuk sekolah yang lebih pagi, sepadankah pengorbanan mereka? Apakah langkah ini betul-betul menyembuhkan penyakit kemacetan pagi di Jakarta?

Audio: Suara jalanan

Kemacetan adalah penyakit lama ibukota. Gubernur berganti, sederet aturan dibuat, tetap saja, kemacetan tak terurai. Kemacetan makin parah karena tak ada pembatasan jumlah kendaraan bermotor, sementara panjang jalan tak bertambah.

Lantas, Pemerintah Jakarta muncul dengan kebijakan untuk memajukan jam masuk anak sekolah. Yang semula pukul 7 pagi, menjadi setengah jam lebih cepat. Kebijakan ini diambil, kata Pemerintah, karena siswa dan komunitas pendidikan telah menyumbang 30% porsi kemacetan.

Wakil Gubernur Jakarta Priyanto mengatakan, kebijakan ini memang bukan obat mujarab bagi kemacetan. Tapi paling tidak, kemacetan sudah berhasil ditekan sampai 14 persen.

Audio: Ternyata kemacetan baru terurai 14%, wah bagus aku bilang gitu. Itu memang konsepnya mengurangnya hanya 14%, aku bilang gitu. 100-14 berapa 86, jadi kalau Jakarta masih macet ya yang 86 itu. Kebijakan ini bukan kebijakan spektakuler yang mengatasi kemacetan secara total. Anak sekolah swasta sama negri semua masuk itu baru 14%, jadi masih 86% macet di Jakarta.

Audio: suara kemacetan
Sepadan kah target pengurangan kemacetan sampai 14 persen dengan pengorbanan anak sekolah? Tidak, kata Lies Sugeng, Wakil Ketua Persatuan Orangtua Murid Indonesia. Menurut Lies, ini adalah pertaruhan besar bagi masa depan anak-anak. Sebab, masuk sekolah lebih pagi berarti mengubah kebiasaan dan ritme hidup anak-anak ini. Akibatnya proses belajar mengajar bisa terganggu.

Audio: kalau kegiatan belajar terganggu, kualitas pedidikan juga terganggu. Bukan murid aja tapi juga guru. Kalau mereka mengikuti bukan karena mereka suka rela tapi karena keputusan yang mau tida mau hrs diikuti. Ada keterpaksaan. Sebenarnya mereka ga enjoy bgt siy.

Audio: Suasana belajar di kelas

Bangun pagi memang baik. Tapi bangun terlalu pagi, justru tak baik buat anak-anak, kata Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi. Bahkan negara maju seperti Jepang dan Amerika pun menetapkan jam sekolah antara pukul 8 sampai 9 pagi.

Audio: Untuk hal ini juga saya kritik, sy kira ngga benar, bangun pagi iya sehat. Itu kalau bangun pagi tidak terlalu pagi sekali, kemudian waktu tidurnya cukup, udara segar bisa berolah raga dengan gembira dan belajar juga dalam suasana yang sangat nyaman. Itu sangat meningkatkan kemampuan belajar dan konsentrasi belajar mereka. Tapi yang terjadi adalah bangun yang terlalu pagi, bukan jam 4 lagi tapi jam setenagh 4 dah bangun. Lalu suasananya juga penuh dengan ketegangan, berebut ini, berebut itu. Dsb. Lalu tidak ada waktu u bercengkrama bersama ortu. Ini bahayanya kedepan kalau semua anak Jakarta ini dipaksa, sekolah terlalu pagi .

Ini dia yang tidak dihitung Pemerintah Jakarta, kata Lies Sugeng. Waktu berkualitas bersama keluarga tergerus karena berangkat harus pagi-pagi sekali, sementara malam hari keburu ngantuk. Terutama bagi keluarga yang tinggal di pinggiran Jakarta.
Audio: Ada ha-hal yang harus disampaikan anak ke ortu, tidak disampaikan krn mereka pulang dengan begitu banyak tugas, pr. Dan ortu dengan kemacetan juga dg tugas2 ortu. Pulang sudah larut tidak ada kesempatan untuk bertemu. Dan 3:24, ada eksempatan ketemu pagi itu sekarang tidak ada. Komuniaksi itu berkurang kemudian mengakibatkan hal-hal yang harus disampaikan ke ortu buntu,ya tidak bisa disampaikan. Di sekolah anak mungkin bisa uring2an secara psikis itu mengganggu. Sekarang terputus. Dampaknya belum bisa kita liat sekarang.

Karena dampaknya belum terlihat sekarang, Pemerintah Jakarta cuek saja. Wakil Gubernur Jakart Prijanto mengaku banyak mendengar keluhan. Tapi tidak ada gelagat bakal ada perubahan kebijakan soal jam sekolah ini.

Audio: Saya mendengar, perut mules, bangun pagi, masak itu, ono aja. Itu manusiawi. Saya berfikirnya bagaimana menyamankan orang banyak di Jakarta ini, dan dari beberapa yang itu kalau dikumpulin itu akeh sing seneng daripada sing senep.

Lebih banyak yang senang, daripada yang sebal, kata Prijanto.

Mungkin Prijanto perlu mendengar keluhan Rini Gunawan Gouw, yang mesti jibaku sejak dini hari dan kehilangan waktu bercengkrama saat sarapan bersama suami dan ketiga anaknya.

Audio: anak-anak sekolah berapa persen siy, kebijakan itu lebih diperhatian lagi, untuk pejabat-pejabat yang membuat perpaturan ini kan ga masalah, karena kalau mereka lewatkan pake ngiung-ngiung, lancar aja kan. Tapi buat kita ini loh. Jangan satu sisi aja, anak sekolah aja yang ditekankan gitu kasian mereka. Mereka kan masih kecil-kecil, mendingan yang tua2 aja kalau mereka bisa di ituin. Jam kantor sama lalu lintas yang bener2 di iniin.

Pendapat Rini senada dengan pengamat transportasi Dharmaningtyas. Tak ada gunanya mengorbankan anak-anak demi menyembuhkan kemacetan. Ini, kata Dharmaningtyas, bukan solusi.

Audio: Kebijakan ini akan efektif jika didukung dengan kebijakan lain yang sinergis, kalau tidak ngga akan berdampak apa-apa, tidak bisa berdiri sendiri. Dalam transport tidak ada single solution, harus solusi yang banyak dan sinegris. Itu baru bisa.

Ibarat minum obat, maka Pemerintah minum obat sakit kepala untuk menyembuhkan pegal linu. Antara persoalan dan jawaban, nggak nyambung. Memaksa anak sekolah masuk lebih pagi hanya menggeser jam kemacetan, bukan menghilangkannya. Apalagi jumlah kendaraan terus bertambah tanpa batasan.

Audio: Pengaturan jadwal sekolah/kerja itu tidak mengurangi volum kendaraan tapi itu hanya membagi kendaraan itu berada di jalan tidak berada pada waktu yang bersamaan. Tapi itu sama sekali tidak akan mengurangi kemacetan. Karena jumlah kendaraannya tetep. Cuma mungkin yang tadinya peek hournya jam 6-7. sekarang bisa lebih maju atau mungkin malah, panjang dari jam setengah 6 sampai jam 8 atau berapa gitu.

Audio: Suasana kemacetan

Masih ada sederet panjang solusi untuk membenahi kemacetan Jakarta, kata Dharmaningtyas. Mulai dari perbaikan sarana dan pelayanan angkutan umum, mendorong orang memakai kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi, memperbanyak jumlah bis sekolah serta memperpendek jarak antar bis, atau memberikan insentif bagi anak sekolah yang menggunakan bus TransJakarta.

Bukan menyuruh anak sekolah masuk pagi. Itu tak menyelesaikan apa pun. Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi.

Audio: Marilah kita semua berani mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Berani menyuarakan hak anak. Anak-anak sendiri juga mohon berani menyuarakan hati nuraninya. Karena melekat pada anak adalah hak untuk di dengar suaranya. Mohon segera ada evaluasi kembali, yang jujur apakah memang tujuannya meningkatkan

Audio: suara ketel bunyi Audio: suara membangunkan anak

Tapi sampai Pemerintah Jakarta menyadari tidak efektifnya kebijakan mereka, maka Keluarga Gunawan Gouw harus bangun lebih pagi.

Audio: suara memanaskan motor Audio: suara kemacetan

[Liza Desylanhi | KBR68H]

Wednesday, January 7, 2009

Sudah Mengajar, Pulang Menganggur


Nasib guru di tanah air masih berupa cerita sedih. Termasuk guru yang mengajar anak-anak TKI di Sabah, Malaysia. Sekolah tak punya fasilitas memadai, seperti kamar mandi atau alat penerangan. Belum lagi gaji yang tak seberapa dipotong untuk alasan administrasi. Reporter KBR68H Regie Situmorang berbincang dengan guru-guru TKI yang menuntut perbaikan hak mereka.

Audio: Kau masih sekolah? Tidak? Kenapa tidak? Karena Kerja. Berapa kamu dapet? Lumayan. Jadi kau pilih bantu orang tua? Iya.

Rekaman video memperlihatkan Fikri yang sedang berbincang dengan Syahrizal. Fikri adalah anak seorang TKI di Distrik Sandakan, Sabah, Malaysia. Sementara Syahrizal adalah gurunya. Persisnya, guru tak tetap yang dikirim pemerintah Indonesia untuk mengajar di Sabah.

Fikri sekarang sudah tak sekolah lagi. Orangtuanya menyuruh ia bekerja di kebun sawit, sebagai tukang angkat biji sawit. Bayarannya 5 ringgit atau sekitar 14 ribu rupiah sehari. Di distrik ini, kata Syahrizal, ada sekitar 10 ribu anak TKI. Semuanya putus sekolah.

Audio: Kebetulan saya ditugaskan di daerah Sabah, tepatnya di Distrik Sandakan, di Melankin Plantation. Kami di sini mengajar jumlah anaknya bervariasi, tapi sekarang ini tidak lebih dari 25 orang saja.

Sebagian besar anak-anak TKI di Sabah tak bisa membaca. Selain karena banyak yang putus sekolah, banyak juga yang mesti belajar dengan fasilitas seadanya. Syahrizal menggambarkan kelasnya sebagai ruang gelap. Tak ada listrik.

Audio: Jadi pasokan listrik itu baru hidup mulai jam 11, nanti jam 4 sore mati. Nanti malam hidup lagi, jadi aktivitas itu lancar hanya ketika listrik nyala saja.

Selain listrik, air juga jadi masalah. Setiap hari, para guru harus menunggu pasokan air yang diantar perusahaan pengelola sawit di Sabah. Kalau air tak ada, ya tidak mandi, kata Afri Dewinta, salah satu guru TKI di Sabah.

Audio: Masalah air, di sini sangat susah air. Di sini tidak ada PAM. Jadi kalo air itu diantar, jadi kami juga tidak mandi hingga 3 hari, hanya dilap saja badan ini. Karena air itu harus kita pakai untuk MCK, dan wudu .

Audio: suasana belajar dan mengaji dan bernyanyi


Rekaman di video ini menggambarkan anak-anak yang belajar mengaji dan bernyanyi di Sabah, Malaysia. Rekaman ini diambil oleh salah satu guru.

Audio: suasana belajar dan mengaji dan bernyanyi

Sebelum dikirim ke Sabah, Malaysia, para guru ini mengajar di daerah masing-masing. Demi menguatkan solidaritas, para guru ini lantas membentuk Forum Guru Tidak Tetap Sabah. Total ada 109 guru tergabung di sana, mengajar 80 ribuan anak TKI, yang sebagian besar dipaksa kerja sebagai buruh kebun sawit.

Di Malaysia, para guru ini diurus oleh LSM Pendidikan Humana Child Aid Society, yang pernah memberikan gratis bagi tujuh ribuan anak-anak TKI di Sabah. Namun para guru justru kecewa. Sahar Hamzah dan Thamri Arsyad mengeluh, mereka tak punya fasilitas belajar yang memadai. Kadang mereka malah dimintai iuran.

Audio: Dari Humana itu banyak kekurangna dalam pelayanan. Misalnya logistik untuk belajar. Saya sudah satu tahun di Malaysia, tapi buku tidak diberikan oleh manajemen Humana

Audio: Ada iuran juga yang diwajibkan Humana sebensar 100 ringgit satu bulan. Ada juga manajemen Humana yang menggelapkan uang yang dikutip dari para guru. Jumlahnya sangat besar, tapi tidak ada penyelesaiannya hingga sekarang.


Para guru dikirim ke Malaysia untuk memastikan pendidikan nasionalisme bagi anak-anak TKI. Sayang, tugas tersebut tak bisa dituntaskan. Sebab mereka wajib menggunakan kurikulum Malaysia. Sehingga hanya 20 persen pelajaran yang bisa dipakai untuk mengajarkan pelajaran Indoensia.

Audio: Apa yang kamu tahu tentang Indonesia? Tidak tahu, tahunya Malaysia. Lalu Indonesia? Itu Indon. Kok Indon? Karena orang Malaysia cakap Indonesia, Indon.

Alhasil, anak-anak TKI ini lebih merasa sebagai orang Malaysia. Rasa nasionalisme sungguh sulit ditumbuhkan. Lagu kebangsaan yang dinyanyikan di sekolah adalah Negaraku, lagu kebangsaan nasional Malaysia, bukannya Indonesia Raya.

Audio: Mereka memasukan atau menyelipkan prinsip kenegaraan Malaysia dalam seetiap pelajaran. Kami sebagai guru menjadi dilematis karena kami harus memperdalam nasionalisme tapi justru disisipkan tentang kemalayasiaan.

Lantaran prihatin dengan kondisi anak-anak TKI, para guru membawa sebagian murid ke Nunukan, Kalimantan Timur. Siswa yang dipilih adalah yang berprestasi. Tujuannya supaya rasa nasionalisme bisa diasah, sekaligus membuka pintu untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Penyelia guru-guru TKI di Sabah dari Depdiknas, Kamal Fikri mengatakan, ini adalah inisiatif para guru.

Audio: Anak-anak yang tidak mampu dan mempunyai prestasi dikirim ke Nunukan untuk sekolah di sana. Biayannya dicari oleh guru itu sendiri. Pemerintah sampai saat ini belum membeirkan alokasi dana setelah anak-anak ini sudah ada yang lulus dari Nunukan.

Sebagian guru tidak tetap ini dikirim pada 2006. Akhir 2008 lalu, kontrak mereka habis. Bagaimana nasib mereka sekembalinya ke tanah air?

Audio: suasana belajar dan mengaji dan bernyanyi

Kini para guru TKI sudah kembali ke tanah air. Meninggalkan murid mereka di Sabah, Malaysia, yang selama ini mereka didik. Kontrak habis, kini mereka jadi pengangguran.

Tetep Drajad, salah seorang guru untuk anak TKI di Sabah

Audio: Sampai saat ini kami diterlantarkan dan tidak ada satu pun dari pejabat Depdiknas yang memanggil kawan-kawan. Padahal kita tidak memiliki pekerjaan lagi. Kami ditelantarkan.

Sesuai kontrak, mereka harusnya dapat gaji 6 juta rupiah perbulan. Uang sebesar itu untuk honor mengajar, biaya makan, transport dan akomodasi. Tapi gaji di atas kertas tak sesuai gaji yang masuk kantong.

Khoirul Wajid, anggota Forum Guru tidak Tetap Sabah mengaku hanya menerima kurang dari 5 juta rupiah. Itu pun sering tidak tepat waktu. Yang lebih parah, ada yang gajinya ditahan, lalu baru dibayarkan setelah tiba di tanah air.

Audio: Selama ini gaji guru Indonesia hampir tidak ada masalah, walaupun ada yang masalah, tidak dibayar sampai 6 bulan. Tapi ternyata kita punya potongan sampai 1 juta per bulan, kita tahu dari kontrak gaji dan gaji yang kita terima. Bahkan kalau kita hitung, total potongan gaji ini mencapai 2,7 milar rupiah.

Khoirul berharap, dia dan guru-guru lain bisa diangkat jadi PNS.

Audio: Setelah kami pulang dari Malaysia tidak ada karir. Kami 2 tahun di sana, itu standar minimum untuk meminta penghargaan pemerintah. Kami dan anak-anak TKI ini merasa di terlantarkan.

Departemen Pendidikan Nasional merasa tuntutan para guru berlebihan. Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Baedhowi mengatakan, dalam kontrak sudah jelas disebut, mereka tak bisa jadi Calon PNS.

Audio: Ketika dia berangkat kan ada perjanjiannya mereka tidak menuntut untuk menjadi CPNS karena CPNS adalah kewenangan pemerintah Kabupaten Kota, Pusat kan gak bisa. Jadi itu masalahnya sekarang tuntutannya mereka menjadi CPNS, lha itu ya kita gak bisa karena itu bukan kewenangan kita tapi kewenanganya pemerintah Kabupaten Kota. Dia dikontrak dua tahun, dalam kontrak ada kalimat bahwa tidak menuntut untuk menjadi CPNS.

Wakil Ketua Komisi IX DPR Heri Achmadi setuju, guru harus patuh pada kontrak. Apalagi, selain guru-guru kontrak untuk ke Sabah ini, masih banyak guru dengan pengabdian lebih lama yang belum diangkat jadi CPNS. Heri meminta agar guru kontrak bersabar.

Audio: Pada hemat saya kalau kontraknya selesai ya selesai dua tahun. Nah itu kalau memang bisa dikontrak lagi ya diperpanjang lagi, kalau memang bisa dikontrak ya diperpanjang lagi yang memenuhi kualifikasi sambil kemudian menunggu masuk pada urutan penyelesaian. Kalau semua di pegawai negeri kan tidak mungkin pada saat sekarang.

Audio: suasana belajar dan mengaji dan bernyanyi


Guru TKI berharap, pemerintah segera memperbaiki kondisi pendidikan bagi anak-anak TKI. Misalnya dengan membangun gedung sekolah, jika diizinkan pemerintah Malaysia. Jika fasilitas belajar baik, maka guru pun bisa menjalankan tugasnya dengan lebih baik.

Audio: Karena tanpa itu, sepertinya mustahil anak-anak itu bisa mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan standar kita di sini. Selama ini pemerintah Malaysia sepertinya tidak mau membuka peluang bagi anak-anak TKI untuk belajar di sekolah Malaysia.

Meski sempat merasa ditelantarkan, Khoirul merasa tak kapok. Ia siap kembali mengajar ke Sabah.

Audio: Saya mau kembali asalkan semua fasilitas belajar diperbaiki, jangan sampai kita sia-sia mengajar di sana karena tidak ada dukungan fasilitas. Tapi untuk sementara, saya mau di sini dulu, istirahat, bertemu keluarga. Mencari pekerjaan sebagai pengajar di sini

Audio: suasana belajar dan mengaji dan bernyanyi


[Regie Situmorang | KBR68H]


foto: http://humanasandau.blogspot.com/

Tuesday, January 6, 2009

PHK Karena E-book


Enam ribuan karyawan dirumahkan pasca pemerintah menetapkan kebijakan e-book alias buku elektronik. Per Agustus 2008, buku yang boleh dipakai di sekolah adalah buku yang sudah dibeli hak ciptanya oleh pemerintah dan dalam bentuk elektronik. Penerbit yang fokus pada buku pelajaran jelas kelabakan, karena pasar mereka tiba-tiba dikuasai pemerintah. Reporter KBR68H Rio Rizalino menelusuri dampak kebijakan e-book terhadap penerbit buku pelajaran.

Tangan Juventus cekatan mencampur bahan-bahan soto di dalam mangkuk. Kol, bihun, ayam, babat dan daging ia campur jadi satu sesuai pesanan pembelinya. Tak lupa ia menuangkan kuah soto yang telah diracik dengan bumbu rempah-rempah. Juve, begitu ia biasa disapa, melakukan itu layaknya seorang koki profesional. Padahal sebelumnya, bapak dua anak ini adalah seorang Asisten Manajer Pemasaran di penerbit buku pelajaran ternama, Erlangga.

Audio: suasana kantin kampus

Dua bulan lalu Juve kehilangan pekerjaannya. Penerbit buku pelajaran tempat ia bekerja terpaksa merumahkan sebagian karyawan. Gara-garanya, program buku elektronik alias e-book yang dilansir Pemerintah sejak Agustus 2008.

Audio: Akhirnya, karena tidak ada pertimbangan lain, tidak ada tempat disini, ya sudah akhirnya saya kalau bisa dihitung-hitung saja. Sesuai aturan sajalah, kata saya. Kemudian sehari setelah itu, akhirnya diputuskan dirumahkan. Itu keputusan dari manajemen.

Juve bekerja di penerbit buku Erlangga sejak 1997. Penerbit ini adalah spesialis penerbit buku pelajaran. Setelah belasan tahun bekerja, Juve dan ratusan karyawan penerbit Erlangga mesti kehilangan pekerjaan. Juve memutar otak, bagaimana cara untuk bertahan hidup. Ia memilih pulang ke kampung halamannya, Yogyakarta dan membuka usaha sendiri: kantin soto di beberapa perguruan tinggi.

Audio: Yah saya kira kalau kehidupan sekarang berubah. Kalau dulu punya penghasilan tetap. Setoran ke istri juga tetap. Dan sekarang saya baru merintis. Kalau dulu tukang buku, sekarang tukang soto.

Audio: suasana kantin kampus

Muba Siregar adalah kawan Juve di Erlangga. Nasibnya serupa Juve, sama-sama Asisten Manajer Pemasaran yang dirumahkan karena program e-book. Tapi Muba tak seberuntung Juve yang sigap memanfaatkan peluang dan menjadi tukang soto. Hingga kini Muba masih menganggur. Muba berusaha tak bersedih.

Audio: Untuk sementara ini saya cooling down dulu. Baru sebulan kita dirumahkan, belum terpikir untuk kembali ke dunia marketing dan buku, saya belum bisa memprediksikan. (apa saja sekarang kegiatannya ?) kalau kegiatan sih belum ada, kalau dirumah santai-santai aja. Paling ketemu teman-teman.

Muba mengaku sangat terpukul karena ia sangat mencintai pekerjaannya. Ia sudah bekerja di Penerbit Erlangga sejak 1994.

Audio: Kalau di marketing ini saya sangat nikmati, saya jalani dengan baik. Terbukti dengan perjalanan begitu panjang, saya masih eksis, saya dari tahun 1994 sampai 2008. artinya itu sudah cukup menikmati. (apa sih yang bikin suka dengan pekerjaan itu ?) saya rasa tantangannya. Cukup dinamis juga.

Ikatan Penerbit Indonesia, IKAPI menyebutkan, sejak pemerintah mewajibkan program buku elektronik atau e-book, sudah 6 ribu karyawan penerbit buku pelajaran yang dirumahkan. Kebijakan ini menyebutkan, sekolah tak lagi boleh menggunakan buku pelajaran selain e-book yang ditetapkan pemerintah. Tinggal mengunduh dari situs Departemen Pendidikan Nasional, lalu gandakan semaunya karena toh pemerintah sudah membeli hak cipta buku-buku tersebut selama 15 tahun.

Akibatnya, penerbit yang selama ini memasok buku pelajaran kehilangan pasar mereka. Penerbit harus menelan kerugian hingga ratusan juta rupiah. Asisten Direktur Penerbit Buku Erlangga Dharma Hutauruk mengatakan, sejak ada e-book, omzet penerbit Erlangga turun hingga separuhnya. Sepertiga karyawan Erlangga terpaksa dirumahkan.

Audio: Yah sekarang sudah sekitar 30 persen. Terutama dibagian sales, pemasaran dan editorialnya. (30 persen dari berapa ?) kita ada sekitar 3000 karyawan.

Kerugian bakal berlipat ganda, kalau menghitung buku yang terlanjur dicetak. Buku-buku itu masih teronggok di gudang, tak bisa dipasarkan lantaran sekolah tak lagi diperbolehkan menggunakan buku pelajaran secara fisik.

Audio: Berapa juta eksemplar itu, barang-barang yang sudah kita cetak tapi tidak bisa kita jual. Jelas itu yang membuat kita tidak melanjutkan pekerjaan kita. (sudah dicetak tapi tidak bisa dijual ?) iya. Saya rasa penerbit buku lainnya bisa mencapai puluhan juta eksemplar.

Tak semua penerbit sudah bernasib seperti Erlangga. Kalaupun masih bisa bertahan, bayang-bayang bangkrut tetap menghantui. Seperti penerbit buku pelajaran Bumi Aksara, yang berdiri sejak 1995. Direktur Utama Bumi Aksara Lucya Andam Dewi mengatakan, kerugian pasca kebijakan e-book mencapai milyaran rupiah. Jutaan eksemplar buku pelajaran yang telah dicetak, kini hanya menumpuk di gudang.

Audio: Itulah yang kita bingung, mau kita apakan ? masa mau di kilo atau dicincang ? aduh sedih banget. Itu kan hasil pemikiran penulisnya. Buku apapun saya rasa dibuat bukan dengan asal, ngga semata-mata buku itu bisa jadi dengan begitu saja.

Lucya mengatakan, perusahaan berupaya tak merumahkan karyawan. Langkah yang dilakukan adalah dengan mengembangkan produk buku. Tapi kemungkinan PHK tetap ada.

Audio: Kenapa saya bilang Bumi Aksara belum, bukan belum tapi bisa iya tidak. Mungkin kalau perusahaan lain bisa lebih cepet, sudah sebulan dua bulan lalu melakukan itu. Tapi apakah itu yang akan terjadi, itu pasti. (bagian apa saja yang akan dirampingkan ?) yang pasti yang di departemen buku pelajaran.

Ada 200an penerbit khusus buku pelajaran di bawah Ikatan Penerbit Indonesia, IKAPI. Ketua Umum IKAPI Setya Dharma Madjid mengatakan, kini penjualan semua penerbit buku pelajaran mandek.

Audio: Kan penerbit anggota IKAPI itu 900, yang menerbitkan buku pelajaran sekitar 200. Dari 200 itu kalau punya karyawan 500 aja udah berapa ribu tuh. Ada penerbit yang punya karyawan sampai 10.000. dengan sales yang seluruh Indonesia. Kalau dia mengurangi salesnya saja, bisa sampai 10,000 orang.

Perusahaan penerbit buku pelajaran jelas tak bisa melawan kebijakan buku elektronik alias e-book yang telah memangkas penghasilan mereka. Kata Setya Dharma, kalaupun tak bisa menerbitkan buku baru, mereka hanya ingin buku pelajaran yang terlanjur dicetak bisa dihabiskan stoknya.

Audio: Ya udah, kalau sekarang pemerintah tidak mau merubah kebijakan, kita minta buku-buku yang sudah dicetak ini diperjualbelikan dengan harga yang ditetapkan bersama, supaya habis. Setelah itu pemerintah mau bikin e-book silahkan. Jadi penerbit stop bikin buku pelajaran. Selesai kan ?

Sebetulnya seperti apa program buku elektronik alias e-book dari pemerintah?

Polemik tentang buku elektronik atau e-book bermula ketika Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo mengeluarkan Peraturan nomor 11 tahun 2005. Peraturan itu menyebutkan, buku pelajaran yang digunakan di sekolah adalah buku yang lolos sertifikasi dari Badan Sertifikasi Nasional Pendidikan, BSNP. Buku-buku tersebut bisa digunakan selama lima tahun. Itu artinya, dari tahun 2005 sampai tahun 2010.

Sesudah peraturan itu dikeluarkan, penerbit buku pelajaran berlomba-lomba membuat buku dan mensertifikasikannya ke BSNP. Setelah lolos sertifikasi, buku lantas dicetak sebanyak-banyaknya.

Namun belum sampai lima tahun, bulan Agustus 2008 lalu Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Peraturan baru, yaitu Nomor 2 tahun 2008. Peraturan ini menyebut, e-book wajib digunakan di sekolah sebagai satu-satunya media belajar. Untuk mendapatkannya, siapapun bisa mengunduh di situs resmi Depdiknas, juga boleh menggandakan sebanyak-banyaknya. Karena toh Pemerintah telah membeli hak cipta selama 15 tahun dari 400 lebih judul buku pelajaran.

Pemerintah juga menetapkan harga eceran tertinggi e-book, bagi yang ingin menjualnya, seharga 20.000 rupiah. Juru bicara Departemen Pendidikan Nasional, Muhajir mengatakan, e-book diwajibkan agar buku pelajaran menjadi murah sehingga mudah diperoleh masyarakat kecil.

Audio: Siapa saja, bukan hanya Depdiknas. Orang kecil, orang tengah, orang atas boleh menggandakan buku itu. Itu kan pembajakan yang halal. Karena hak ciptanya sudah dibeli pemerintah. Siapa saja boleh memperjualbelikan.

Ini dia yang bikin IKAPI kelimpungan. Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia, IKAPI, Setya Dharma Madjid mengatakan, karena e-book boleh diperjualbelikan oleh siapapun, penerbit buku pelajaran merasa dikebiri haknya.

Audio: Memang waktu pemerintah mau bikin e-book, penerbit mendukung. Tapi yang menjadi maslaah sekarang pemerintah mengijinkan obook yang ada di internet itu digandakan oleh siapa saja. Kalau dia digandakan secara gratis, kita tidak masalah juga. Tapi kalau digandakan lalu diperjualbelikan, ini yang ngga bener.

Selain itu, penerbit juga merasa ditelikung, karena kebijakan e-book muncul ketika mereka sudah terlanjur mencetak buku-buku pelajaran.

Audio: Yang kedua ada peraturan yang mengatakan buku yang dipakai hanya yang digandakan itu, dari e-book. Sedangkan buku-buku penerbit yang sudah lulus, yang berlaku lima tahun tidak boleh. Ini yang jadi masalah. Jadi sebenarnya kalau pemerintah mau mengubah kebijakan hanya ebook yang digunakan di sekolah, silahkan saja. Tapi kasih tau dulu dari awal, supaya kita tidak nyetak. Ini kita sudah cetak banyak, berlaku lima tahun, tiba-tiba di stop. Berapa kerugiannya ?

Penerbit mengaku angkat tangan kalau diminta membuat buku dengan harga jual eceran tertinggi hanya Rp 20 ribu. Menurut Direktur Utama penerbit buku Bumi Aksara Lucya Andam Dewi, biaya produksi buku paling murah sekali pun biayanya lebih besar dari itu.

Audio: Kami penerbit sebenarnya mendukung kalau ingin membuat buku murah. Tapi murahnya buku itu kan tidak semata-mata hitungan kertas. Untuk menilai suatu buku menjadi buku yang baik, itu butuh biaya yang besar. Perlu riset dan sebagainya. Kalau pemerintah mengatakan penerbit harus bikin buku murah, ok kita akan buat. Tapi pemerintah juga dukung dong.

Asisten Direktur penerbit buku Erlangga, Dharma Hutauruk mengusulkan, sebaiknya pilihan menggunakan buku diserahkan kepada orangtua siswa dan guru; mau pilih e-book atau buku biasa. Karena itulah, Erlangga tetap memasarkan buku-bukunya.

Audio: Kalau untuk buku pelajaran kita akan terus berjuang untuk menyampaikan kepada publik dan masyarakat kalau buku-buku adalah yang terbaik. Soal umpamanya nanti banyak guru atau siswa yang membeli BSE, saya kira itu keputusan mereka sendiri.

Departemen Pendidikan Nasional bersikukuh, e-book adalah yang terbaik. Juru Bicara Depdiknas Muhajir mengatakan, dengan e-book, buku tak lagi berganti setiap tahun, pun murah karena tinggal diunduh dan difotokopi.

Audio: Hampir setiap tahun buku pelajaran ganti dan harganya semakin tinggi. Nah pemerintah melalui depdiknas memudahkan melalui e-book dan pembelian hak cipta. Kan gitu. Sehingga masyarakat yang punya siswa bisa menjangkau buku dengan murah dan mudah.

Direktur Utama penerbit buku Bumi Aksara Lucya Andam Dewi membantahnya.

Audio: Karena kan ketika mau diakses, dia kan harus diprint dan sebagainya. Justru itu tidak akan membuat e-book menjadi murah. Karena mempunyai kendala yang demikian, akhirnya pemerintah menyatakan siapapun boleh mengcopy buku dari internet.


Depdiknas berkelit, menurut Muhajir, dinas-dinas pendidikan di tiap sudah mendapatkan cakram padat berisi buku-buku yang sudah dibeli hak ciptanya itu.

Audio: Semua kepala dinas, pemda itu sudah disiapkan semua. Sudah dibekali, cd-cd diberikan. Kemudian dicetak setempat. Tidak usah dari jawa lagi. Itu di 33 propinsi sudah bertemu dengan mendiknas, untuk diproduksi dan diberikan ke masyarakat setempat.

Padahal, ini justru memunculkan potensi monopoli pemasaran buku pelajaran di Indonesia. Koordinator Kelompok Independen untuk Advokasi Buku Fitriani Sunarto mengatakan, pemerintah jadi satu-satunya pemain dalam pasar buku pelajaran di tanah air.

Audio: Yang lebih gawatnya lagi adalah peraturan yang memayungi e-book ini, yakni permendiknas no. 2 tahun 2008. disitu ada pembedaan antara buku-buku yang telah dibeli hak ciptanya dengan yang tidak. Untuk buku-buku yang hak ciptanya dibeli, mulai staf departemen hingga pendidik bisa menjadi distributor dan pengecer. Bayangkan, mereka di dorong untuk menjual buku-buku yang sudah dibeli hak ciptanya.

Gelagat serupa dicium oleh Ketua Umum IKAPI, Setya Dharma Madjid. Karena itulah, IKAPI melaporkan Depdiknas ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha, KPPU.

Audio: Seperti sekarang, dengan dia mengatakan bahwa hanya e-book yang boleh, itu kan monopoli. Kami sudah lapor ke KPPU. Bahwa Cuma buku itu yang boleh di sekolah, buku lain tidak boleh. Sedangkan buku ini lulus juga. Ini kan namanya monopoli. Kan kalau seseorang menetapkan hanya ini saja yang boleh, itu kan monopoli.

IKAPI, kata Setya, juga telah mengirim surat kepada Presiden Yudhoyono akhir September lalu, meminta negara mempertimbangkan ulang program e-book.

Audio: Menterinya saja kita kirim surat tidak ada reaksi. Jadi kita kirim surat keatasannya.Dan selaku warga negara, kita pantas berteriak ke pemerintah, yakni presiden. Kalau begini, kita begitu. Tapi sampai sekarang belum ada tanggapan juga dari presiden. Saya tidak tahu kenapa.

Audio: suasana kantin

Juve kini sudah beralih dari tukang buku ke tukang soto. Sementara Muba, masih tak tahu harus bekerja sebagai apa pasca di-PHK dari penerbit buku pelajaran gara-gara program buku elektronik, e-book.

Audio: Ditinjau olang, kalau perlu nitu dihilangkan. Tidak perlu lagi. Yang penting ada peraturan guru tidak boleh menjual buku. Selesai sebenarnya itu. Ga usah repot-repot.

Audio: Kalau harapan saya, pemerintah meninjau ulang peraturan itu. Mari kita mencerdaskan kehidupan bangsa ini melalui pendidikan bersama masyarakat dan perusahaan-perusahaan swasta. Berilah kesempatan bagi pihak-pihak lain untuk mengembangkan pendidikan ini.



[Rio Rizalino | KBR68H]


foto: http://sbelen.files.wordpress.com/