Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Monday, June 27, 2011

Yang Menanti di Kolong Jembatan


KBR68H - Puluhan jompo di kolong jalan Tol Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menghabiskan sisa hidup mereka bersama kemiskinan dan kesendirian. Mereka hidup di bawah bayang-bayang penggusuran, dan serangan penyakit. Keberadaan mereka dianggap tak berguna, juga kerap luput dari perhatian masyarakat dan pemerintah. Para jompo yang tinggal tak jauh dari kawasan kompleks elit Sunter, Jakarta Utara, seakan tak punya pilihan selain menunggu ajal untuk melepas penderitaan. Reporter KBR68H Muhammad Irham menemukan masih ada yang peduli pada nasib para jompo di kolong jalan tol. Siapa saja mereka?

Cerita selengkapnya di sini.

Thursday, June 23, 2011

Jujur itu Hebat


KBR68H - “Jujur itu Hebat” Slogan singkat itu tertulis di mana-mana, di sudut-sudut aula Mahkamah Konstitusi. Slogan itu diilhami keberanian seorang perempuan bernama Siami, yang mengungkap praktik kecurangan di ujian nasional sekolah anaknya yang mencontek massal. Siami lalu diusir warga karena ia berlaku jujur. Siami menyatukan orang-orang yang selama ini masih terdiam melihat ketidakjujuran. Reporter KBR68H Arin Swandari merangkum kisah Siami dan dukungan untuk kejujuran dan keberaniannya.

Cerita selengkapnya di sini.

Tuesday, June 21, 2011

Wisata Ciliwung, Mungkinkah?


KBR68H - Apa yang terlintas di kepala Anda kalau disebut ‘Sungai Ciliwung’? Sampah. Bau. Kotor. Padat penduduk. Begitulah kenyataan yang akan menyambut di Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta. Tapi Komunitas Ciliwung Condet punya cita-cita besar, Tahun Kunjungan Wisata Ciliwung 2011. Bisakah Ciliwung jadi tempat wisata warga Jakarta? Reporter KBR68H Irvan Imamsyah datang ke perhelatan perdana tahun kunjungan wisata di sana.

Selengkapnya di sini.

Friday, June 17, 2011

Menapaki Jalan Damai Ibu Teresa


KBR68H - Di Jalan Damai, Jakarta, ibu-ibu itu menolong sesama. Menggelar kegiatan menabung dan pengobatan gratis untuk keluarga pemulung. Tapi Kerabat Kerja Ibu Teresa Indonesia juga pernah dapat tudingan miring, seperti dianggap melakukan Kristenisasi. Reporter KBR68H Mellie Cynthia datang ke Jalan Damai, melihat aksi kemanusiaan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun di sana.

Selengkapnya di sini.

Thursday, June 16, 2011

Jawara Muda Kali Pesanggrahan


KBR68H - Jakarta masih punya hutan lho! Tak percaya? Coba saja datang ke Karang Tengah, Jakarta Selatan ada sebuah hutan. Hutan Kali Pesanggrahan ini dijaga oleh Chaeruddin atau Bang Idin yang sudah berusia 65 tahun. Yang namanya alam, tentu harus dijaga kalau mau berumur panjang. Lantas siapa yang bakal meneruskan jejak dan kearifan Bang Idin di sana? Reporter KBR68H Ayu Poernamaningrum berbincang dengan anak-anak muda yang siap jadi penerus Bang Idin.

Selengkapnya di sini.

Monday, June 13, 2011

Perawat Pasien Sakit Jiwa di Bali (1)


KBR68H - Ini adalah sisi lain Bali yang tak pernah dilihat para turis: orang-orang Bali dengan gangguan jiwa yang diperlakukan seperti binatang, dirantai atau dimasukkan dalam kerangkeng. Praktik ini dikenal sebagai pemasungan, sesuatu yang masih dianggap lazim di Indonesia. Orang dengan gangguan jiwa dipasung oleh keluarga mereka sendiri, dipaksa makan, tidur dan membuang kotoran mereka di tempat yang sama, sementara gangguan kejiwaan mereka tak ditangani. Ketika psikiater Dr Luh Suryani menemukan ratusan pasien seperti ini, ia merasa harus melakukan sesuatu. Reporter KBR68H Rebecca Henschke bertemu perempuan luar biasa ini di Karangasem, timur Bali.

Selengkapnya di sini.

Tuesday, April 26, 2011

Istriku Lelaki

Kata pepatah, cinta itu buta. Artian harafiah itulah yang berlaku untuk Muhammad Umar, 32 tahun. Ia jatuh cinta kepada Fransiska Anastasia, alias Icha. Mereka lantas menikah September lalu. Setengah tahun berselang, Umar baru tahu kalau perempuan yang dinikahinya ternyata laki-laki. Reporter KBR68H Johana Purba mengulik kisah cinta mereka.

Friday, April 22, 2011

Perempuan di Balik Gang Sesama

Gang Sesama di Kampung Cisatu lahir dari keprihatinan terbatasnya lahan bermain bagi anak-anak di perkampungan padat penduduk. Ada dua perempuan di belakang lahirnya Gang Sesama, yaitu Atikah Arisyati dan Sarah Ginting. Mereka lah yang menyulap lahan sempit tak terpakai menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak bermain dan belajar. Reporter KBR68H Taufik Wijaya bertandang ke Gang Sesama, berbincang tentang gagasan dua perempuan ini.

Wednesday, April 20, 2011

Jual Beli Air di Muara Baru

Air bersih masih jadi barang mewah di daerah waduk Muara Baru, Jakarta Barat. PAM tak mengalirkan air, karena banyak warga tak beridentitas jelas hidup di sana. Lantas muncullah penjual-penjual air dari daerah tetangga. Seperti apa praktik jual beli air di sana? Reporter KBR68H Nanda Hidayat berkunjung ke sana.

Tuesday, April 19, 2011

Jembatan Tebas, Penyambung Hidup Warga


Bagi warga kota, menyeberang sungai dengan menggunakan sampan bisa dibilang ketinggalan jaman. Tapi ini yang masih terjadi di banyak daerah, termasuk di Kecamatan Tebas, Kalimantan Barat. Letaknya sekitar 5 jam perjalanan darat dari ibukota Kalbar, Pontianak. Sampan adalah andalan warga untuk berpindah tempat. Dan kini, ada jembatan gantung. Jembatan ini sekaligus menumbuhkan harapan baru peningkatan sektor sosial ekonomi setempat. Reporter KBR68H Novri Lifinus ada di Tebas, berbincang dengan warga soal ini.

Friday, March 20, 2009

Komunitas Penikmat Buku Silat


Buku bacaan dengan latar belakang budaya Tionghoa terhitung unik dibandingkan buku fiksi lainnya. Setiap buku disandingkan dengan ajaran budi pekerti serta filosofi hidup yang kental. Tapi keberadaan buku bacaan seperti ini sudah makin jarang ditemui di pasaran. Reporter KBR68H Anto Sidharta menemukan adanya keterkaitan antara kebijakan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa saat Orde Baru terhadap penjualan buku-buku ini.

Wednesday, March 18, 2009

Home Care Bagi Lansia

Seperti apa masa depan lansia Indonesia? Sebagian besar menyahut, ingin tetap bersama keluarga. Tapi tinggal bersama keluarga pun tak menjamin lansia merasa tenang dan bahagia menghabiskan masa senjanya. Program home care alias perawatan lansia di rumah pun hadir sebagai jalan tengah. Lansia tetap hidup di tengah keluarga, tapi tak kekurangan perhatian atau bantuan kebutuhan sehari-hari. Reporter KBR68H Citra Prastuti berkunjung ke Kelurahan Tegal Alur Jakarta Barat, tempat percontohan program home care di Jakarta.

Audio: (Suasana jalan kaki) Asalamualaikum.. Nek...Main Nek.. Ada tamu, mau wawancara..

Senyum Marhamah mengembang menerima kedatangan kami. Saya ditemani dua relawan pendamping lansia dari Yayasan Emong Lansia. Rumah Marhamah terhitung bagus dengan dinding tembok dan lantai keramik.

Di sini, Marhamah tinggal bersama anak cucunya. Anaknya bekerja sebagai supir merangkap kenek angkutan dengan penghasilan kecil. Karena usia, Marhamah tak lagi bekerja. Sebagai lansia yang didampingi Yayasan Emong Lansia dan Kelurahan Tegal Alur Jakarta Barat, ia kerap mendapat bantuan sembako.

Audio: Kayak kemarin ada pembagian beras bakal orang lansia. Ada pemeriksaan dari kantor-kantor nggak tau tuh. Pada ngomong cas cis cus. Hahaha. Udah pulangnya, dapat duit. Berapa ya nggak tau itu, gak diitung. Dapat beras. Nih Nek bawa pulang ya. Kalo ada apa-apa, nggak ketinggalan.

Ia senang kami datang. Meski tinggal bersama anak cucu, ia sering kesepian di rumah karena tak ada teman berbincang.

Audio: Udah ya Nek ya, makasih banyak. Udah nggak usah nganter, Nenek masuk saja. Jangan bosen-bosen datang. Sering-sering datang ke mari, enak ngobrol.

Total ada 900-an lansia yang tinggal di Kelurahan Tegal Alur. Baru 52 lansia yang didampingi Yayasan dan Kelurahan dalam program home care alias pendampingan lansia di rumah. Jumlah relawan masih sangat terbatas. Kondisi perekonomian para lansia yang masuk program home care beragam. Ada yang lumayan seperti Ibu Marhamah, ada juga yang sangat miskin.

Audio: Di jalan ini ada sederetan rumah yang dindingnnya dari tripleks. Di sini tertulis RT 03 RW 011 Kelurahan Tegal Alur. Kami tengah mencari rumah Pak Buang, lansia yang akan kita kunjungi bersama relawan dari Yayasan Emong Lansia.

Audio: Suasana di rumah Bapak Buang

Audio: Ibu Ain dan Pak Buang tinggal berdua, juga dengan anak dan cucu. Mereka tinggal di sebuah rumah berukuran 4x4 meter. Dindingnya dari tripleks, ada juga sebagian yang dari gedeg atau bambu. Mereka tinggal persis di pinggir Kali Manyar. Dan karena ini dekat dengan Bandara Soekarno Hatta sesekali terdengar suara pesawat seperti yang barusan terdengar. Jarak rumah ini dengan kali tidak sampai 2 meter, dan sangat kotor. Kalinya pun berwarna hitam dan bau.

Pak Buang Hidup tak bisa bicara, juga tak kuat berdiri, hanya bisa duduk di tempat tidur. Sementara Ibu Ain mengaku matanya tak lagi awas. Keduanya sudah sepuh.

Audio: (Ibu namanya?) Ain. (usianya?) Katanya 80. (Bapak?) 85 kali atau 80, nggak tau saya. (udah berapa lama tinggal di sini?) Lama banget. Lama.

Kedua lansia ini tinggal bersama anak dan cucu mereka. Anaknya bekerja sebagai kuli panggul. Bayarannya paling besar 50 ribu rupiah sekali angkut, itu pun tak tentu. Ibu Ain mengaku senang kalau dikunjungi seperti ini.

Audio: Maunya sih lebih sering, orang saya orang nggak punya. Dikasih lagi, saya kan girang bu. Kalo ada kunjungan kan enak. Orang kagak bisa nyari, diempanin. Yang ngempanin nggak ada.

Audio: Ini ada sedikit ya Bu. Tapi shalat jangan ditinggal. Cuma itu buat kita berangkat ke sana. Bapak salat nggak? Udah gini gimana bisa salat. Sambil duduk bisa Nek. Selonjor aja. Jangan ditinggal ya Nek salatnya. Nenek soalnya udah tua, nggak bawa bekal apa-apa. Yang kita bawa solat, amal ibadah kita. Kita pulang dulu ya.

Audio: Suasana Jalanan Tegal Alur

Dari rumah Pak Buang, saya dan Suci, salah satu relawan pendamping lansia, kembali ke kantor Kelurahan Tegal Alur, Jakarta Barat. Sudah empat tahun, Suci menjadi relawan. Setiap pekan, ia rajin mendatangi rumah dua lansia yang menjadi tanggungjawabnya.

Audio: Saya punya dua lansia, dulu 6. Nggak boleh terlalu banyak, takut nggak mencapai. Nggak efektif. Yang kita bina takutnya nggak .. dalam keseriusan juga enggak. Karena sebentar, sharingnya gak bisa lama. Kalau dua kan focus, kita tau kesehatan dan perkembangan dia seperti apa. Sakitnya apa kita perhatiin.

Audio: Suasana Jalanan Tegal Alur

Sampai sekarang, program home care ini sudah diuji coba di 6 provinsi, dengan Kelurahan Tegal Alur sebagai proyek percontohan. Tegal Alur dipilih karena wilayah ini menjadi salah satu daerah miskin di Jakarta. Apa sebetulnya inti dari pelayanan lansia di rumah alias home care ini?

Audio: Suasana Jalanan Tegal Alur

Audio: Saat ini saya berada di salah satu ruangan di Kelurahan Tegal Alur.Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Di sini ada 15-an perempuan yang sedang mengantri untuk proses wawancara.Mereka akan mengajukan diri sebagai relawan pendamping lansia di kelurahan ini dalam program Home Care yang diadakan Yayasan Emong Lansia. Mereka maju satu per satu, ditanyakan motivasinya, keinginannya, lalu apa yang mendorong mereka untuk jadi relawan pendamping lansia.

Audio: Ibu Salmun. Ibu punya anak berapa?Anak 4, laki dua perempuan dua. Yang paling kecil umur berapa? Umur 9 tahun, paling besar sudah menikah. Bapak kerja di mana? Udah nggak kerja. Nggak kerja? Iya, udah di PHK.

Para relawan adalah tulang punggung berhasilnya program home care alias pendampingan lansia di rumah. Yang jadi relawan adalah warga yang tinggal di lingkungan tersebut, kebanyakan ibu rumah tangga. Meski peminatnya cukup banyak, tak semua pendaftar lolos seleksi. Supaya tak ada lansia yang kecewa kalau relawannya bandel, kata Eva Sabdono dari Yayasan Emong Lansia.

Audio: Jangan sampai seorang pendamping kunjungi lansia, dia bilang mau, lalu besoknya dia tidak mau lagi. Kasian si lansia kan. Jadi kita tetap seleksi. Sebetulnya pertanyaan utama kami dalam menseleksi.. udah volunteer kok pakai seleksi segala, ibu kelewatan. Pertanyaan utama dalam seleksi adalah kenapa Anda mau jadi volunteer untuk lansia?

Sofyan Manurung, Koordinator Pelatih Relawan Pendamping Lansia, serta Eva Sabdono dari Yayasan Emong Lansia kerap turun langsung mewawancarai para kandidat relawan.

Audio: Untuk seleksi yang pertama kita lihat dari status sosial ekonominya. Kalau pas-pasan, barangkali kita mau liat, kalau kita bicara relawan tidak ada dana. Full pengabdian. Karena ini untuk mendapatkan pahala ya. Kita coba liat itu. Kalau memang mapan, kenapa tidak. Kedua, masalah keikutsertaannya. Apakah ini karena ingin coba-coba, juga perlu waktu luang, dari segi keadaan anaknya berapa, kecil atau besar. Kalau anak masih bayi, apa mungkin mendampingi orang lain.

Audio: Ada yang bilang, saya nggak sempet kenal nenek saya. Biarlah nenek itu saya anggap nenek saya. Ada yang bilang panggilan hati nurani. Tapi ada yang bilang, oh cari pengalaman. Coret.

Karena bekerja tanpa bayaran, motivasi kuat adalah kunci utama diterimanya seseorang sebagai relawan pendamping lansia.

Audio: Ibu Suryati..

Suryati sudah diwawancarai pekan lalu. Hari ini dia datang untuk mengetahui diterima atau tidak sebagai relawan.

Audio: Rasanya hati ini terpanggil. Sejak saya ikut kegiatan Posyandu, kader jentik, setelah itu kan banyak pertemuan di sini. Hati saya terpanggil. Ah coba saya ingin mengabdikan yang tentang relawan seperti ini. Saya ingin tahu, untuk menambah ilmu saya.

Audio: Saya udah wawancara. Ibu, mungkin ada perubahan? Ibu masih puyna tekad untuk ikut? Masih. Nggak mbatalin? Nggak. Nggak Pak aku ingin menambah ilmu, wawasan. ..
(Ibu Suryati diterima nggak?) Iya, diterima.

Suci, yang sudah 4 tahun bekerja sebagai relawan, mengingatkan, tugas ini sangat berat.

Audio: Kita tahu kesehatan dan perkembangan dia seperti apa. Sakitnya apa, kita perhatiin. Nenek udah makan belum? Sehat Nek? Hari ini Nenek sudah jalan ke mana? Olahraga. Kan setiap datang kita pesan, Nenek kalau pagi jalan ya, kalo bisa sama cucunya. Atau sama anaknya, biar sehat.

Kalau diterima jadi relawan, maka langkah selanjutnya adalah ikut pelatihan, kata Sofyan Manurung, koordinator pelatih relawan pendamping lansia.

Audio: Di sana dilatih gimana mempraktikkan ilmu yang didapatkan sehingga bisa digunakan. Contoh gimana menuntun lansia yang pakai tongkat, gimana memindahkan lansia dari tempat tidur untuk duduk ke kursi roda, dari kursi roda ke tempat tidur. Relawan juga dilatih berbagai penyakit dan tanda penyakit untuk memudahkan mereka ke puskesmas setempat.

Sebagai relawan, mereka juga dibekali sebuah buku kecil. Mereka menyebutnya ‘buku kuning’, mengacu ke warna sampul buku. Ini adalah panduan merawat lansia, juga catatan hasil pertemuan mingguan antara relawan dengan lansia.

Audio: Saya sedang membaca buku panduan Home Care dan catatan kunjungan dari seorang lansia bernama Ibu Turmi. Tercatat ada kunjungan dilakukan pada 4 September 2006. Catatannya begini,”Ibu Darmi cerita, katanya lagi pusing, tapi sudah minum obat, sekarang tinggal lemesnya. Saya ke situ, Mbah Darmi lagi tidur-tiduran.” Lalu kunjungan berikutnya dilakukan 11 September 2006, berarti selang sekitar seminggu. “Hari ini saya ke rumah Mbah Darmi. Beliau sehat dan segar sekali. Katanya tadi habis ke rumah anaknya, kangen sama cucunya.”

Audio: Udah ya Nek ya, makasih banyak. Udah nggak usah nganter, Nenek masuk saja. Jangan bosen-bosen datang. Sering-sering datang ke mari, enak ngobrol.

Program pendampingan lansia di rumah ini memang menitikberatkan pada lingkungan di sekitar lansia. Bisa keluarga, bisa juga tetangga sekitar. Eva Sabdono, Ketua Yayasan Emong Lansia, percaya, nilai gotong royong masih hidup kuat di tengah masyarakat Indonesia.

Audio: Di Indonesia kan ada budaya yang sangat bagus yaitu gotong royong. Kalau kita membangkitkan perhatian dari masyarkaat, pasti itu bisa untuk menangani melalui yang kita sebut home care, pendampingan lanjut usia di rumah. Kalau ada anaknya ya kita kasih bimbingan. Kalau tidak anaknya ya tetangga-tetangganya. Memberi pendampingan bagi lansia di rumah. Budaya gotong royong itu masih ada di Indonesia.

Penghalang justru kerap datang dari keluarga, kata Eva. Ada saja keluarga yang tak mau orangtua mereka ikut program home care. Gengsi.

Audio: Tidak semua membutuhkan home care. Dan itu juga harus ada persetujuan dari lansia dan keluarga, bahwa dia setuju untuk diberikan pendampingan. Ada prosesnya. Ada yang tidak setuju. Alasannya? Itu sebetulnya hanya pride yang salah. Malu. Tapi itu kan salah. Kita tidak boleh memaksa. Jadi ada keluarga yang tidak setuju.

Dengan kondisi kesehatan yang makin baik di Indonesia, angka harapan hidup makin panjang. Kalau Indonesia sekarang masih dipandang sebagai negara muda, dengan jumlah penduduk usia produktif yang paling besar dibandingkan kelompok usia lainnya. Tapi, kondisi akan berubah.

Tahun 2050, satu dari empat orang Indonesia adalah lansia. Kalau sudah begini, sulit rasanya berharap pada Panti Werdha yang jumlahnya terbatas. Karenanya, bagi Sofyan Manurung, program pendampingan lansia di rumah atau home care adalah paduan sempurna kebahagiaan lansia dan tanggung jawab sosial.

Audio: Artinya lansia yang kita tangani bisa hidup ceria dan mandiri. Lansia ini kan sebenarnya tinggal menunggu panggilan. Nah apa salahnya dalam hari-hari tuanya ini diisi dengan kesenangan-kesenangan dia, tanpa satu beban dan juga dipersiapkan gimana bisa bertemu Khaliknya.

Audio: Ini ada sedikit ya Bu. Tapi shalat jangan ditinggal. Cuma itu buat kita berangkat ke sana. Bapak salat nggak? Udah gini gimana bisa salat. Sambil duduk bisa Nek. Selonjor aja. Jangan ditinggal ya Nek salatnya. Nenek soalnya udah tua, nggak bawa bekal apa-apa. Yang kita bawa solat, amal ibadah kita. Kita pulang dulu ya.

Audio: Udah ya Nek ya, makasih banyak. Udah nggak usah nganter, Nenek masuk saja. Jangan bosen-bosen datang. Sering-sering datang ke mari, enak ngobrol.


[Citra Prastuti | KBR68H]

Tuesday, March 17, 2009

Menata Masa Depan Lansia

Hampir seperempat jumlah pekerja di Indonesia adalah pekerja informal. Mereka tak punya penghasilan tetap, apalagi pensiun untuk masa tua. Sekarang usia mereka mungkin masih produktif, tubuh sehat untuk bekerja siang malam. Tapi bagaimana kelak nasib mereka di masa tua? Reporter KBR68H Citra Prastuti dan Ziphora Robina dari Radio Internasional Jerman Deutsche Welle berbincang dengan Grup Dangdut Rembulan, sembari mencari tahu rencana besar pemerintah untuk mengurus lansia.

Audio: Suasana Grup Rembulan ngamen: Aku merasakan di malam pertama, begitu dingin, seakan tak punya cinta…

Audio: (Nama grupnya apa sih?) Rembulan Grup. (Sebagai penyanyi di kafe dapat penghasilan berapa, setiap bulan?) Kita nggak dihitung bulan, paling harian, saweran. Kita ngitung pendapatan dari saweran. Kalo lagi rame, ya rame. Kalo lagi sepi ya kadang sama sekali nggak dapet. Kalo lagi rame bisa di atas 40 ribu. Kadang 100. Kalo lagi sepi, kadang 5 ribu. Kadang sama sekali nggak dapat. (Dari kafenya sendiri?) Paling uang makan doang, buat transport.

Siang mengamen di jalanan, malam nyanyi di kafe dangdut Lone Star di Jakarta Pusat. Grup Rembulan terdiri dari Daru, Rena dan Edi, semuanya sudah berkeluarga. Rena dan Edi 26 tahun, sementara Daru 30-an tahun. Grup ini terbentuk sejak lebih lima tahun silam. Sebagai musisi kelas bawah, pendapatan mereka kecil, juga tak pasti.

Audio: Suasana ngamen: Lagu apa nih. Jreng jreng. Bagai disayat-sayat, sakitnya hati, betapa sakitnya hati.. Bagai diremas-remas, hancurnya jiwa, betapa hancurnya jiwa…

Audio: Suasana Jalan Wahid Hasyim

Audio: 70 persen pekerja di Indonesia adalah pekerja di sektor informal yang tidak punya penghasilan tetap dan tidak punya tabungan pensiun untuk masa tua. Mereka bisa bekerja di berbagai bidang, dari berjualan di pinggir jalan sampai menarik bajaj seperti yang dilakukan Pak Saim, laki-laki asal Tegal yang sudah menarik bajaj selama 10 tahun. Ia punya tanggungan keluarga dengan tiga anak, tapi sampai sekarnag ia tidak punya tabungan atau persiapan untuk masa tuanya.

Audio: (Sebulan bisa ngirim berapa?) Nggak tentu. Kadang 300, kadang bisa 400. Kadang kalo nggak ada, cukup untuk jajan anak, 100 ribu juga kirim. (Bisa nabung untuk hari tua?) Nggak bisa kayaknya. Belum bisa. Keadaannya begini. (Rencana hari tua?) Kemungkinan kalo udah begini paling pulang ke kampong. (Di kampung mau ngapain?) Mungkin kerja tani, gitu aja. (Nggak ada tabungan sama sekali?) Nggak ada.

Audio: Suasana bajaj

Audio: Suasana Edi bikin keset

Edi dulunya juga pekerja jalanan. Jadi pemulung, dengan pendapatan cuma sekitar 250 ribu per bulan. Tapi usia kepala 6 membuat Edi harus menyerah di tangan Satpol PP yang merazianya. Sejak lima bulan silam, ia jadi penghuni Panti Werdha milik Dinas Sosial Jakarta. Lokasinya di Marga Guna, Jakarta Selatan.

Audio: Ini lagi bikin keset, injekan, alas kaki. (Bahannya apa?) Dari kain katun. Macem-macem, ada yang kasar dan halus. (Setiap hari bikin keset ini?) Kalau ini sih iseng aja, jadi nggak rutin bener. Jadi kalau tempo hari kan saya masih belajar, jadi lamaa bikinnya. Seminggu baru dapat satu, sekarnag satu hari satu.

Audio: Suasana di panti werdha

Di panti ini, Edi tinggal bersama 150-an lansia lainnya di dalam 8 barak yang tersedia. Mayoritas penghuninya adalah perempuan. Alasan mereka masuk panti bermacam-macam. Ada yang kena garuk seperti Edi, ada juga yang secara sadar memilih masuk panti. Seperti Umi, Maria dan Bolot.

Audio: Ibu kenapa tinggal di panti? (terdiam) Terus terang saya karena nggak punya anak. Dan saya tidak ingin menyusahkan saya punya keluarga. (nangis).

Audio: Saya nggak punya orangtua, nggak punya suami, nggak punya anak. Daripada kita ikut keponakan gitu, atau temen-temen, ya saya udah deh mau pasrah aja tinggal di panti. Kalo di panti kan enak, banyak sodara.

Audio: Karena sudah nggak bisa kerja, keluarga nggak mau tau. Kita udah nggak kerja, daripada jadi beban, kita kan repot sendiri. Kaki udah nggak mampu untuk jalan, dan tangan kiri juga nggak bisa untuk kerja. Kita kan diurus di sini.

Audio: Suasana di panti werdha

Saat ini tercatat ada 19 juta lansia di seluruh tanah air. Hampir 3 juta lansia masuk kategori miskin dan terlantar. Ini baru data tahun 2004, lima tahun lalu, yang masuk dipakai Departemen Sosial. Sisanya, hanya 10 persen yang mengantongi pensiun untuk menopang hari tua mereka.

Audio: Atun nyanyi Mars Lansia

Atun, penghuni Panti Werdha di Marga Guna menyanyikan Mars Lansia.

Sekarang Indonesia masih terhitung sebagai negara muda, dengan jumlah penduduk usia muda yang lebih banyak. Tapi 15 tahun lagi, jumlah penduduk lanjut usia diperkirakan bakal melonjak tinggi karena kualitas kesehatan membaik dan angka harapan hidup makin tinggi. Kelak, satu dari empat orang Indonesia adalah lansia.

Sekitar 70 persen pekerja usia produktif saat ini bergerak di sektor informal. Tanpa pemasukan pasti, tanpa pensiun, seperti apa masa tua mereka kelak?

Audio Mars Lansia: Badan sehat jiwa kuat, sambut masa yang kan datang. Mutu hidup pun meningkat, masa tua bahagia…

Audio: Suasana Grup Rembulan ngamen: (suara kendang) Untuk apa kebun yang indah… tanpa kemesraan bagaikan boneka…

Audio: (Dengan penghasilan segitu, cukup?) Kalo halal, ya cukup. (Dengan penghasilan sekarang, punya tabungan?) Belum, hehehe. Kadang dapat uang, habis. Kalo musim ujan nggak jalan. Kalo siang ujan, kan malam jadi sepi juga. Siang juga nggak jalan. Di rumah aja. Nggak ada usaha lain.

Rena, Daru dan Edi dari Grup Rembulan belum punya rencana apa-apa untuk masa depan mereka. Uang yang didapat hari ini terlalu sedikit untuk disimpan buat esok lusa. Apalagi untuk masa tua.

Kalau keuangan tak dijaga ketat, sangat mungkin mereka kelak masuk dalam kategori lansia miskin dan terlantar.

Audio: Sekarang kita mencari rumah lansia berikutnya yaitu Bapak Buang Hidup.
Di jalan ini ada sederetan rumah yang dindingnnya dari tripleks. Di sini tertulis RT 03 RW 011 Kelurahan Tegal Alur. Kami tengah mencari rumah Pak Buang, lansia yang akan kita kunjungi bersama relawan dari Yayasan Emong Lansia.

Ain dan Buang Hidup, pasangan lansia usia 80-an tahun ini, tinggal bersama anak cucu, di sepetak rumah ukuran 4x4 meter dengan dinding tripleks dan gedek. Rumah mereka persis di pinggir Kali Gang Manyar, Kelurahan Tegal Alur, Jakarta Barat, dekat Bandara Soekarno Hatta. Kali ini hitam pekat, penuh sampah. Satu-satunya penghasilan datang dari anak mereka, yang bekerja jadi buruh panggul.

Audio: Anak saya? Kalo lagi ada panggulan ya manggul. Kalo enggak ya ngerawat saya. Anak saya laki doang satu, ngikutin saya. (Penghasilan anak ibu?) Penghasilan ya.. manggul paling 20-50. Paling banyak dapet 50, kalo enggak paling 20. (Itu cukup?) Itu cukup nggak cukup dah. Abis pegimana, saya orang nggak punya, mau ke mana. Nggak ada yang dijual-jual. Cukup nggak cukup ya udah segitu saya.

Kedua lansia ini adalah bagian dari lansia yang didampingi lewat program home care atau perawatan lansia di rumah. Lansia tetap tinggal bersama keluarga, sekaligus mendapat bantuan dari para relawan pendamping yang tak digaji. Bantuannya bisa berupa sembako untuk sehari-hari, atau sekadar limpahan perhatian.

Audio: Maunya sih lebih sering, orang saya orang nggak punya. Dikasih lagi, saya kan girang bu. Kalo ada kunjungan kan enak. Orang kagak bisa nyari, diempanin. Yang ngempanin nggak ada.

Audio: Ini ada sedikit ya Bu. Tapi shalat jangan ditinggal. Cuma itu buat kita berangkat ke sana. Bapak salat nggak? Udah gini gimana bisa salat. Sambil duduk bisa Nek. Selonjor aja. Jangan ditinggal ya Nek salatnya. Nenek soalnya udah tua, nggak bawa bekal apa-apa. Yang kita bawa solat, amal ibadah kita. Kita pulang dulu ya.

Eva Sabdono dari Yayasan Emong Lansia ada di belakang program home care di Kelurahan Tegal Alur, Jakarta Barat, salah satu daerah tertinggal di ibukota. Program pendampingan lansia di sana adalah proyek percontohan. Sekarang ada 6 kota di Indonesia yang menjalankan program serupa.

Audio: Tapi kan banyak lansia yang terlantar karena tidak ada yang bisa kasih perhatian. Dia di rumah tapi terlantar. Tapi yang di jalnaan kan tidak ada jalan lain kecuali memasukkan ke panti karena kan mereka butuh shelter. Masih banyak yang tinggal di rumah tapi miskin, anaknya juga miskin banyak yang nganggur, lalu gimana. Kami memang sudah ada sasarannya. Lansia yang tinggal sendiri, sakit-sakitan, bed ridden, dll. Ini sasaran dari home care.

Dari 19 juta lansia yang ada sekarang, 15 persen diantaranya hidup miskin dan terlantar. Hampir 3 juta lansia inilah yang jadi PR besar bagi Departemen Sosial. Mereka masuk kategori Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial, PMKS. Sialnya, dana mengurus lansia cekak, kata Sekjen Depsos Chazali Situmorang.

Audio: Wah kalo persen, nggak usah cerita lansia aja lah. Cerita Depsos dari 1030 triliun, anggaran yang diberikan hanya 3.4 triliun. Departemen ya. Jadi kalau ditukikkan lagi ke lansianya. Itu Cuma nol koma nol berapa persen itu. Jadi untuk cerita lansia, saya susah deh. Paling puluhan miliar lah. Jadi nggak usah presentase, karena digitnya nol koma nol.

Kalau dibandingkan 220 juta penduduk Indonesia, lansia yang 19 juta mungkin terlihat sedikit. Tapi percayalah, dengan kualitas kesehatan yang terus meningkat, jumlah lansia akan terus bertambah. Di sisi lain, kebanyakan pekerja muda sekarang adalah pekerja sektor informal yang pemasukannya pasang surut, tak terpikirkan untuk menyisihkan pensiun. Padahal, kata Eva, mereka juga sudah bekerja demi negara sehingga sudah selayaknya ikut dipikirkan oleh negara.

Audio: Lansia miskin itu 2.7. Yang tertangani dengan berbagai program, itu belum sampai 500 ribu. Dibandingkan 2.7, yang ditangani baru paling 300-an, itu kan kecil sekali. Dan bagiamana, kan tidak bisa semua masuk panti? Ada yang bisa di home care. Tidak semua bisa masuk home care. Lalu kenapa kita tidak punya jaminan hari tua. Kan mereka juga sudah bekerja untuk Negara. Kenapa tidak ada perhatian? Mereka dapat pensiun dari mana?

Sejak 2004, Indonesia sudah punya UU Sistem Jaminan Sosial Nasional. Oktober tahun ini, mestinya aturan dalam UU tersebut sudah direalisasikan. Bagian kelima UU SJSN mengatur soal Jaminan Pensiun. Pesertanya adalah pekerja yang telah membayar iuran.

Karena ada iuran inilah, menurut Sekjen Depsos, yang juga anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional DJSN Chazali Situmorang, pemerintah memprioritaskan pemberian pensiun kepada pekerja di sektor formal.

Audio: Di dalam UU itu, hak pensiun masih diutamakan kepada yang bekerja. Jadi bekerja di sektor formal. Ya itulah, karena pemerintah kalau semua dibuka, semua dapat pensiun, nggak mampu juga kan anggarannya. Kan sudah diperhitungkan. Bagaimana suatu UU diterbitkan kalau tidak bisa dilaksanakan?

Artinya ada 70 persen pekerja sektor informal yang kelak terancam jadi lansia terlantar, kalau Negara tak menyiapkan skema pengaman hari tua. Sejauh ini, Depsos yang bertugas mengurus lansia mengandalkan pada program Jaminan Sosial Lanjut Usia, lewat pemberian uang 300 ribu per orang per bulan. Tapi lagi-lagi, semua tergantung anggaran Negara, kata Chazali Situmorang, Sekjen Depsos. Dan itu, cekak.

Audio: Ke depan kalau anggaran memungkinkan kita akan berupaya supaya yang dapat jaminan sosial lebih banyak lagi. Inilah tugas pemerintah. Kalau anggaran bertambah, atau CSR kita jalan, kita bisa dorong ini. Ini kan sangat efektif. Dengan memberikan bantuan lansia ini, segmennya jelas dan dia tidak jadi beban keluarga itu.

Audio: Suasana dalam omprengan

Farid yang supir omprengan, Leni yang penjaga toko telepon selular dan Sumpena yang pedagang asongan, tak berani merancang masa tua mereka kelak.

Audio: Persiapan untuk hari tua? Belum. Ya nggak butuh apa-apa. Yang penting kecukupan saja untuk anak sekolah. Buat masa tua belum kepikiran. Kalo ada modal, usaha, biar ada untuk masa tua. Saking gak ada modal, terpaksa gini, sampai tua pun jadi.

Audio: Untuk masa tua? Masih pingin kerja kalau bisa kerja. Sampai nggak bisa kali, sampai 35 tahun. Abis itu berhenti? Iya. Kalo udah berhenti kerja? Mau usaha di rumah.

Audio: (Penghasilan sebulan?) Nggak tentu. Kadang 30, kadang 25 ribu, sehari. (Persiapan buat hari tua?) Belum, baru ngumpul-ngumpul aja. Duit gitu. (Rencana hari tua?) Kalo udah punya duit mah diem aja di rumah.

Eva Sabdono dari Yayasan Emong Lansia tak banyak berharap pada UU Sistem Jaminan Sosial Nasional. Dengan sistem dan pendataan lansia yang sulit diandalkan, bisa-bisa nasib lansia baru membaik setelah dua generasi. Karenanya, Eva lebih percaya kepada persiapan tiap orang untuk masa depannya masing-masing.

Audio: Masing-masing harus juga memikirkan. Jangan terlalu harpakan pemerintah yang akan memelihara kita. Kita sendiri juga harus bertanggung jawab. Sekarang 85 persen lansia oke, berarti kan mereka mempersiapkan diri. Tapi nanti kan berubah, kita gak mengharapkan apa-apa dari pemerintah. Jangan mengharapkan, Anda menjadi tua dan akan dibantu pemerintah. Jangan harapkan itu. Secara logika nggak mungkin.

Audio: Suasana Anto bikin rujak, Garam, sambel? Ini mangganya mangga rujak ya.

Sembari memotong mangga, semangka, jambu dan pepaya, serta menambahkan bumbu kacang, Anto bercerita soal persiapan hari tuanya. Pendapatan sebagai tukang rujak akan dipakai untuk pulang kampung dan nyawah, kata dia.

Audio: (Bapak dengan tiap hari bisa dapat 400 ribu, puyna tabungan?) Sedikit-sedikit ada sih. Ada lah. (Persiapan untuk hari tua?) Ada lah sedikit-sedikit. (Persiapannya apa saja?) Beli tanah, persiapan bikin rumah, beli sapi kambing. Tabungannya di situ doing. Kalo tabungan di bank, nggak ada. (Kalo udah tua, Bapak nggak punya penghasilan, nggak bisa dagang rujak lagi, gimana persiapannya?) Satu-satunya paling kalo udah mentok ya tani. Kan kita udah beli tanah. Kalo udah mentok, tenaga udah lemah, paling tani. Di rumah sambil dagang kecil-kecilan. Planning saya begitu doang.

Audio: Suasana Grup Rembulan ngamen, Aku merasakan di malam pertama, begitu dingin, seakan tak punya cinta…

Sementara Rena, Daru dan Edi tak kuasa memikirkan bagaimana masa tua mereka kelak.

Audio: Suasana Grup Rembulan, (Nggak ada tabungan, kira-kira persiapannya gimana?) Nggak tau juga deh, belum mikir ke sono ya. Nggak ada pensiunannya di musik, nggak ada yang gaji. Ada yang gaji, tukang sate, hahaha.

Audio: Suasana Grup Rembulan ngamen, Jeraa.. bercintaaa.. Jeraaa.. jera jera jera jeraaa.. Jeraaa.. bercinta jera jera jera jera…


[Citra Prastuti KBR68H | Ziphora Robina DW]

Friday, February 13, 2009

Wayang Orang Warisan Keraton Surakarta


Pertunjukan wayang orang menjadi satu peninggalan budaya Keraton Surakarta yang tersisa. Sejak kepemimpinan Pakubuwono ke-X, pertunjukan wayang orang tak lagi milik keluarga istana, tapi bisa dinikmati masyarakat umum. Pertunjukan yang berusia lebih seabad itu, kini seakan tertidur lelap, tak terdengar kabarnya lagi. Reporter KBR68H Nanda Hidayat berkunjung ke Solo Jawa Tengah untuk melihat pertunjukan wayang orang yang masih bertahan ditengah terpaan pertunjukan modern.

Audio: Suasana wayang orang

Lakon tiga raksasa menjadi pembuka pertunjukan wayang orang di gedung Sriwedari, Solo Jawa Tengah. Judul lakon ini adalah ‘Sakuntala’, sebuah cerita Jawa Kuno, yang memberi pesan moral akan kesetiaan suami kepada istrinya.

Tepuk tangan penonton tak juga mengusir kesunyian pertujukan yang berlangsung pada Jumat malam itu. Bukan karena kota Solo diguyur hujan seharian, tapi dari 500 kursi yang tersedia, hanya 20-an yang terisi penonton. Suasana pun nampak lengang meski lakon raksasa, lenggak-lenggok penari dan banyolan Petruk kerap menghibur penonton.

Audio: Suasana wayang orang

Meski sepi, setiap hari selalu disajikan cerita yang berbeda. Dengan begitu, dalam setahun ada 365 cerita yang harus disiapkan sejumlah sutradara. Salah satu sutradaranya adalah Dewoso, yang sudah bergabung dengan Wayang Orang Sriwedari sejak 2000 lalu.

Audio: Kami punya program dalam satu tahun ngak ada yang sama, paling tidak menyeiapkan 365 cita dan refrensi buku yang tua hanya di Sriwedari kalau yang muda itu saya kasih yang asli dari India. syarat-syarat Pusnopropwojo atau syarat-syarat yang ada di Keraton Surakarta harap dibaca

Audio: Suasana pebelian tiket

Penonton hanya perlu mengeluarkan uang 3 ribu rupiah untuk menonton pertunjukan yang berlangsung selama tiga jam, dari pukul 8 hingga 11 malam. Puji Maharani seorang penjaga tiket, nampak santai mencorat-coret kertas kosong menunggu penonton di loket karcis. Hingga 10 menit pertunjukan dimulai, baru 13 tiket yang laku terjual.

Audio: Wah hari ini 11 mas dan 13 sama yang dua tadi. Biasanya sampai 20-26 hari biasa, kalo hariminggu lebih dari 100, hari Minggu saja yang rame. Ada 500 kursi, tiap hari rata-rata 25 banyak yang kosong, kalau malam Minggu aja sama hari libur sekolah yang rame sekali, kalau hari biasa sepi tadi malam cuma 14.

Gedung wayang orang Sriwidari terletak sekitar dua kilometer dari Keraton Kasunanan Surakarta. Di depan gedung seluas 600 meter itu, terdapat patung Gatot Kaca dan Srikandi. Ada juga spanduk bertuliskan “Cintailah Budaya Negeri Kita”. Sayanganya, gedung kesenian berasitektur tua itu nampak tak terawat dengan baik. Atap atas gedung terlihat rusak dan dinding gedung sulit dibedakan apakah berwarna putih atau kuning. Untunglah, sebagian penonton masih merasa nyaman berada di dalamnya karena dilengkapi mesin pendingin ruangan dan bangku kayu yang masih berfungsi baik.

Audio: Suasana tempat hiburan

Dua ratus meter di depan gedung wayang orang Sriwedari terdapat tempat hiburan keluarga dan anak-anak. Tempat ini nampak ramai pengunjung meski harga tiketnya lebih mahal. Suasana yang begitu kontras dengan gedung wayang orang.

Audio: Suasana tempat hiburan

“Kesetiaan Melestarikan Peninggalan Kebudayan Keraton.” Itulah kunci yang menjadi panutan masyarakat Solo untuk tetap mempertahankan keberadaan wayang orang. Adalah kebanggaan tersendiri bagi 80 anggota wayang orang Sriwedari yang tetap bertahan di tengah terpaan pertunjukan modern. Dewoso, koordinator yang sekaligus penari wayang orang Sriwedari, berkomitmen tetap melestarikan pertujukan wayang orang yang sudah ada sejak Raja Pukubuwono ke X, atau lebih dari seabad silam.

Audio: Wayang orang Sriwedari itu sudah satu abad lebih, dulu itu budaya keraton surakarta yang pada masa pemerintahan Pakubuwono X itu sebagai himbuan raja kareana bukan asli budaya solo keraton maka dimasukkan ke taman sriwidari untuk hiburan masyarakat umum, itu sekitar tahun 1921

Dewoso pun bertekad mengembalikan kejayaan pertunjukan wayang orang seperti di era 80-an.

Audio: Masa kejayaan itu seitar 80-an masa Pak Surono, Bu Darsih dan Pak Rusman, dan setelah Pak Rusman meninggal itu sekitar 99 hingga 2003 kita bisa dibilang mati tak mau dan hdup juga enggan…

Ibarat magnet, pertunjukan wayang orang telah menyatu dengan masyarakat Solo. Tak ada hari tanpa pertunjukan. Mahrani Purjono, pedagang minuman di gedung wayang Sriwedari, ikut jadi saksi naik turunnya jumlah penonton wayang orang. Meski tak memperoleh untung banyak dari berdagang selama 51 tahun di sana, Mahrani bangga menjadi bagian dari peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta.

Audio: Bahasa Jawa : sekitar tahun seket siji iya.. ya ndak anu, malam minggu aja rame.. dulumasih dipager kawat. Ya ndak pindah kasih, boten pindah yang penting seketik-seketik sekalian nonton. boten.. paling 5000 [Artinya : Saya sudah berjualan selama 51 tahun di sini, yang tidak mau pindah kasian. Ramenya sih bisanya malam minggu. Kalau dulu rame, dulu masih dipagar kawat belum gedung seperti sekarang. Saya ngak pindah, baitr untungnya dagang Cuma sedikit-sedikit sekalian nonton.. paling untungnya 5000 aja]

Pemerintah daearah kota Solo memasukkan pertunjukan wayang orang sebagai budaya Keraton Kasunanan Surakarta yang harus dilestarikan. Karena itu, menurut kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Solo, Purnomo Subagio, pentas wayang orang di gedung Sriwedari harus dipertahankan meski terkendala banyak masalah.

Audio: Itu wayang orang itu tiap malam mesti pentas meski ngak ada yang nyaksikan itu harus pentas. Problemnya itu fisik bangunan , peralatan yang harus dibenahi kita belum tahu itu tergantun kebijakan kepala daerah agar wayang orang ini kembali digemari oleh msyarakat, khusunya oleh masyarakat Surakarta.

Tapi niat dan komitmen saja tak cukup untuk melestarikan pertunjukan wayang orang. Perbaikan apa saja yang dibutuhkan demi keberlangsungan hidup wayang orang Sriwedari di Surakarta?

Audio: Suasana wayang orang

Audio: Untuk pelestarian budaya kami tetap aksis karena ikon kota solo khususnya ialah wayang orang dan di Indonesia hanaya satu yang eksis yaitu hanya di Sriwedari. Mungin sudah mendapat dari luar nmegeri bahwa wayang orang ini tolak ukur budaya wayang orang

Ketertarikan Dewoso untuk mempelajari wayang orang dimulai sejak usia kanak-kanak. Kini dia bertugas memimpin para penari dalam pertunjukan wayang orang di Gedung Sriwedari, Solo. Selain sebagai sutradara, Dewoso turut bermain di tiap pementasan. Tak hanya di dalam negeri, tapi juga saat pentas di mancanegara.

Audio: Suasana wayang orang

Bersama 80 anggota penari wayang orang Sriwedari lainnya, Dewoso telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Solo sejak 2000 lalu. Tugasnya menari di panggung Sriwedari, ramai ataupun sepi penonton. Dia bangga bisa ikut melestarikan budaya Keraton Kasunanan Surakarta yang berumur lebih dari 100 tahun. Bahkan, darah seni yang mengalir dari keluarganya kini turun ke sang anak yang juga mulai belajar menari.

Audio: Bergabung di wayang orang jadi kami diangkat sebagai pegawai negeri sipil tapi khusus untuk pelestarian budaya wayang orang, saya secara peribadi melaksanakan tugas dan banga karena bisa menyalurkan apa yang ada dalam diri saya. sya berlatar belakang dari keluarga seniman, saya juga seniman, anak saya juga. saya merasa bangga sekali dan saya total..

Materi bukan ukuran kepuasan bagi anggota Wayang Orang Sriwedari. Tri Haryanti, salah satu penari, justru merasakan tingkat kepuasan yang tinggi setiap kali mampu membawakan lakon dengan baik setiap kali pentas. Tapi kekecewaan tak bisa ditutupi saat pementasan sepi dikunjungi penonton.

Audio: Main disini seneng, kerja disini soalnya kerjanya santai, kalau sepi kecewa tapi sudah biasaya. tapi anggap saja banyak penontonya biar semangat kerja. bangga.. bangga sekali bahkan pengennya ebih maju agar penontonnya banyak gitu aja…

Audio: Suasana wayang orang

Supaya penonton wayang orang membludak lagi seperti dulu, perlu ada banyak perbaikan. Mulai dari cerita yang dibawakan, juga tata lampu dan pencahayaan, tata panggung serta bahasa yang dipakai.

Audio: Suasana wayang orang

Bambang Sugiyanto sudah menonton wayang orang Sriwedari sejak usia kanak-kanak. Meski ia adalah penutur bahasa Jawa, ia mengaku kerap tidak mengerti lakon yang ditampilkan dalam pertunjukan tersebut.

Audio: Jujur sebenarnya hanya diajak kakak sya kesini. saya ngak tahu ini. itu masukan bagi kakak saya yang kebetulan kepala bidang pariwisata, saya ngak tahu lakonnya dan mungkin karena saya orang jawa jadi saya tahu mau kemana ceritanya..

Sembari menunjuk panggung yang tak terlalu terang, Bambang Sugiyanto menekankan pentingnya perbaikan di teknologi pencahayaan, latar panggung serta suara. Kata Bambang, masalah ini kerap dikeluhkan penonton.

Audio: Sebenarnya saya perlu kasih masukan untuk perbaikan. misalnya waktu saya kecil terlihat terang sekarang kurang misalnya dari unsur pencahayaan. terus mungkin mestinya isa masukan untuk theknoligi seperti pake LCD. tapi apakah itu akan merubah dari ketradisionlanya iitu belum tahu. munkin diperbaiki dari pencahayaan dan multimedia karena anak muda sekarang senangnya dengan theknologi

Masyarakat Solo menaruh harapan besar kepada pemerintah setempat untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan wayang orang. Tapi dana jadi kendala, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Solo, Purnomo Subagio.

Audio: Memang masih membutuhkan dana yang cukup besar kita perioritaskan dimasalah ekonomi dulu untuk tahun ini memang masalah ekinomi dikota solo dulu. untuk wayang orang berjalan sepeerti adanay dulu.

Meski ada kendala di sini dan di situ, Purnomo bangga karena pelakon wayang orang bisa menyumbangkan 5 juta rupiah ke kas daerah setiap tahun.

Audio: Mereka itu sudah digaji PNS jadi tiap bulan, makanya tiap malam main meski ngak ada penontonnya. karcis masuk ke PAD satu tahun dapat erapa penjualan karcis ya ngan begitu banyak mungkin targetnya Cuma lima juta PAD karcis itu untuk satu tahun

Audio: suasana wayang orang

Audio: Untuk pelestarian budaya kami tetap aksis karena aikon kota solo khususnya ialah wayang orang dan di Indonesia hanaya satu yang eksis yaitu hanya di Sriwedari. mungkin sudah mendapat dari luar nmegeri bahwa wayang orang ini tolak ukur budaya wayang orang

Audio: Main disini seneng, kerja disini soalnya kerjanya santai, kalau sepi kecewa tapi sudah biasaya. tapi anggap saja banyak penontonya biar semangat kerja. bangga.. bangga sekali bahkan pengennya ebih maju agar penontonnya banyak gitu aja

Audio: Suasana wayang orang


[Nanda Hidayat | KBR68H]


foto: www.swaberita.com

Thursday, February 12, 2009

Transmigrasi, Masihkah Diminati?


Program ‘transmigrasi’ sangat erat dengan Orde Baru. Saat itu, penduduk di Pulau Jawa dipindahkan ke pulau-pulau lain yang relatif lebih sepi, demi mengurangi kepadatan penduduk di Jawa dan mengurangi kemiskinan. Salah satu provinsi awal penerima transmigran dari Jawa adalah Lampung, diantaranya ke Gedong Tataan. Setelah lebih 60 tahun berjalan, bagaimana program ini berjalan? Reporter KBR68H Taufik Wijaya mencari tahu, masih adakah yang berminat ikut transmigrasi? Berikut ceritanya.

Audio: (saudara, saat ini saya tengah menuju Kota Purbolinggo dengan ojek motor. Di kanan kiri saya nampak terhampar kebun singkong dan rumah para transmigran. Umumnya mereka datang dari Jawa sekitar 1950 an. Jalan di sini sudah teraspal. Rumah yang dihuni para transmigran adalah rumah permanen atau rumah yang menggunakan batu bata…) Audio: Suara lalu lintas Purbolinggo
Walaupun namanya Purbolinggo, ini bukan di tanah Jawa, tapi di Lampung Timur. Desa yang saya datangi bernama Taman Asri, yang dihuni lebih 700 keluarga transmigran. Ini adalah salah satu lokasi transmigrasi tertua di Indonesia, sejak program ini dicanangkan pemerintah pada 1950. Letaknya sekitar 2 jam perjalanan dari ibukota provinsi, Bandar Lampung.

Audio: Suara lalu lintas Purbolinggo Audio: Suasana desa, bunyi jangkrik

Saya menuju rumah Jamikan, transmigran yang usianya sudah 73 tahun. Usia boleh tua, tapi tubuhnya masih sangat bugar. Pak Mikan bercerita, ia diajak saudaranya bertransmigrasi pada 1953 dari kampong halaman, di Gunung Kidul, Yogyakarta. Usia Jamikan saat itu baru 18 tahun.

Audio: (Masalah ekonomi. Karena saya keluarga besar , ekonomi kurang, terpaksa saya ingin ke Lampung. Karena daerahnya subur makmur katanya. Apa yang dikelola jadi. Kita kan orang hidup pingin makan, dan akhirnya masuk ke Taman Asri) Audio: Suasana desa, bunyi jangkrik

Audio: ( transmigrasi disini dapat tanah 1 hektar dan halaman setengah hektar. Transmigran juga dapat rumah darurat…)

Rumah darurat itu berdinding bambu, beratap ilalang kering, berukuran sekitar 6 kali 9 meter. Sebagai bekal, para transmigran diberi alat pertanian dan bantuan makanan.

Audio: (Sulit tidak beradaptasi dengan alam dan lingkungan di sini pada awalnya? Memang kalau saya rasa memang sulit. Karena dulu itu Pembina apapun belum ada seperti Pembina pertanian belum ada. (Fasilitas) Pendidikan belum seberapa. Sehingga adik adik saya tak meneruskan sekolah) Audio: Suasana mencangkul di kebun
Tanah sehektar yang diperoleh Jamikan lantas ditanami padi, jagung dan singkong.

Audio: (karena saya di Jawa sudah mengikuti orang tua bertani, jadi membuka tanah di sini mudah. Karena di sini tanahnya selain subur juga tidak miring-miring seperti di Gunung Kidul. Hanya di sini termasuk masih Rimba. Bagaimana dengan ancaman binatang buas? Ada monyet, harimau, gajah tidak ada dan Babi hutan Mengganggunya dengan tanaman. Tidak dengan orang)

Saban tahun, Jamikan bisa memanen 3 ton padi per hektar.

Audio: (tahun 50 an itu kalau singkong, belum bisa diperkirakan (hasilnya) kalau padi bisa mencapai 3 ton. kalau singkong hanya sedikit sedikit saja. Hasil panen langsung dijual? Tidak waktu itu belum ada istilah padi jual beli. Dulu itu ditimbun, dan dimakan untuk keluarga Audio: Suasana desa, bunyi jangkrik

Kerja keras Jamikan sebagai transmigran di Lampung membuahkan hasil. Dari hasil pertanian, Jamikan yang hanya sekolah tingkat SD berhasil menghantarkan tujuh anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ada yang jadi sarjana, ada yang kini bekerja sebagai PNS.

Audio: ( Jadi insya alloh dengan berkat tuhan, saya dapat mengenyam hasilnya. Meski saya bukan transmigran asli. Tapi cita cita saya dari Jawa bisa tercapai. Sekarang saya bisa menyekolahkan anak saya sesuai dengan idam-idaman saya)
Sebelum mengakhiri perbincangan, Jamikan menitip pesan. Ia meminta pemerintah terus memantau perkembangan transmigran yang baru merintis wilayahnya

Audio: (tapi kalau selalu dipantau pemerintah saban satu tahun sekali. Bagaimana perkembangannya dan bagaimana yang harus dilakukan pemerintah. Dan sekarang ka nada lembaga masing-masing pemerintah seperti pertanian, kesehatan dll. Saya harapkan pemantauan dilakukan di daerah manapun juga)

Saudara, setelah hampir 60 tahun berjalan, bagaimana kabar program transmigrasi kini? Masihkah diminati?

Siswono Judohusodo gundah karena lahan pertanian di Jawa terus menyusut. Mengutip data Sensut Pertanian 2003, sepanjang 10 tahun, luas pertanian mengecil 0,18 hektar. Bekas Menteri Transmigrasi dan Permukiman Perambah Hutan era Pemerintah Soeharto mengatakan, kalau begini terus, petani terancam makin miskin.

Audio: (pada 2003 rata rata lahan yang dimiliki petani di pulau jawa sudah demikian sempitnya 0,3 hektar. Pada 10 tahun sebelumnya 1993, rata rata lahan petani di pulau Jawa mencapai 0,48 hektar. Nah menyempitnya lahan ini menjadi sumber kemiskinan petani. Oleh karena itu negara mesti menyediakan lahan yang lebih luas agar mereka semakin sejahtera)

Bagi Siswono, program transmigrasi sungguh relevan di zaman sekarang. Isu kemiskinan, kata Siswono, bisa ditangani dengan memindahkan sebagian penduduk, khususnya buruh tani yang miskin, ke luar Jawa. Supaya lebih sejahtera. Lewat transmigrasi, semua orang diberi kesempatan untuk bekerja dan mengolah sumber daya di pulau lain, seperti Papua, Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi.

Audio: (menurut saya program ini lebih diperlukan saat ini dibanding masa lalu. Kenapa? Karena jumlah penduduk Indonesia bertambah 1,3 persen pertahunnya. Setiap tahun lahir 3,5 juta orang. 25 tahun lagi penduduk Indonesia mencapai 400 juta orang, dan mereka semua perlu makan beras jagung gula tebu dll. Kita tidak mungkin kalau tidak melakukan perluasan areal pertanian)

Sejauh ini, peminat transmigrasi masih tinggi, tapi justru pelaksanaan programnya yang terkendala. Begini alasan Direktur Perencanaan Teknis Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Depnakertras, Prasetyoadi Warsono

Audio: (kalau dari peminat masih banyak. Data terakhir peminat mencapai 125 ribu Kepala Keluaraga yang sudah mendaftar kepada kita tapi mereka masuk waiting list. Nah ini karena masalah kemampuan pendanaan kita yang kecil untuk program transmigrasi. Untuk itu perlu dukungan politis seperti yang disampaikan pak Sis, bahwa program ini perlu digiatkan dibanding masa lalu. Untuk itu kita perlu trobosan…)

Terobosan yang dimaksud Prasetyo adalah program Transmigrasi Swakarsa Mandiri. Program ini dipopulerkan bekas Menteri Transmigrasi Siswono Judohusodo. Dana, tak lagi jadi kendala, karena ongkos sepenuhnya ditanggung tramigran. Pemerintah hanya perlu menyediakan lahan untuk tempat tinggal dan pertanian bagi para transmigran.

Audio: (Jadi kalau zaman orde baru, rata rata penduduk yang dipindahkan saban tahunnya bisa mencapai 150 ribu kepala keluarga sekarang kemampuan pemerintah makin kecil. Sehingga Yang bisa diberangkatkan saban tahunnya hanya 12.500 KK. Tapi dari tahun ke tahun kami akan memperbesar program transmigrasi swakarsa mandiri…)

Langkah lain adalah lewat program Kota Terpadu Mandiri, KTM, kerjasama pemerintah pusat dan daera. Mulai 2007 sampai 2009, rencananya akan dibangun 20 KTM, yaitu di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Kembali Prasetyoadi Warsono

Audio: (Jadi diantara permukiman di desa tra nsmigrasi jadi kita bangun pusat pertumbuhan dengan fungsi perkotaan didalamnya. Jadi kita bangun kota kota kecil di tengah permukiman. Sebetulnya sudah kami rancang permukiman transmigrasi nantinya menjadi pusat pertumbuhan..)

KTM sengaja dirancang untuk mendekatkan tempat pemasaran hasil pertanian dengan lokasi tempat tinggal.

Audio: (selama ini memasarkan hasil pertanian mereka berjuang sendiri, dan menuju ke kota atau kabupaten itu jaraknya cukup jauh dan infrasstrukturnya masih sangat minim. Nah untuk itu akan kita dekatkan ke lokasi pemasaran. Kita juga berikan nilai tambah dengan pengolahan hasil kerjasama dengan swasta. MIsalnya kita bangun pabrik padi di lokasi transmigran. Sehingga nilai tambah dapat mereka nikmati)

Pemerintah Kabupaten Boalemo, Gorontalo, termasuk yang ada di garda terdepan mendukung program Kota Terpadu Mandiri. Tak bisa dipungkiri, program ini butuh kerjasama erat antara pemerintah pusat dan daerah. Bupati Boalemo Iwan Bokings

Audio: (kami bukan hanya menerima program KTM, kami juga mendukung pendanaan sebesar 60 miliarrupiah dalam dua tahun ini. kami kucurkan dana APBD itu untuk menunjang KTM di desa Pawonsari Gorontalo) Audio: Suasana mencangkul di kebun Audio: Suasana desa, bunyi jangkrik

Masih ada harapan di balik program transmigrasi. Tidak hanya masa depan yang lebih cerah bagi para transmigran, tapi juga menurunnya angka kemiskinan di masa mendatang.

Audio: Suasana mencangkul di kebun Audio: Suasana desa, bunyi jangkrik


[Taufik Wijaya | KBR68H]


foto: www.malaysia.pnm.my