Friday, February 20, 2009

Tobat Pupuk Kimia


Inilah kisah ayah dan anak yang menggeluti pengembangan pupuk organik di Indonesia. Sang ayah Zainal Sudjais bertobat setelah puluhan tahun bergelut dengan pupuk kimia. Sementara si anak, Zein Mawardi Arief, bermodal sekolah bisnis selama 10 tahun di Amerika, kini menjadi bos pabrik pupuk organik yang mereka bentuk bersama. Reporter KBR68H Humto Jaya Marbun menyusun cerita inspirasi tentang mereka.

Audio: Suasana pabrik pupuk organik PT Superfarm

Dengan bangga kami perkenalkan Zainal Sudjais, tokoh senior di bidang perpupukan Indonesia. Coba tanya, siapa pegiat pupuk di Indonesia yang tak kenal namanya. Minimal pasti pernah dengar nama Zainal Sudjais karena dia sudah malang melintang memproduksi pupuk selama lebih dari 20 tahun.

Audio: Saya kalau di dunia perpupukan, itu dimulai dari Pupuk Kaltim, hampir 13 tahun. Kemudian di pupuk Asian Asean Fertilizer di Aceh itu 5,5 tahun. Kemudian di Pusri 4 tahun. Total 22 tahun di dunia perpupukan sebagai direksi dan terakhir pensiun dari Pusri pada 2004 di usia 62 tahun.

Lebih dari 20 tahun Zainal Sudjais berkecimpung di bisnis pupuk kimia. Sekali lagi, pupuk kimia. Tapi, kini dia berubah total, berbalik arah mengurus bisnis pupuk organik. Kata dia, ini untuk menebus kesalahannya selama 20 tahun yang turut andil merusak lahan pertanian Indonesia. Tak hanya pertanian, tapi juga lingkungan hidup.

Audio: Saya sebetulnya menekuni pupuk organik bukan setelah pensiun. Tapi sejak beberapa tahun sejak saya di Pusri, saya sudah mulai tumbuh dan timbul dari kesadaran itu karena setelah saya pelajari dunia pertanian yang lebih luas ternyata pupuk kimia itu kalau kita apply terapkan berlebihan ini justru malah menimbulkan masalah besar.

Karena itu, Zainal bertobat.

Audio: Dan saya tidak malu-malu saya katakan inilah saatnya saya menebus dosa yang selama sekian puluh tahun istilahnya ikut membuat kesalahan membikin petani menjadi kecanduan pupuk kimia, yang sebetulnya tidak boleh. Menjadi fanatik, seolah-olah bahwa tanpa pupuk kimia dia tidak boleh bertani.

Menurut Zainal, atas nama produksi, petani dimanjakan dengan pupuk kimia selama puluhan tahun. Awalnya, produksi memang melimpah, tapi tanpa sadar, tingkat kesuburan tanah kian merosot. Kalau sudah begini, dapat ditebak, kata Zainal, justru produksi bakal berkurang. Kalaupun hasil beras petani stabil, berarti pupuk kimia yang ditebar harus lebih banyak. Tahu sendiri, bagaimana harga pupuk kimia yang meroket, apalagi kalau dikabarkan langka. Petani susah, tanah juga disiksa dengan bahan kimia dalam pupuk.

Audio: Ternyata kita selama sekian puluhan tahun sejak revolusi hijau dicanangkan di mana kita kemudian ikut tahun 60 an ternyata kemudian karena asyik pupuk sintetik kita lupa masukan pupuk organik. Dan justru sebetulnya masukan organik itu sangat dibutuhkan oleh tanah. Karena tanah itu kan bukan sesuatu yang mati. Di dalam tanah itu ada miliaran, makhluk hidup yang namanya mikroorganism, itu butuh makanan. Makanannya adalah unsur-unsur organik. Ini kita lupa.

Audio: Suasana pabrik pupuk organik

Di usianya yang menginjak kepala tujuh, Zainal Sudjais menghabiskan masa tuanya dengan menggaungkan pentingnya petani menggunakan pupuk organik. Sejak tiga tahun lalu, dia membangun pabrik kecil di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan untuk memproduksi bahan organik bagi petani. Ada pupuk organik cair, pengendali hama organik, dan dekomposer organik untuk bahan tambahan pembuatan kompos.
Audio: Saya menekuni pupuk organik ini tidak tanggung-tanggung. Saya akhirnya juga ingin buktikan bahwa itu benar. Saya kemudian bangun pabrik kecil, pembuatan produk organik. Pupuk organik, pestisida organik, ada 11 macam produk.

Demi memuluskan penerimaan pupuk organik, Zainal juga memproduksi pupuk semi organik, yang dicampur pupuk kimia. Semangatnya tetap, mengurangi pemakaian pupuk kimia.

Audio: Suasana pabrik pupuk organik

Dengan modal awal 200 juta rupiah, Zainal Sudjais mendirikan Pabrik Pupuk Organik yang diberi nama Superfarm-Greenland Agrotech Industries. Sejumlah anak muda yang menekuni pengembangan pupuk organik, digandeng. Tak lupa, sang anak Zein Mawardi Arief yang telah 10 tahun menimba ilmu bisnis di Amerika Serikat, dipanggil pulang memimpin Superfarm.

Audio: Suasana pabrik pupuk organik

Regenerasi berjalan mulus dari ayah kepada anak. Sang ayah kini lebih banyak berbicara di forum-forum nasional dan internasional tentang betapa penting petani kembali ke pupuk organik. Istilahnya, kembali ke alam. Sementara Arief memegang kendali utama pabrik pupuk.

Audio: Saya punya mentor, ayah dan teman, Pak Jais, yang mendidik saya pertama bukan mendidik ilmunya. Tapi dia berikan bagaimana saya mencari ilmu. Dia tidak beri saya ilmu pupuk yang banyak, tapi beri contoh bagaimana mencari ilmu. Contoh membaca, mendengar dan berkawan dengan orang yang sudah lebih dulu di situ.
Pabrik pupuk organik Superfarm terus berkembang, bukan berarti tanpa aral melintang.

Audio: Suasana pabrik pupuk organik

Zainal Sudjais belajar dari kesalahan. Ia tak mau lagi merusak tanah dengan pupuk kimia.

Audio: Harus diakui, bahwa bukan hanya saya, tapi sebagian besar pelaku industri pupuk kimia, ilmunya itu-itu saja. Terbatas. Tidak mau mempelajari yang lebih luas. Ini harus saya akui. Saya telah melakukan kesalahan. Ternyata di eropa dan amrik sudah mulai digerakkan kembali ke alam.

Meski angin sudah bergerak ke arah pupuk organik, masih ada pengusaha yang ngotot bertahan di bidang ini. Ketika Zainal menjabat sebagai Wakil Presiden Federasi Pupuk Internasional, ia menyaksikan sendiri penolakan dari pengusaha pupuk kimia.
Audio: Di IFPA sendiri, pengetahuan mengenai pupuk organik itu selalu ditepis. Jadi, kita kan in fighting paper, Ini kan konferensi, itu selalu kalau ada yang datang bawa proposal mengenai pentingnya masukan organik, itu selalu disingkirkan. Ini menandakan di kalangan produsen pupuk kimia, ada kekhawatiran, bahwa kalau pupuk organik ini akan lebih populer akan menjadi ancaman industri pupuk kimia yang jumlah sudah besar.

Zainal maklum. Pupuk kimia sebetulnya bisa tetap dipakai bersanding dengan pupuk organik. Dan pupuk alami sesungguhnya adalah jawaban bagi bumi yang nestapa disiksa bahan kimia.

Audio: Sebetulnya, pupuk kimia itu penting sebagai suplemen. Bukan sebagai makanan utama. Sebagai suplemen dia bagus untuk meningkatkan produksi. Tapi jangan lupa tanah pun memerlukan masukan organik untuk bisa lebih terjaga kesuburannya. Sehingga dapat menyerap pupuk kimia tadi dengan efisien atau baik. Kalau sekarang misalnya pupuk urea ditebarkan itu maksimum 40 persen terserap selebihnya hilang. Masuk air tanah, tergelontor ke muara yang juga mengganggu tambak-tambak, dan ada yang ke udara. Saya harus jujur, pengetahuan yang sebetulnya elementer itu, kita lupakan.
Supaya ilmu dasar itu tak makin terlupakan, Zainal bertindak. Ia mengajak teman sejawatnya di dunia perpupukan Indonesia untuk membuka mata. Pupuk tak hanya soal produksi, tapi juga nasib tanah dan petani di masa mendatang.

Audio: Saya ajak kepada seluruh kawan-kawan di industri pupuk di Indonesia bahwa pengetahuan anda mengenai pertanian, khususnya di bidang perpupukan, hendaknya bisa lebih diperluas. Tidak sempit hanya berkutat di seputar produk anda tapi juga harus memperhatiakn yang lain-lain. Sehingga orientasi kita bukan ke bagaimana membesarkan pabrik kita tapi bagaimana mensejahterakan petani bagaimana membangunan pertanian Indonesia. Jadi tidak sempit hanya membicarakan PT A, B, C. untuk membangun kemandirian dan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Itu hanya bisa dengan menjamin tanah itu subur dan dijaga. Dan itu tidak lepas dari pupuk organik.

Pebisnis pupuk kimia berhasil ditaklukkan, kini saatnya menaklukkan petani yang tak terbiasa menggunakan pupuk organik.
Audio: Tinggal petani. Ini yang paling berat. Bagaimana menyadarakan petani. Ini tidak mudah. Maka perlu lebih dari gerakan 60-an. Dulu ada bimas, insus, untuk sosialisasikan pupuk kimia. Sekarang, pupuk organik ini lebih susah. Karena tendesinya orang katakan ini barang kuno. Sering dikatakan harus membutuhkan jumlah pupuk yang besar.

Namun, kegelisahan Zainal Sudjais tampaknya secara perlahan akan hilang. Pemerintah menyatakan akan terus mengembangkan pupuk organik. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan akan menyeimbangkan pupuk kimia dan organik bagi petani. Demi lingkungan hidup, kata Presiden.
Audio: Kita mengidentifikasi berapa perkiraan kebutuhan akan pupuk ini. Baik yang urea dan non urea. Dan Tentunya jangka menenegah, jangka panjang harus kita seimbangkan pula antara pupuk organik dan non organik.. Diketahui, bahwa sekitar 7 juta ton pupuk diperlukan untuk 2009-2010. Upaya untuk mengembangkan pupuk organik kita lakukan terus. Menteri Pertanian juga tadi laporkan soal rencana ke depan, bagaimana paduan yang baik antara pupuk organik dan anorganik. Agar juga lingkungan hidup bisa kita pelihara lebih baik lagi.

Menteri Pertanian pun, tambah Presiden, tengah merancang kebijakan untuk pemberian insentif harga pupuk organik, di samping menggenjot promosi. Kembali, Susilo Bambang Yudhoyono.
Audio: Saya menyambut baik saran petani dan saya meminta Menteri Pertanian ditingkat lagi promosi, sosialisasi, penjelasan. Dan bahkan tadi Menteri Pertanian punya konsep yang akan dituangkan nanti bagaimana harga pupuk organik supaya ada insentif. Dan kemudian bisa berkembang lebih baik lagi. Aspek itu juga kita lihat nanti, dengan tujuan sekali lagi, supaya lebih berimbang penggunaan pupuk organik dan nonorganik.

Kalau omongan Presiden ini benar. Tentu akan memuluskan cita-cita Zainal Sudjais dan Zein Mawardi Arief, anaknya.
Audio: Kesulitan produksi tidak ada yang besar. Hanya pemasarannya., karena saingan kita adalah pupuk anorganik. Ini dibela pemerintah. Sementara pupuk organik hanya didukung subsidi 1 triliun. Itu pun sudah termasuk paket lain termasuk benih.

Audio: Suasana pabrik pupuk organik

Saudara, pabrik pupuk organik Superfarm-Greenland Agrotech Industries yang dipimpin Zein Mawardi Arief mempekerjakan 70-80 orang. Tangan-tangan merekalah yang berandil besar memproduksi dekomposer, produk andalan Superfarm. Dekomposer merupakan bahan organik bagi petani untuk membuat kompos dan pupuk organik padat.

Audio: Di sini ada kotoran hewan, rempah-rempah, semua lewat sini. Dia akan menghilangkan. Masuk ke dalam steril. Salah satu ciri khas adalah tidak berbau. Justru awalnya kita menggunakan limbah-limbah. Cabe misalnya, banyak yang buangan, bawa sini. Tembakau kita datangkan dari Cirebon. Ada pabrik, buangannya, kita angkat. Boleh, bisa dikatakan ambil saja. Cabe contohnya, kita bisa beli yang tidak dipakai. Dikonsumsi untuk manusia rasanya tidak laku, kita beli.

Audio: Suasana pabrik pupuk organik

Dekomposer disukai petani karena lebih ringkas untuk memproduksi pupuk bikinan sendiri, yang bahan-bahan bakunya dapat diperoleh dari lingkungan petani itu sendiri. Seperti sampah rumah tangga dan kotoran hewan. Jika petani biasa menghasilkan kompos atau pupuk organik padat dalam 20-60 hari, maka dengan dekomposer Superfarm, kompos sudah dapat dihasilkan hanya dalam 5-7 hari saja.

Audio: Dijual per botol di petani seharga 30.000 untuk dekomposer. Bisa menghasilkan 1 ton pupuk kompos. Itu dipakai untuk membuat kompos dan mempercepat penguraian kompos yang baik dan matang itu dalam waktu 5-7 hari. Hasilnya 1 ton. Jadi hanya butuh ongkos 30 ribu rupiah. Jadi user kita bisa menghasilkan kompos dalam seminggu dari biasanya 20-60 hari.

Audio: Suasana Desa Jati Cipunagara Subang

Kelompok Tani Mekarsari di Desa Jati, Cipunagara, Subang, Jawa Barat adalah penggemar berat produk organik Superfarm. Lebih dari 70 petani di sana menggunakan produk Superfarm untuk menggarap 60-an hektar sawah. Ketua Kelompok tani Mekarsari Suta Suntana mengatakan sudah 3 tahun terakhir menggunakan pupuk organik cair, pengendali hama, dan dekomposer Superfarm.

Audio: Saya dulu pakai kimia. Tapi, karena saya lihat banyak program bagus Superfarm, saya ganti. Jadi petani sudah 20 tahun dan selama itu pakai pupuk kimia. Sekarang, saya diajari Superfarm bikin pupuk organik, saya tahu tanah rusak, saya terjun ke organik. Malah saya langsung organik, dari 2005 sampai sekarang, sawah saya organik semua.

Apa enaknya pakai produk Superfarm, Pak Suta?

Audio: Saya rasakan itu nasinya enak, tidak cepat basi, dan keistimewaan pakai Superfarm, padinya bernas, putih, jarang kepatahan. Andaikata saya ujicoba antara yang pakai Superfarm dan tidak, yang pakai Superfarm keluarnya 72 kilo per 1 kwintal gabah kering, yang tidak pake Superfarm paling 70 kilo. Selisih dua kilo. Pakai yang basah pernah ujicoba keluarnya 60 kilogram, anorganik, 58, yang organik 60 persen. Makanya saya nggak bisa lepas dari superfarm.

Audio: Suasana Desa Jati Cipunagara Subang

Direktur Utama Superfarm Zein Mawardi Arief masih punya mimpi mengembangkan pabrik pupuk organiknya. Pikirannya selalu ingin menambah produksi dan penyebaran pupuk organik setiap ada keuntungan sedikit dari perusahaan.

Audio: Misi kita adalah bagaimana seluruh kawasan Indonesia terjangkau Superfarm. Dan itu diperlukan bukan hanya satu pabrikan Superfarm. Tapi mungkin lebih dari 20-50 perusahaan. Oleh karena itu, seluruh usaha kegiatan kita fokus ke pengembangan. Jadi kita belum menikmati keuntungan karena setiap margin keuntungan yang kita dapatkan selalu kita alokasikan ke pengembangan pasar dan produk untuk mencapai misi dan visi.


[Humto Jaya Marbun | KBR68H]


foto: kolamazolla.blogspot.com

Friday, February 13, 2009

Wayang Orang Warisan Keraton Surakarta


Pertunjukan wayang orang menjadi satu peninggalan budaya Keraton Surakarta yang tersisa. Sejak kepemimpinan Pakubuwono ke-X, pertunjukan wayang orang tak lagi milik keluarga istana, tapi bisa dinikmati masyarakat umum. Pertunjukan yang berusia lebih seabad itu, kini seakan tertidur lelap, tak terdengar kabarnya lagi. Reporter KBR68H Nanda Hidayat berkunjung ke Solo Jawa Tengah untuk melihat pertunjukan wayang orang yang masih bertahan ditengah terpaan pertunjukan modern.

Audio: Suasana wayang orang

Lakon tiga raksasa menjadi pembuka pertunjukan wayang orang di gedung Sriwedari, Solo Jawa Tengah. Judul lakon ini adalah ‘Sakuntala’, sebuah cerita Jawa Kuno, yang memberi pesan moral akan kesetiaan suami kepada istrinya.

Tepuk tangan penonton tak juga mengusir kesunyian pertujukan yang berlangsung pada Jumat malam itu. Bukan karena kota Solo diguyur hujan seharian, tapi dari 500 kursi yang tersedia, hanya 20-an yang terisi penonton. Suasana pun nampak lengang meski lakon raksasa, lenggak-lenggok penari dan banyolan Petruk kerap menghibur penonton.

Audio: Suasana wayang orang

Meski sepi, setiap hari selalu disajikan cerita yang berbeda. Dengan begitu, dalam setahun ada 365 cerita yang harus disiapkan sejumlah sutradara. Salah satu sutradaranya adalah Dewoso, yang sudah bergabung dengan Wayang Orang Sriwedari sejak 2000 lalu.

Audio: Kami punya program dalam satu tahun ngak ada yang sama, paling tidak menyeiapkan 365 cita dan refrensi buku yang tua hanya di Sriwedari kalau yang muda itu saya kasih yang asli dari India. syarat-syarat Pusnopropwojo atau syarat-syarat yang ada di Keraton Surakarta harap dibaca

Audio: Suasana pebelian tiket

Penonton hanya perlu mengeluarkan uang 3 ribu rupiah untuk menonton pertunjukan yang berlangsung selama tiga jam, dari pukul 8 hingga 11 malam. Puji Maharani seorang penjaga tiket, nampak santai mencorat-coret kertas kosong menunggu penonton di loket karcis. Hingga 10 menit pertunjukan dimulai, baru 13 tiket yang laku terjual.

Audio: Wah hari ini 11 mas dan 13 sama yang dua tadi. Biasanya sampai 20-26 hari biasa, kalo hariminggu lebih dari 100, hari Minggu saja yang rame. Ada 500 kursi, tiap hari rata-rata 25 banyak yang kosong, kalau malam Minggu aja sama hari libur sekolah yang rame sekali, kalau hari biasa sepi tadi malam cuma 14.

Gedung wayang orang Sriwidari terletak sekitar dua kilometer dari Keraton Kasunanan Surakarta. Di depan gedung seluas 600 meter itu, terdapat patung Gatot Kaca dan Srikandi. Ada juga spanduk bertuliskan “Cintailah Budaya Negeri Kita”. Sayanganya, gedung kesenian berasitektur tua itu nampak tak terawat dengan baik. Atap atas gedung terlihat rusak dan dinding gedung sulit dibedakan apakah berwarna putih atau kuning. Untunglah, sebagian penonton masih merasa nyaman berada di dalamnya karena dilengkapi mesin pendingin ruangan dan bangku kayu yang masih berfungsi baik.

Audio: Suasana tempat hiburan

Dua ratus meter di depan gedung wayang orang Sriwedari terdapat tempat hiburan keluarga dan anak-anak. Tempat ini nampak ramai pengunjung meski harga tiketnya lebih mahal. Suasana yang begitu kontras dengan gedung wayang orang.

Audio: Suasana tempat hiburan

“Kesetiaan Melestarikan Peninggalan Kebudayan Keraton.” Itulah kunci yang menjadi panutan masyarakat Solo untuk tetap mempertahankan keberadaan wayang orang. Adalah kebanggaan tersendiri bagi 80 anggota wayang orang Sriwedari yang tetap bertahan di tengah terpaan pertunjukan modern. Dewoso, koordinator yang sekaligus penari wayang orang Sriwedari, berkomitmen tetap melestarikan pertujukan wayang orang yang sudah ada sejak Raja Pukubuwono ke X, atau lebih dari seabad silam.

Audio: Wayang orang Sriwedari itu sudah satu abad lebih, dulu itu budaya keraton surakarta yang pada masa pemerintahan Pakubuwono X itu sebagai himbuan raja kareana bukan asli budaya solo keraton maka dimasukkan ke taman sriwidari untuk hiburan masyarakat umum, itu sekitar tahun 1921

Dewoso pun bertekad mengembalikan kejayaan pertunjukan wayang orang seperti di era 80-an.

Audio: Masa kejayaan itu seitar 80-an masa Pak Surono, Bu Darsih dan Pak Rusman, dan setelah Pak Rusman meninggal itu sekitar 99 hingga 2003 kita bisa dibilang mati tak mau dan hdup juga enggan…

Ibarat magnet, pertunjukan wayang orang telah menyatu dengan masyarakat Solo. Tak ada hari tanpa pertunjukan. Mahrani Purjono, pedagang minuman di gedung wayang Sriwedari, ikut jadi saksi naik turunnya jumlah penonton wayang orang. Meski tak memperoleh untung banyak dari berdagang selama 51 tahun di sana, Mahrani bangga menjadi bagian dari peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta.

Audio: Bahasa Jawa : sekitar tahun seket siji iya.. ya ndak anu, malam minggu aja rame.. dulumasih dipager kawat. Ya ndak pindah kasih, boten pindah yang penting seketik-seketik sekalian nonton. boten.. paling 5000 [Artinya : Saya sudah berjualan selama 51 tahun di sini, yang tidak mau pindah kasian. Ramenya sih bisanya malam minggu. Kalau dulu rame, dulu masih dipagar kawat belum gedung seperti sekarang. Saya ngak pindah, baitr untungnya dagang Cuma sedikit-sedikit sekalian nonton.. paling untungnya 5000 aja]

Pemerintah daearah kota Solo memasukkan pertunjukan wayang orang sebagai budaya Keraton Kasunanan Surakarta yang harus dilestarikan. Karena itu, menurut kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Solo, Purnomo Subagio, pentas wayang orang di gedung Sriwedari harus dipertahankan meski terkendala banyak masalah.

Audio: Itu wayang orang itu tiap malam mesti pentas meski ngak ada yang nyaksikan itu harus pentas. Problemnya itu fisik bangunan , peralatan yang harus dibenahi kita belum tahu itu tergantun kebijakan kepala daerah agar wayang orang ini kembali digemari oleh msyarakat, khusunya oleh masyarakat Surakarta.

Tapi niat dan komitmen saja tak cukup untuk melestarikan pertunjukan wayang orang. Perbaikan apa saja yang dibutuhkan demi keberlangsungan hidup wayang orang Sriwedari di Surakarta?

Audio: Suasana wayang orang

Audio: Untuk pelestarian budaya kami tetap aksis karena ikon kota solo khususnya ialah wayang orang dan di Indonesia hanaya satu yang eksis yaitu hanya di Sriwedari. Mungin sudah mendapat dari luar nmegeri bahwa wayang orang ini tolak ukur budaya wayang orang

Ketertarikan Dewoso untuk mempelajari wayang orang dimulai sejak usia kanak-kanak. Kini dia bertugas memimpin para penari dalam pertunjukan wayang orang di Gedung Sriwedari, Solo. Selain sebagai sutradara, Dewoso turut bermain di tiap pementasan. Tak hanya di dalam negeri, tapi juga saat pentas di mancanegara.

Audio: Suasana wayang orang

Bersama 80 anggota penari wayang orang Sriwedari lainnya, Dewoso telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Solo sejak 2000 lalu. Tugasnya menari di panggung Sriwedari, ramai ataupun sepi penonton. Dia bangga bisa ikut melestarikan budaya Keraton Kasunanan Surakarta yang berumur lebih dari 100 tahun. Bahkan, darah seni yang mengalir dari keluarganya kini turun ke sang anak yang juga mulai belajar menari.

Audio: Bergabung di wayang orang jadi kami diangkat sebagai pegawai negeri sipil tapi khusus untuk pelestarian budaya wayang orang, saya secara peribadi melaksanakan tugas dan banga karena bisa menyalurkan apa yang ada dalam diri saya. sya berlatar belakang dari keluarga seniman, saya juga seniman, anak saya juga. saya merasa bangga sekali dan saya total..

Materi bukan ukuran kepuasan bagi anggota Wayang Orang Sriwedari. Tri Haryanti, salah satu penari, justru merasakan tingkat kepuasan yang tinggi setiap kali mampu membawakan lakon dengan baik setiap kali pentas. Tapi kekecewaan tak bisa ditutupi saat pementasan sepi dikunjungi penonton.

Audio: Main disini seneng, kerja disini soalnya kerjanya santai, kalau sepi kecewa tapi sudah biasaya. tapi anggap saja banyak penontonya biar semangat kerja. bangga.. bangga sekali bahkan pengennya ebih maju agar penontonnya banyak gitu aja…

Audio: Suasana wayang orang

Supaya penonton wayang orang membludak lagi seperti dulu, perlu ada banyak perbaikan. Mulai dari cerita yang dibawakan, juga tata lampu dan pencahayaan, tata panggung serta bahasa yang dipakai.

Audio: Suasana wayang orang

Bambang Sugiyanto sudah menonton wayang orang Sriwedari sejak usia kanak-kanak. Meski ia adalah penutur bahasa Jawa, ia mengaku kerap tidak mengerti lakon yang ditampilkan dalam pertunjukan tersebut.

Audio: Jujur sebenarnya hanya diajak kakak sya kesini. saya ngak tahu ini. itu masukan bagi kakak saya yang kebetulan kepala bidang pariwisata, saya ngak tahu lakonnya dan mungkin karena saya orang jawa jadi saya tahu mau kemana ceritanya..

Sembari menunjuk panggung yang tak terlalu terang, Bambang Sugiyanto menekankan pentingnya perbaikan di teknologi pencahayaan, latar panggung serta suara. Kata Bambang, masalah ini kerap dikeluhkan penonton.

Audio: Sebenarnya saya perlu kasih masukan untuk perbaikan. misalnya waktu saya kecil terlihat terang sekarang kurang misalnya dari unsur pencahayaan. terus mungkin mestinya isa masukan untuk theknoligi seperti pake LCD. tapi apakah itu akan merubah dari ketradisionlanya iitu belum tahu. munkin diperbaiki dari pencahayaan dan multimedia karena anak muda sekarang senangnya dengan theknologi

Masyarakat Solo menaruh harapan besar kepada pemerintah setempat untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan wayang orang. Tapi dana jadi kendala, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Solo, Purnomo Subagio.

Audio: Memang masih membutuhkan dana yang cukup besar kita perioritaskan dimasalah ekonomi dulu untuk tahun ini memang masalah ekinomi dikota solo dulu. untuk wayang orang berjalan sepeerti adanay dulu.

Meski ada kendala di sini dan di situ, Purnomo bangga karena pelakon wayang orang bisa menyumbangkan 5 juta rupiah ke kas daerah setiap tahun.

Audio: Mereka itu sudah digaji PNS jadi tiap bulan, makanya tiap malam main meski ngak ada penontonnya. karcis masuk ke PAD satu tahun dapat erapa penjualan karcis ya ngan begitu banyak mungkin targetnya Cuma lima juta PAD karcis itu untuk satu tahun

Audio: suasana wayang orang

Audio: Untuk pelestarian budaya kami tetap aksis karena aikon kota solo khususnya ialah wayang orang dan di Indonesia hanaya satu yang eksis yaitu hanya di Sriwedari. mungkin sudah mendapat dari luar nmegeri bahwa wayang orang ini tolak ukur budaya wayang orang

Audio: Main disini seneng, kerja disini soalnya kerjanya santai, kalau sepi kecewa tapi sudah biasaya. tapi anggap saja banyak penontonya biar semangat kerja. bangga.. bangga sekali bahkan pengennya ebih maju agar penontonnya banyak gitu aja

Audio: Suasana wayang orang


[Nanda Hidayat | KBR68H]


foto: www.swaberita.com

Thursday, February 12, 2009

Transmigrasi, Masihkah Diminati?


Program ‘transmigrasi’ sangat erat dengan Orde Baru. Saat itu, penduduk di Pulau Jawa dipindahkan ke pulau-pulau lain yang relatif lebih sepi, demi mengurangi kepadatan penduduk di Jawa dan mengurangi kemiskinan. Salah satu provinsi awal penerima transmigran dari Jawa adalah Lampung, diantaranya ke Gedong Tataan. Setelah lebih 60 tahun berjalan, bagaimana program ini berjalan? Reporter KBR68H Taufik Wijaya mencari tahu, masih adakah yang berminat ikut transmigrasi? Berikut ceritanya.

Audio: (saudara, saat ini saya tengah menuju Kota Purbolinggo dengan ojek motor. Di kanan kiri saya nampak terhampar kebun singkong dan rumah para transmigran. Umumnya mereka datang dari Jawa sekitar 1950 an. Jalan di sini sudah teraspal. Rumah yang dihuni para transmigran adalah rumah permanen atau rumah yang menggunakan batu bata…) Audio: Suara lalu lintas Purbolinggo
Walaupun namanya Purbolinggo, ini bukan di tanah Jawa, tapi di Lampung Timur. Desa yang saya datangi bernama Taman Asri, yang dihuni lebih 700 keluarga transmigran. Ini adalah salah satu lokasi transmigrasi tertua di Indonesia, sejak program ini dicanangkan pemerintah pada 1950. Letaknya sekitar 2 jam perjalanan dari ibukota provinsi, Bandar Lampung.

Audio: Suara lalu lintas Purbolinggo Audio: Suasana desa, bunyi jangkrik

Saya menuju rumah Jamikan, transmigran yang usianya sudah 73 tahun. Usia boleh tua, tapi tubuhnya masih sangat bugar. Pak Mikan bercerita, ia diajak saudaranya bertransmigrasi pada 1953 dari kampong halaman, di Gunung Kidul, Yogyakarta. Usia Jamikan saat itu baru 18 tahun.

Audio: (Masalah ekonomi. Karena saya keluarga besar , ekonomi kurang, terpaksa saya ingin ke Lampung. Karena daerahnya subur makmur katanya. Apa yang dikelola jadi. Kita kan orang hidup pingin makan, dan akhirnya masuk ke Taman Asri) Audio: Suasana desa, bunyi jangkrik

Audio: ( transmigrasi disini dapat tanah 1 hektar dan halaman setengah hektar. Transmigran juga dapat rumah darurat…)

Rumah darurat itu berdinding bambu, beratap ilalang kering, berukuran sekitar 6 kali 9 meter. Sebagai bekal, para transmigran diberi alat pertanian dan bantuan makanan.

Audio: (Sulit tidak beradaptasi dengan alam dan lingkungan di sini pada awalnya? Memang kalau saya rasa memang sulit. Karena dulu itu Pembina apapun belum ada seperti Pembina pertanian belum ada. (Fasilitas) Pendidikan belum seberapa. Sehingga adik adik saya tak meneruskan sekolah) Audio: Suasana mencangkul di kebun
Tanah sehektar yang diperoleh Jamikan lantas ditanami padi, jagung dan singkong.

Audio: (karena saya di Jawa sudah mengikuti orang tua bertani, jadi membuka tanah di sini mudah. Karena di sini tanahnya selain subur juga tidak miring-miring seperti di Gunung Kidul. Hanya di sini termasuk masih Rimba. Bagaimana dengan ancaman binatang buas? Ada monyet, harimau, gajah tidak ada dan Babi hutan Mengganggunya dengan tanaman. Tidak dengan orang)

Saban tahun, Jamikan bisa memanen 3 ton padi per hektar.

Audio: (tahun 50 an itu kalau singkong, belum bisa diperkirakan (hasilnya) kalau padi bisa mencapai 3 ton. kalau singkong hanya sedikit sedikit saja. Hasil panen langsung dijual? Tidak waktu itu belum ada istilah padi jual beli. Dulu itu ditimbun, dan dimakan untuk keluarga Audio: Suasana desa, bunyi jangkrik

Kerja keras Jamikan sebagai transmigran di Lampung membuahkan hasil. Dari hasil pertanian, Jamikan yang hanya sekolah tingkat SD berhasil menghantarkan tujuh anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ada yang jadi sarjana, ada yang kini bekerja sebagai PNS.

Audio: ( Jadi insya alloh dengan berkat tuhan, saya dapat mengenyam hasilnya. Meski saya bukan transmigran asli. Tapi cita cita saya dari Jawa bisa tercapai. Sekarang saya bisa menyekolahkan anak saya sesuai dengan idam-idaman saya)
Sebelum mengakhiri perbincangan, Jamikan menitip pesan. Ia meminta pemerintah terus memantau perkembangan transmigran yang baru merintis wilayahnya

Audio: (tapi kalau selalu dipantau pemerintah saban satu tahun sekali. Bagaimana perkembangannya dan bagaimana yang harus dilakukan pemerintah. Dan sekarang ka nada lembaga masing-masing pemerintah seperti pertanian, kesehatan dll. Saya harapkan pemantauan dilakukan di daerah manapun juga)

Saudara, setelah hampir 60 tahun berjalan, bagaimana kabar program transmigrasi kini? Masihkah diminati?

Siswono Judohusodo gundah karena lahan pertanian di Jawa terus menyusut. Mengutip data Sensut Pertanian 2003, sepanjang 10 tahun, luas pertanian mengecil 0,18 hektar. Bekas Menteri Transmigrasi dan Permukiman Perambah Hutan era Pemerintah Soeharto mengatakan, kalau begini terus, petani terancam makin miskin.

Audio: (pada 2003 rata rata lahan yang dimiliki petani di pulau jawa sudah demikian sempitnya 0,3 hektar. Pada 10 tahun sebelumnya 1993, rata rata lahan petani di pulau Jawa mencapai 0,48 hektar. Nah menyempitnya lahan ini menjadi sumber kemiskinan petani. Oleh karena itu negara mesti menyediakan lahan yang lebih luas agar mereka semakin sejahtera)

Bagi Siswono, program transmigrasi sungguh relevan di zaman sekarang. Isu kemiskinan, kata Siswono, bisa ditangani dengan memindahkan sebagian penduduk, khususnya buruh tani yang miskin, ke luar Jawa. Supaya lebih sejahtera. Lewat transmigrasi, semua orang diberi kesempatan untuk bekerja dan mengolah sumber daya di pulau lain, seperti Papua, Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi.

Audio: (menurut saya program ini lebih diperlukan saat ini dibanding masa lalu. Kenapa? Karena jumlah penduduk Indonesia bertambah 1,3 persen pertahunnya. Setiap tahun lahir 3,5 juta orang. 25 tahun lagi penduduk Indonesia mencapai 400 juta orang, dan mereka semua perlu makan beras jagung gula tebu dll. Kita tidak mungkin kalau tidak melakukan perluasan areal pertanian)

Sejauh ini, peminat transmigrasi masih tinggi, tapi justru pelaksanaan programnya yang terkendala. Begini alasan Direktur Perencanaan Teknis Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Depnakertras, Prasetyoadi Warsono

Audio: (kalau dari peminat masih banyak. Data terakhir peminat mencapai 125 ribu Kepala Keluaraga yang sudah mendaftar kepada kita tapi mereka masuk waiting list. Nah ini karena masalah kemampuan pendanaan kita yang kecil untuk program transmigrasi. Untuk itu perlu dukungan politis seperti yang disampaikan pak Sis, bahwa program ini perlu digiatkan dibanding masa lalu. Untuk itu kita perlu trobosan…)

Terobosan yang dimaksud Prasetyo adalah program Transmigrasi Swakarsa Mandiri. Program ini dipopulerkan bekas Menteri Transmigrasi Siswono Judohusodo. Dana, tak lagi jadi kendala, karena ongkos sepenuhnya ditanggung tramigran. Pemerintah hanya perlu menyediakan lahan untuk tempat tinggal dan pertanian bagi para transmigran.

Audio: (Jadi kalau zaman orde baru, rata rata penduduk yang dipindahkan saban tahunnya bisa mencapai 150 ribu kepala keluarga sekarang kemampuan pemerintah makin kecil. Sehingga Yang bisa diberangkatkan saban tahunnya hanya 12.500 KK. Tapi dari tahun ke tahun kami akan memperbesar program transmigrasi swakarsa mandiri…)

Langkah lain adalah lewat program Kota Terpadu Mandiri, KTM, kerjasama pemerintah pusat dan daera. Mulai 2007 sampai 2009, rencananya akan dibangun 20 KTM, yaitu di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Kembali Prasetyoadi Warsono

Audio: (Jadi diantara permukiman di desa tra nsmigrasi jadi kita bangun pusat pertumbuhan dengan fungsi perkotaan didalamnya. Jadi kita bangun kota kota kecil di tengah permukiman. Sebetulnya sudah kami rancang permukiman transmigrasi nantinya menjadi pusat pertumbuhan..)

KTM sengaja dirancang untuk mendekatkan tempat pemasaran hasil pertanian dengan lokasi tempat tinggal.

Audio: (selama ini memasarkan hasil pertanian mereka berjuang sendiri, dan menuju ke kota atau kabupaten itu jaraknya cukup jauh dan infrasstrukturnya masih sangat minim. Nah untuk itu akan kita dekatkan ke lokasi pemasaran. Kita juga berikan nilai tambah dengan pengolahan hasil kerjasama dengan swasta. MIsalnya kita bangun pabrik padi di lokasi transmigran. Sehingga nilai tambah dapat mereka nikmati)

Pemerintah Kabupaten Boalemo, Gorontalo, termasuk yang ada di garda terdepan mendukung program Kota Terpadu Mandiri. Tak bisa dipungkiri, program ini butuh kerjasama erat antara pemerintah pusat dan daerah. Bupati Boalemo Iwan Bokings

Audio: (kami bukan hanya menerima program KTM, kami juga mendukung pendanaan sebesar 60 miliarrupiah dalam dua tahun ini. kami kucurkan dana APBD itu untuk menunjang KTM di desa Pawonsari Gorontalo) Audio: Suasana mencangkul di kebun Audio: Suasana desa, bunyi jangkrik

Masih ada harapan di balik program transmigrasi. Tidak hanya masa depan yang lebih cerah bagi para transmigran, tapi juga menurunnya angka kemiskinan di masa mendatang.

Audio: Suasana mencangkul di kebun Audio: Suasana desa, bunyi jangkrik


[Taufik Wijaya | KBR68H]


foto: www.malaysia.pnm.my

Wednesday, February 11, 2009

Jajanan Berbahaya di Sekitar Kita


Zat-zat berbahaya seperti pengawet mayat formalin, pewarna tekstil Rhodamin B dan pemanis seperti Sakarin dan Asparthame setiap hari masuk ke tubuh anak-anak melalui jajanan yang mereka beli di sekolah. Di sini terjadi pelanggaran terhadap hak anak untuk mendapat mendapat kesehatan. Prihatin dengan kondisi ini Departemen Pendidikan Nasional meluncurkan program penataan kantin sehat. Reporter KBR68H Antonius Eko mencoba melihat lebih dekat jenis-jenis panganan yang berbahaya, serta upaya untuk melindungi kesehatan anak-anak.

Audio: suasana belajar

Murid-murid kelas 5 SD Negeri Rawa Kemiri, Kabayoran Lama, Jakarta Selatan serius mengikuti pelajaran agama. Mereka mengulangi kata-kata dalam bahasa Arab seperti dicontohkan guru. Saat itu pukul 08.50 pagi. Sepuluh menit lagi istirahat pertama.

Audio: suara lonceng
Begitu bel berbunyi, puluhan anak bergegas keluar kelas. Lantas keluar pagar sekolah, menyerbu tukang jajanan yang berderet di pinggir jalan.

Audio: suasana beli jajanan

Jajanan di sini aneka rupa. Ada mi bakso, mi ayam, siomay, batagor, cakwe, es krim, es sirup sampai aneka keripik rasa gurih-asin dalam kemasan plastik. Tinggal pilih mana yang disuka. Bakso dan cakwe disajikan dengan saus berwarna merah terang. Minumannya juga laris manis. Itu tuh, es sirup dalam kantong plastik kecil. Harganya murah meriah, cukup bayar dengan satu uang logam 500 perak.

Bagi anak-anak ini, aneka jajanan yang ditawarkan enak dan lezat. Tapi ada juga anak-anak yang tahu bahaya di balik jajanan ini. Kantin sekolah memang ada, tapi makanan yang dijual di tukang jajanan di luar sekolah lebih menantang; jenis, penampilan dan warnanya jauh lebih menarik.

Audio: ada..ada.. daging..daging nugget..takut..aku nggak pernah beli nugget..dagingmya bisa daging yang lain..sambelnya terbuat dari tomat busuk, belatung..jadi asem..(kok tetep beli diluar) abisan nggak ada tempat jajan yang lain..(kalau kantin disini ada nggak)..adaaaaaa…(kenapa belinya di depan)..ada di belakang..di depan lebih banyak makanannya…
Sayang Kepala Sekolah SD Negeri Rawa Kemiri menolak diwawancara soal kantin sekolah. ‘Takut salah kata,’ begitu dia bilang. Menurut si kepala sekolah, ada kok guru yang ditugaskan mengawasi jajanan di luar sekolah. Tapi hingga jam istirahat usai, tak ada satu pun guru yang melongok keluar.

Audio: suasana beli jajanan

Suasana beda dijupai di SD Percontohan Pondok Pinang 10 Pagi, Jakarta Selatan. Sejak jam masuk hingga pulang, pintu gerbang tertutup rapat. Saat jam istirahat, tak ada murid yang jajan di luar, meskipun masih ada juga pedagang yang mangkal di luar pagar sekolah. Kepala Sekolah Djunaedi mengatakan, murid-murid hanya mengkonsumsi makanan-minuman dari kantin sekolah. Orangtua murid diundang untuk terlibat dalam mengelola kantin. Harapannya, kualitas pangan yang disajikan terkontrol.

Audio: oh syarat mutlak nggak ada yang penting beliau mau dan bisa kita ajak kerjasama..pertama tujuannya bukan semata-mata untuk mencari keuntungan yang mutlak tapi juga mau memperhatikan tentang kebersihan, kemudian makanan yang dijual..kita sudah menentukan setiap lokasi atau pintu yang kita berikan kalau bisa berjualan jangan sama jenisnya sehingga ada variasi anak-anak untuk memilih… Audio: suasana kantin
Kantin di SD Percontohan Pondok Pinang 10 Pagi ini terlihat bersih. Ada tujuh pedagang di sana, masing-masing punya ruangan tersendiri. Aneka panganannya pun beragam ada bakso, somay hingga minuman ringan.

Penyediaan kantin dan jajanan yang bersih adalah bagian dari pemenuhan hak anak untuk hidup sehat.

Sekretaris Jendral Komisi Nasional Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait.

Audio: pertama kan hak anak itu kan yang harus dilindungi karena setiap orang, baik itu sekolah, orang tua, masyarakat wajib memberi perlidungan kepada anak..wajib memberi perlindungan dalam segala macam termasuk dengan jajanan anak itu..nah oleh karena itu ini harus dikampanyekan kepada orang tua juga..supaya lebih menyiapkan jajanan-jajanan yang dikelola orang tua sendiri..

Komnas Anak menekankan pentingnya orangtua menyiapkan bekal makanan-minuman untuk dibawa anak ke sekolah. Kata Aris, orangtua tak semestinya beralasan sibuk atau tak sempat, lantas memilih langkah praktis dengan memberikan uang jajan. Siap punya anak, harus siap bertanggungjawab atas kesehatannya, kata Aris.

Audio: itu adalah bentuk tidak bertanggung jawabnya orang tua..sudah tahu begitu bahwa banyak hal-hal yang instan, tidak higienis dan sebagainya tapi kita justru memberikan uang jajan. Sebenarnya uang jajan itu yang kita bisa kelola lalu kita buat jenis makanan yang sedang disukai anak-anak itu kan lebih higienis..nah kalau kita sudah berencana mempunyai anak dan keturunan maka kita harus memberi perhatian yang ekstra termasuk menghnidari anak mengkonsumsi jajanan yang tidak higienis tadi..
Membiarkan anak jajan sembarangan artinya mempertaruhkan kesehatan mereka. Survei tahunan yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia YLKI menunjukkan, pengawet terlarang masih saja dipakai di jajanan anak. Misalnya, formalin, yang sebetulnya dipakai untuk mengawetkan mayat, juga untuk antiseptic dan penghilang bau. Pewarna tekstil Rhodamin B dan pemanis seperti sakarin dan asparthame dengan dosis berlebih. Zat-zat ini berbahaya dan bisa menyebabkan keracunan, gangguan mental, hiperaktif sampai kanker.

Peneliti YLKI Ilyani S Andang menuturkan, perlu ada pembinaan, pengawasan dan penegakan hokum bagi para pedagang jajanan yang bandel. Apalagi YLKI tak pernah melihat adanya perbaikan kualitas jajanan anak sekolah.

Audio: misalnya dulu saya pernah dengar program dari Badan POM, mereka akan mengadakan lomba untuk pedagang grobak yang paling sehat atau apa gitu, tapi itu tidak jalan..tidak ada buktinya, tidak ada indikatornya..kalau kita melakukan perbaikan ada dong indikakatornya..mereka melakukan tiap tahun keliatan indikatornya seperti ini…nah itu yang tidak terlihat..tapi kita kalau kita ujuk-ujuk mereka salah dan ditangkat tidak bisa..karena kalau seperti YLKI kita melakukan pengujian dan kasih tau bahwa ini bermasalah…tapi ketika kita menguji lagi hasilnya sama saja..mereka sudah dikasi penyuluhan tapi liat temennya pake pewarna buatan yang lebih untung, lebih awet..akhirnya mereka bilang loh ini lebih untung dia nggak diapa-apain..saya lebih baik seperti dia juga gitu…

Sekolah diminta bersikap lebih tegas dengan membatasi jumlah pedagang yang mangkal di sekitar sekolah. Orangtua dan murid juga harus diberi pemahaman kalau jajanan tersebut berbahaya. Anak-anak, tambah Ilyani, punya pikiran yang sangat terbuka. Karenanya, orangtua dan guru bisa menanamkan ajaran yang benar soal makanan sehat.

Audio: jadi kalau ortu sudah bisa megajar sejak awal sudah memberitahu bahwa ini makanan yang berbahaya ini yang tidak..kamu jangan jajan di sekolah ini ibu bekali dengan kue dengan roti atau dengan makanan yang dibuat sendiri oleh ortu itu malah baik sekali dan itu akan berpengaruh sekali ke pikiran anak..saya punya banyak sekali contoh bahwa anak-anak yang sejak awal diwanti-wanti ortu untuk tidak jajan, itu tidak akan jajan walaupun godaan sedemikian besar disekitar sekolah..

Audio: ada..ada.. daging..daging nugget..takut..aku nggak pernah beli nugget..dagingmya bisa daging yang lain..sambelnya terbuat dari tomat busuk, belatung..jadi asem..(fade out)

Anak-anak saja ogah jajanan berbahaya, masa guru dan orangtuanya diam saja?

Audio: dan kita selalu menemukan hal yang sama seperti pengawet yang dilarang masih dipake, kemudian pewarna tekstil masih dipake, terus pemanis yang nggak jelas dosisnya sakarin, asparthame banyak sekali (fade out).. dari sambel ada pewarnanya, dari saos ada pewarnanya, dari kecap barangkali pake penyedap rasa..dari mie ada pengawet..sekarang makan mie pangsit ya pake sambel, pake kecap dia pake saos kan numpuk itu (fade out) .tidak baik kesehatan akan terjadi penumpukan lemak, IQ akan rendah dan akan menumbuhkan jenis-jenis penyakit yang tidak pernah diduga..
Temuan YLKI, Lembaga Konsumen Jakarta dan Komnas Anak menunjukkan, jajanan anak mengacam kesehatan anak. Ini mengundang keprihatinan Departemen Pendidikan Nasional, Depdiknas. Mulai tahun ini, Depdiknas punya program untuk membina penjual makanan yang mangkal di sekolah-sekolah. Anggarannya besar, yaitu 10 miliar rupiah per tahun.

Kepala Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Depdiknas Widaninggar Widjajanti mengatakan, program ini bernama ‘Penataan Kantin Sehat’. Untuk tahap awal, akan diuji coba di 28 provinsi. Depdiknas menggandeng Badan Pengawasan obat dan Makanan, BPOM serta Institut Pertanian Bogor, IPB.

Nantinya, setiap sekolah akan menerima dana bantuan untuk membenahi kantin. Tapi ada syaratnya.

Audio: lokasinya harus jauh dari sumber pencemaran seperti tempat penampungan sampah itu penting ya karena kalau nggak kan bisa dicemari oleh berbagai lalat dan sebagainya..dia memiliki sumber air bersih itu penting sekali untuk mencuci tangan, untuk mencuci alat-alat makan dan minum..lantainya mudah dibersihkan..ada tempat makanan yang tertutup..ada tempat cuci tangan siswa..ada tempat sampah yang tertutup…

Program Kantin Sehat memungkinkan sekolah menggandeng pedagang yang ada di luar. Demi menghindari konflik, kata Widaninggar.

Audio: ada sekolah yang membuat kebijakan anak-anak nggak boleh jajan di luar, lalu pintu gerbang dikunci supaya anak-anak nggak jajan di luar, apa yang terjadi? kepala sekolahnya di demo oleh penjual..kita harus mengerti bahwa ada faktor ekonomi bukan? Jadi satu cara yang baik saya lihat di beberapa sekolah di beberapa daerah itu pedagang-pedagang diajak masuk ke dalam tapi dengan syarat mereka harus mengikuti peraturan sekolah dan harus mau diberikan bimbingan…

Kantin juga jangan jadi ajang bisnis, begitu pesan dari Nurhasan, Lembaga Konsumen Jakarta. Kata dia, kantin jangan sampai kemasukan perusahaan yang memonopoli pasokan alat kebersihan.

Audio: ada juga yang saya tidak mau terjadi ya itu kemudian disitu ada semacam komersialiasi kemudian di aspek-aspek bisnis..dalam hal yang sederhana misalnya makanan sehat itu diawali dengan cuci tangan, kemudian apa yang kita lihat harus pake sabun nah…ini nanti kepentingan industri akan masuk..saya tidak setuju… Audio: suasana kantin

Sekjen Komnas Anak, Aris Merdeka Sirait meminta kantin sehat dibangun dengan suasana yang santai. Supaya anak bisa rileks setelah berjam-jam terkurung dalam ruang kelas yang kaku.

Audio: ya saya kira suasananya harus dibangun dengan suasana anak kan karena proses belajar mengajar kita itu kan indoor ketika dia punya waktu hanya setengah jam atau satu jam untuk beristirahat kan lebih pda melihat outdoor gitu kan..nah itu kan alami aja karena memang dunia anak seperti itu..tapi kalau misalnya tempatnya itu dibuat sedemikian rupa seolah-olah itu tempat rekreasi dan satu proses outdoor saya kira akan menarik…
Soal makanan yang disajikan, ini juga harus jadi perhatian. Peneliti YLKI Ilyani S Andang mengusulkan, makanan jangan mengandung terlalu banyak lemak, garam atau gula. Juga kantin harus menyediakan buah-buahan.

Audio: tapi juga mengandung…misalnya kayak buah kan segar sekali kalau di sekolah menawarkan buah-buah yang alami lokal Indonesia, tapi sangat bergizi sangat segar di udara terik matahari gitu kan..jadi dari sisi bahan tambahannya dari sisi jenisnya dari sisi higienitasnya harusnya diperhatikan
Kalau kantin sudah bersih, makanannya pun bergizi, kesehatan anak pasti lebih terjamin. Kepala Bidang Promosi Badan Pengawasan Obat dan Makanan BPOM Endang Susigandhawati berpesan, anak harus diajari cara membedakan makanan yang sehat dan yang berbahaya. Jangan sampai memilih makanan hanya dari tampilan warna saja, karena warna yang menawan kadang mengandung bahaya.

Audio: cara-cara memilih pangan terutama bapak ibu mungkin jalan sama anaknya kalau mau jajan itu dilihat kantinnya itu pangannya tertutup, kemudian kalau kemasan seperti royal jelly atau gula-gula harus terdaftar harus ada nomor registrasi nomor pendaftaran ijin edar yaitu MD, kalau luar itu ML kemudian kalau industri rumah tangga PIRT, itu yang utama kalau nggak ada hati-hati belum tentu makanan itu sehat atau aman karena kemungkinan warnanya itu dari pewarna tekstil, kemudian dibungkusnya dengan apa? jangan mau kalau dibungkus dengan kertas koran..

[Antonius Eko | KBR68H]


foto: my.opera.com

Friday, February 6, 2009

Belah Bukit Demi Air


Desa Ijo Balit, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat adalah daerah tandus. Saking tandusnya, panggilan akrab desa itu adalah ’lendang panas’ alias ’hamparan panas’. Tapi Desa Ijo Balit beruntung punya Slamet Suriawan Sahak. Berkat Slamet, desa jadi subur. Slamet membelah bukit demi membuat jalur pengairan untuk mengarahkan aliran sungai ke desa. Reporter Mandalika FM Lombok, radio jaringan KBR68H, Rachmat Jayadi menggali inspirasi dari Slamet yang membelah bukit.

Audio: musik sasak-semprong

Desa Ijo Balit, Kecamatan Labuan Haji, Lombok Timur, NTB, terkenal gersang. Pohon yang tumbuh di sana bisa dihitung dengan jari. Lahan retak-retak, pertanda kekeringan teramat parah.

Luas desa ini 1200 hektar, menampung lebih seribu keluarga. Sebagian besar masyarakatnya hidup dari menambang batu apung dan pasir. Eksploitasi alam tak kenal kompromi membuat Desa Ijo Balit makin kering dan gersang. Nyaris tak punya air. Desa tak ubahnya hamparan panas. ’Lendang panas’, kata orang setempat.

Audio: musik sasak-semprong

Selain menambang batu apung dan pasir, warga juga hidup dari bertani umbi-umbian. Maksud hati ingin menanam padi, palawija atau tembakau, yang nilai jualnya lebih tinggi. Apa daya, hanya umbi-umbian yang sanggup bertahan di tanah kering.

Lalu Slamet Suryawan Sahak, warga Desa Ijo Balit, jengah dengan kondisi ini. Kekeringan tak bisa dibiarkan begitu saja. Air, bagaimana pun caranya, harus diperoleh, begitu niat bulat Slamet. Sejak awal 1980an, Slamet mulai mencoba berbagai cara untuk mendatangkan air ke Desa Ijo Bailt.

Audio: musik sasak-semprong

Empat kilometer lebih dari desa Ijo Balit, terdapat Sungai Perako yang melintas di pinggir desa. Karena volume air kecil, pada 1982 Slamet membuat bendungan untuk meninggikan air sehingga bisa mengairi Desa Ijo Balit. Bendungan dibuat dari tumpukan plastik berisi tanah.

Audio: Saya bersama-sama mengajak masyarakat membangun bendungan. Waktu itu harga plastik kalo nggak salah Rp 450, dengan enam ribu karung kita susun. Alhamdulillah naik air untuk mengaliri beberapa puluh hektar. Karnea naik pas musim kemarau, banjir kan luar biasa besarnya karnea ini kan di bawah gunung Rinjani, sangat besar banjirnya. Alhamdulillah karung itu bertahan sampai lima tahun.

Usaha Slamet bukannya tanpa kendala. Biaya besar untuk membeli plastik sudah keluar, tapi bendungan manual yang dibangun tidak berfungsi maksimal.

Tak habis akal, Slamet membuka peta geografis Desa Ijo Balit. Di situ ia menemukan ada aliran Sungai Sordan yang deras di seberang bukit. Sungai itu menjadi tempat bertemunya empat aliran sungai di Lombok Timur. Slamet berniat menggabung aliran Sungai Sordan dan Sungai Perako. Tapi kali ini hadangannya bikin Slamet pusing tujuh keliling. Ada bukit besar di antara kedua sungai.

Audio: Tahun 1991, saya menggabungkan dua sungai …. Toh kalau gak ada yang mau ( membantu ) gakpapa, dari tahun ke tahun saya membangun seperti ini semata-mata saya ingin berbuat, bagaimana bumi ini, minimal pada diri saya, lingkungan saya, minimal ada yang meniru
Ajakan membelah bukit sontak dapat cemoohan. Slamet langsung dapat nama baru: Slamet Suryawan Sahak Gila.

Audio: Waktu membelah bukit, siapa saja yang terlibat, " kebanyakan gak mau, kadus –kadus, lurah pemerintah banyak yang tidak setuju, apalagi rakyat bodoh. Bayangkan kepala dusun saja tidak percaya,
Beruntung, masih ada yang percaya dengan gagasan Slamet untuk membelah bukit. Di tahun 1982, dibantu puluhan orang, Slamet mulai membelah bukit. Bukit ini sungguh sulit ditaklukkan karena tingginya lebih dari 14 meter, dengan panjang galian hampir mencapai satu kilometer.

Audio: Kenapa banyak yang tidak ikut ?? karena kita kebanyakan takut akan jin, percaya akan berhala … nanti ketemulah… ini yang nyuruh mereka tidak berani ….dan kedua, sudah berkali-kali pemerintah menjanjikan saluran … di surveilah … di desainlah … setiap habis pemilu selalu ada desain, selalu ada konsultan.. dan selalu tidak jadi… apalagi seorang slamet … kan wajar masyarakat tidak percaya … pemerintah saja tidak bisa …. Ini salah satu pola-pola yang keliru ……

Mahuri, salah seorang warga yang ikut membelah bukit mengingat pekerjaan membelah bukit sebagai sesuatu yang sangat melelahkan.

Audio: Ikut belah bukit ?? Ikut.. sama-sama mamiq sudah saya ...mulai kerja dari sana, bikin ujungnya, tapi dak bisa naik ( red - airnya) , terus kita pindah kesini ... terus disini pakai pompa air ... dipacul condong dari atas ... tebing-tebing ini kami linggis sama ( mamiq tuan – Slamet ).. brapa lama kerjanya ?? satu tahun lebih ....

Bermodal semangat, berbekal cangkul dan linggis, Slamet membelah bukit.

Audio: Sebelah ada sungai … saya gali pakai linggis, saya cocor pakai pompa untuk dorong … nganyutkan tanah tanpa pesawat , tanpa alat ukur, pake alat senter aja .. diperkirakan .. pakai linggis, cangkul …yah .. gotong royonglah dengan masayarakat ..nah karena putus harapan masyarakat, ya semua ini sematamata karena izin allah, datanglah orang bodoh bawa alat berat, saya pinjamlah alat beratnya pakai gali … alhamdulillah kita belikan minyak … kalau allah berkehendak

Audio: suara air Audio: Saudara, saat ini saya berada di Desa Ijo Balit. Persis di depan saya adalah ujung galian bukit yang juga adalah pertemuan Sungai Perako dan Sungai Sordan. Sebelumnya kedalaman Sungai Perako hanya 5 sentimeter, namun setelah dua sungai ini digabung, kedalamannya seukuran paha orang dewasa. Dengan ketinggian air ini, Sungai Perako dikendalikan oleh sebuah Bendungan Refrmasi, yang juga dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat. Secara swadaya juga, masyarakat membuat saluran permanen sepanjang empat kilometer hingga Desa Ijo Balit.
Setahun lamanya bukit dibelah, sampai akhirnya saluran air sepanjang empat kilometer lebih berhasil dibuat. Sejak itu, kehidupan masyarakat Ijo Balit berubah.

Audio: Begitu terbelah airnya langsung ke masyarakat, airnya keluyuran gak karuan dahulu ...baru kita mulai membuat jaringan-jaringan tersiernya ....kemana arah mau air ... bagaimana kita membagi .. dan kebetulan ada saluran – salauran terdahulu yang kita manfaatkan kembali ... karena dari dulu ada saluran air yang mengairi seratusan hektar .. tapi kering gak ada air ... semua petani langsung dialirkan .. tak perlu mereka meminta dialirkan air, kalau memang elevasi dibawah saluran, mereka tidak perlu meminta, karena niat saya membangun untuk masyarakat.

Bagaimana cerita masyarakat Desa Ijo Balit pasca mengalirnya air? SAGA segera kembali.

Audio: suara motor

Siang bolong di Kota Selong, Lombok Timur, NTB terasa sangat panas. Dengan motor, saya menuju ke Desa Ijo Balit, yang berjarak sekitar 10 kilometer.

Audio: suara motor

Mendekati Desa Ijo Balit, pemandangan mulai terlihat hijau. Banyak tanaman pelindung di pinggir jalan. Sawah menghijau pun menyejukkan pandangan mata. Inilah Desa Ijo Balit sekarang, jauh berbeda dengan masa-masa tandus lebih 10 tahun silam. Sebutan ’lendang panas’ tak lagi melekat.

Kepala Lingkungan Ijo Balit Utara, Samat, membandingkan kedua masa yang berbeda 180 derajat ini.

Audio: Alhamdulillah sekarang petani sudah tidak bingung lagi memikirkan air …. Tahun lalu, masyarakat selalu berpikir meninggalkan ijo balit dengan kekeringan… sekarang tidak ada yang memikirkan … alhamdulillah sekarang banyak yang menanam .. Pas kering, masyarakat hanya menanam ubi .. tidak ada penghasilan yang lain .. sekarang padi kedelai , dan alhamdulillah … sukur perjuangan slamet sangat kami banggakan …
Slamet Suryawan Sahak adalah penyelamat. Meski sempat dicap gila dengan idenya membelah bukit, justru ide gila ini yang kembali menghidupkan Ijo Balit.

Audio: suara air

Begitu air mengalir, kehidupan sontak berubah. Semua tanaman petani berbunga. Saluran air langsung dialirkan ke sawah-sawah petani. Kini, luas lahan produktif di Ijo Balit meningkat, kata juru bicara Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur, Humaidi.

Audio: Khusus Ijo Balit, sebelum adanya jaringan irigasi, luas tanam padi disana hanya 25 hektar ( dari hasil tadah hujan ), tapi setelah adanya jaringan irigasi dari swadaya masyarakat, dari 25 hektar, sekarang sudah bisa menjadi 75 hektar ..kaitannya dengan itu, dalam satu tahun, tanaman padi bisa 75 hektar, jagung 50 hektar, kacang tanah 25 hektar, cabe rawit 25 hektra... itu untuk luas tanam ... kalau hasilnya ?? sebelum adanya jaringan, padi hanya 1,5 ton / hektar, sekarang 4,2 ton / hektar. Jagung 1 ton menjadi 4,5 ton / hektar... cabai dari 2 ton menjadi 4,5 ton.. artinya ada peningkatan

Perbaikan kondisi ekonomi ikut berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan keluarga. Berbeda dengan saat masih tandus, kata Samat, Kepala Lingkungan Ijo Balit Utara, banyak anak yang kekurangan gizi.

Audio: Dulu ada yang busung lapar ?? banyak anak kecil masih kurang .. banyak … semua hampir rata2 … beras tak ada , nasi ubi dan jagung …. dan sekarang … kalo nasi tidak hangat tidak dimakan .. sekarang ubi tidak dimakan. Sekarang anak disini, tidak ada makan ubi … kebanyakan dijual, yang beli juga tak ada… jambu mete tak dimakan, jadinya sia-sia .. tulang nya aja yang dijual, dagingnya terbuang sia-sia …

Karena sektor pertanian mulai bergeliat, warga Ijo Balit memutuskan untuk bertahan dan memakmurkan desa mereka. Pilihan menjadi Tenaga Kerja Indonesia, TKI, di luar negeri tak lagi dilirik. Menurut data di lingkungan Ijo Balit Lauk, sebelum kekeringan, rata-rata 50 orang warga berangkat menjadi TKI. Kini, turun drastis menjadi hanya 2 orang dalam sebulan. Agus Suwandi dan Lalu Murah Haini sudah melepas keinginan jadi TKI.

Audio: Pernah niat jadi TKI ?? kalo sebelumnya pernah niat, tapi sekarang penghasilan sudah mencukupi di daerah sendiri, jadi niat keluar negeri gak ada ...sekarang kerjanya apa ?? apa adanya di sini ... bertani .. penghasilan sudah mencukupi ...tidak pingin keluar negeri .. kan disini sudah ada penghasilan yang layak ... sekarang dalam satu bulan bisa menghasilkan 700 – 800 ribu

Audio: Pernah jadi TKI ?? pernah dulu .. knapa balik ?? ya ... mau nengok kampung .. kata kawan-kawan kampung sudah subur .. sekarang pinginnya mau bertanam dulu .. soalnya sudah subur ... daripada potong sawit disana, lebih baik disini sambil jaga sapi ( saya )

Kepala Desa Ijo Balit Sukarma mengatakan, majunya perekonomian desa juga mendorong kemajuan di bidang pendidikan. Kalau dulu hanya ada empat sekolah tingkat SD, kini ada tambahan Taman Kanak-kanak, SMP dan SMA.

Audio: Untuk sarana pendidikan di kelurahan di Ijo Balit, satu buah TK, 4 SD, satu MI, 2 Mts, dan satu MA, pas kekeringan ada 4 SD saja... berarti ada perubahan penambahan, dari taman kanak- kanak sampai SMA Audio: Lagu ’Desaku’ Audio: suasana kicauan burung

Slamet kembali membelah bukit pada 1996. Kali ini bukit yang dibelah setinggi 18 meter, dengan lubang galian sepanjang 2 kilometer lebih. Ia bermaksud mengalirkan air dari Sungai Sordan ke lahan tandus miliknya seluas lebih 15 hektar. Lahan itu kini disulap menjadi tempat wisata bernama ’Lembah Hijau’ yang disesaki aneka tumbuhan. Tempat wisata ini dilengkapi juga dengan kolam renang dan danau buatan, membuka lapangan kerja bagi 30-an warga desa.

Audio: Dikenain berapa? Tiga ribu. Kalau dihitiung-hitung dalam setahun pengunjung ada berapa? Kira-kira 100 ribu orang. Untuk perbaiki, untuk membuat itu ini, ada uang sisi buat bikin sungai. Mulai beroperasi sejak kapan? Waktu Pak Rahmat Witoelar itu 2004. Waktu datang meresmikan sama artis Cornelia Agatha.
Rencananya, air buangan dari kawasan wisata Lembah Hijau kelak diarahkan ke Desa Pemongkong Lombok Timur yang dilanda kekeringan.

Audio: 28 kilo ?? rencana air akan diarahkan ke selatan, ke ( desa ) tanjung luar, tijot, sampai pemongkong, karena disini air yang terbuang ke laut di musim kemarau sangat besar ... 280 liter / detik ... elevasinya sangat memungkinkan ... tinggal siapa yang mau berbuat dari lembaga negara ini .... Audio: suara air

Slamet adalah kerja keras, Slamet adalah teladan. Aktivis lingkungan WALHI NTB Achmad Junaidi mengatakan, upaya Slamet yang membalikkan keadaan gersang menjadi subur sangat berpengaruh bagi kelestarian lingkungan.

Audio: Sekecil apapun aktifitas yang dilakukan untuk penyelamatan lingkungan, Tentu berpengaruh .. dalam artian kelestarian lingkungan seterusnya .. kita kenal ijo balit kering … kalu itu dikelola dengan baik dengan benar berdasarkan analisis yang tepat .. tentu berpengaruh signifikan … mata air .. pengaruh sangat besar …

Slamet empat kali menolak penghargaan Kalpataru dari pemerintah. Bagi Mochtar, tokoh masyarakat Pohgading, desa tetangga Ijo Balit, Slamet patut ditiru.

Audio: maksud kami kalau ada gerakan social, kami ingin mengangkat sebagai indicator untuk ditiru untuk bapak-bapak yang lain … merupakan bagian dari pendidikan .. pada pemuda kita yang sudah menempuh kesarjanaan, slamet sebagai indikator keberhasilan ..

Audio: suara burung

Slamet masih punya banyak rencana. Hidup tak berhenti setelah membelah bukit demi air.

Audio: sekarang lagi buat pembangkit listrik tenaga air, bagaimana nanti terjemahan hokum boyle, hokum paskal, Dalton, dsb. Makanya sering anak sekolah datang .. sekolah alam .. karena pendidikan sekarang hanya teori, tanpa ada praktek langsung, makanya banyak pelajar yang bingung .. harapan saya dapat membangun lab biologi …. Sedang dibangun … Audio: suara air


[Rachmat Jayadi | Radio Mandalika FM Lombok | KBR68H]

foto: www.myscoutchemistry.wordpress

Thursday, February 5, 2009

Bullying Terus Terjadi


Atas nama disiplin, masih banyak guru yang percaya bahwa tindak kekerasan bisa mendisiplinkan anak. Padahal sekolah adalah tempat cari ilmu, bukan tempat jadi korban kekerasan. Sekolah, mestinya, bisa memberikan rasa aman seperti rumah. Tapi alih-alih aman, anak justru bisa bonyok di tangan guru. Reporter KBR68H Rezki Hasibuan memotret secuplik fenomena guru yang menjadi pelaku kekerasan dan mencari tahu kenapa ini masih terus terjadi.

Audio: Suasana Awaluddin Korompot menampar 18 siswa

Ini adalah suara rekaman ketika Awaludin Korompot, guru SMK 3 Gorontalo, menampar 18 siswanya.

Awal mulanya begini. Awaludin tengah mengajar di kelas. Lantas ada belasan siswa yang lewat setelah belajar pengukuran kesehatan jasmani. Mereka lewat sambil bersenda gurau, Awaludin kesal karena merasa terganggu. Ia lalu keluar, membariskan ke-18 siswa tersebut dan menamparnya satu per satu.

Audio: Suasana Awaluddin Korompot menampar 18 siswa

Awaludin tak sadar kalau aksi main tampar ini direkam lewat telefon selular salah satu siswa. Rekaman itu lantas tersebar ke mana-mana, sampai akhirnya status guru Awaludin Korompot dicopot.

Sekolah adalah tempat belajar, bukan tempat unjuk kekerasan. Kenyataannya, masih banyak sekolah dengan guru-guru ringan tangan macam Awaludin Korompot.

Audio: Suasana sekolahan

Udin adalah siswa kelas 3 SD, di sebuah SD Negeri di Jakarta. Ia meminta namanya dirahasiakan, baru mau bercerita tentang kekerasan yang diterimanya. Gara-gara tak lancar membaca, dua gigi depan Udin rontok, bibir dan gusinya cedera akibat benturan.

Audio: Dijedotin ininya ke pinggir meja (gara gara apa?) bacanya pelan. Yang luka bibir sama gigi dan baham eh baham gusi.. abis itu aku ke kamar mandi kumur-kumur abis itu aku disuruh baca lagi...

Setelah kejadian itu, Udin bicara pada media. Ibu guru yang menampar, katanya akan dipindahkan. Tapi setiap hari Udin masih bertemu sang guru. Justru Udin yang dipindah, dari kelas siang ke kelas pagi, tetap di sekolah yang sama.

Audio: Suasana sekolahan

Audio: Pas lagi jam istirahat di dekat kelas gue itu ada kelas kosong gue main main di situ. Kejadian agak absurd dua langsung maen gampar gue. Gue gak tau apa-apa tapi gue takut juga akhirnya gue diam. Tampaknya dia hanya menunjukkan otoritas saja, karena setelah itu dia cerita-cerita ke murid lain dan guru lain bahwa dia sudah mukul gue dan gak diapa-apain di sekolah.

Aribowo Sangkoyo kini sudah 28 tahun. Kenang-kenangan akan masa SD yang tak terlupakan adalah ketika ia dipukul oleh si guru. Hingga kini rahangnya bermasalah akibat dipukul.

Audio: Yah akhirnya gini, sampai sekarang rahang gue masih bunyi kalau lagi mengunyah....

Audio: Suasana sekolahan

Husni, fotografer lepas, meski kini usianya sudah kepala 4, masih harus mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit. Nyeri di kepala bagian belakang kerap kumat. Dulu, semasa SMP, kepala bagian belakangnya dipukul oleh guru olahraga.

Audio: Tanpa ini, main pukul kepala saya, suasana jadi diam bahkan akibatnya bahkan dipukul kepala belakang. Akibatnya saya mengalami kunang-kunang mata selama beberapa hari. Belajar pun jadi terganggu

Cerita 18 siswa di Gorontalo, Udin di Jakarta yang terjadi sekarang rupanya tak jauh beda dengan yang dialami Bowo dan Husni bertahun silam. Ini menunjukkan, metode hukuman dengan kekerasan masih dilestarikan oleh sejumlah guru.

Pakar pengajaran dari LSM PLAN Indonesia Sudiyo menduga, sistem kekerasan ini terpengaruh gaya mendidik ala militer. Padahal yang dididik guru bukan tentara, hanya anak-anak.

Audio: Apakah dulu warisan sistem militerisasi dari Belanda dan Jepang itu kurang paham juga yah. Tapi yang juelas di sekolah-sekolah kalau mau mendisiplinkan anak yah seperti di militer. Seperti harus berbaris seperti di militer. Itu menjadikan anak gak nyaman. Dia anak akan berpikir koq saya diperlakukan seperti militer atau tentara.

PLAN Indonesia sempat melakukan penelitian soal penyebab tindak kekerasan yang terjadi di sekolah-sekolah pada 2008. Sampelnya diambil dari tiga kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta.

Hasilnya begini. Lebih 25% kekerasan di SMP dilakukan oleh guru. Lebih 20% kekerasan di sekolah tingkat SMA terjadi akibat hukuman fisik dari guru ke siswa. Jakarta ada di tempat pertama, sebagai kota dengan tindak kekerasan guru terhadap siswa yang cukup tinggi. Total, hampir separuh kekerasan yang terjadi di sekolah, pelakunya adalah guru.

Juru Bicara PLAN Indonesia Paulan Aji mengatakan, tak hanya Indonesia yang masih memelihara budaya kekerasan guru ke siswa, tapi juga Negara-negara lain.

Audio: Jangan salah, teman kita di Irlandia mengatakan pendidikan dengan model memukul biasa. Di Belanda biasa juga. Jangan-jangan kita meniru metode pendidikan masa lampau yang menggunakan stik. Di Afrika menggunakan juga di India menggunakan juga di beberapa negara asia juga masih memakai metode pendidikan dengan memukul dan mencaci

Singapura, tetangga dekat Indonesia, juga masih memelihara budaya kekerasan. Bahkan ada undang-undang yang secara resmi memuat kalau guru boleh memukul murid. Ketentuannya, guru hanya boleh memukul telapak tangan siswa laki-laki. Siswa perempuan boleh bersyukur karena mereka dilindungi dari berbagai jenis kekerasan.

Paulan Aji dari PLAN Indonesia mengingatkan, sudah ada 23 negara di dunia yang melarang segala macam bentuk hukuman fisik terhadap anak. Di Indonesia sebetulnya sudah berlaku aturan ini, lewat Undang-undang Perlindungan Anak.

Tapi kenapa masih saja terjadi kekerasan guru terhadap siswa?

Audio: Suasana sekolahan

Audio: Apalagi yang dipukul daerah kepala saya benar benar tak bisa terima. Anak saya ngalamin tuuuh, walau cuma pakai koran digulung. Tapi, anak saya malu tuh. Dia bilang khan sudah gede ngapain dipukulin lagi. Di depan teman-temannya lagi. Ini khan benar-benar tak punya perasaan gitu loooh...

Johan Romadhon tak bisa terima anak perempuannya, Maryam, dipukul kepalanya oleh guru. Ia tak habis pikir, kenapa harus ada kekerasan fisik ketika anaknya tak lancar membaca tulisan Arab.

Audio: Suasana sekolahan

Yang juga tak dihitung oleh guru adalah perasaan malu karena diperlakukan kasar di hadapan teman-temannya. Tapi Eni Komala Sari, guru SMK UISU Medan, tegas mengatakan, hukuman macam begini masih diperlukan. Kata dia, kenakalan anak-anak makin hari makin membuat jengkel.

Audio: Ya muridnya kadang kalo kita lagi menerangkan dia gosip, main HP. Di SMK kami HP gak dirazia tapi tolong di silent. Tapi gak di silent dia balas SMS ngutak atik HP. Bahkan ada yang nyanyi bersenandung. Yah terpaksa kita hukum cubit kita panggil ke depan

Karena itulah, Eni percaya, hukuman fisik masih diperlukan.

Audio: Gimana yaa sebenarnya gak mau pukul gak mau mencubit gak mau menampar. Tapi kita ngomong ke depan ini anak bakal jadi orang-orang yang berguna. Apalagi anakl sekaang luar biasa kurang ajarnya luar biasa tak beretikanya. Jadi mau tak mau harus fisik

Audio: Suasana sekolahan

Eni Komala menyesalkan langkah SMK 3 Gorontalo yang mencopot guru Awaludin Korompot karena menampar 18 siswanya. Eni dan sejumlah guru berniat melakukan unjuk rasa ke kantor DPRD Sumatera Utara. Mereka meminta supaya guru tak diberi sanksi jika member hukuman kepada siswa.

Audio: Kami herannya kenapa hukum ini selalu memanjakan orang tua dan murid, jadi kami guru ini buat apa. Kita mau diatur murid atau kita mengatur murid. Kalau kita diatur murid mau jadi apa anak itu ke depan. Orang tua mengirim anak ke sekolah untuk dapat ilmu khan. Kalau gak mau dapat ilmu otomatis hukuman yang kita kasih.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia PGRI Sulistiyo sependapat dengan Eni Komala. Sulistyo menekankan, ada perbedaan antara hukuman fisik yang dilakukan guru dengan penganiayaan yang dilakukan penjahat.

Audio: Guru kalau terpaksa harus menghukum ini sebenarnya berniat agar kenakalan anak itu tak berlarut-larut. Hukuman dalam pendidikan diperbolehkan. Ketika guru bermasalah karena hukuman jangan disamakan dengan penganiayaan yang dilakukan oleh penjahat. Hukuman guru bernilai pendidikan beda dengan apa yang dilakukan penjahat kepada kita.

Audio: Suasana Awaluddin Korompot menampar 18 siswa

Audio: Pas lagi jam istirahat di dekat kelas gue itu ada kelas kosong gue main main di situ. Kejadian agak absurd dua langsung maen gampar gue.

Audio: Tanpa ini main pukul kepala saya, suasana jadi diam bahkan akibatnya bahkan dipukul kepala belakang.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi jelas tak sepaham. Bagi Seto, mendidik pasti bisa dilakukan tanpa memasukkan unsur kekerasan.

Audio: Memang harus siakui ini fenomena gunung es. Kekerasan terhadap anak yang dilakukan guru atau pendidik ini keliru. Ini karena masih kuatnya paradigma keliru dalam mendidik. Mereka pikir untuk membuat anak disiplin itu perlu unsur kekerasan

Kak Seto mengatakan, anak bisa disiplin jika mereka senang dengan metode pengajaran yang ditawarkan guru.

Audio: Iya mungkin dengan pemahaman sebagai berikut. Belajar yang efektif adalah belajar yang menyenangkan. Coba dengar pendapat dari shinizi suzuki. Pakailah cara mengajar dengan belajar kepada ibu. Anak-anak gampang belajar dengan bahasa ibunya karena mengajarnay dengan penuh kasih sayang. Akhirnya belajar nya menyenangkan sehingga bisa menguasai pelajaran dengan cepat

Anak-anak, kata Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi, adalah peniru yang baik. Aribowo Sangkoyo, 28 tahun, yang dulu pernah dipukul guru, percaya itu.

Audio: eeeh salah satu dampak gue pernah dikerasin oleh guru waktu kecil , gue jadinya biasa melihat kekerasan sekarang ini ( ini semua karena perisitiwa itu?) gue sih curiganya itu tuh salahs atu faktornya itu. Soalnya kalau anak kecil mengalami peristiwa seperti itu ingat sampai gede

Audio: Iya karena anak-anak adalah peniru yang terbaik. Murid kencing berdiri guru kencing berlari. Jadi kalau anak-anak sekarang tawuran mohon dicatat ada faktor oknum guru disana. Ada guru yang merusak citra pendidik dengan kekerasan dan anak menirunya lebih dahsyat lagi...

Audio: Suasana tawuran

Pakar psikologi remaja dan anak-anak dari Universitas Indonesia Vera Italibiana meminta guru lebih kreatif mencari metode baru untuk mengajar, demi menjauhkan diri dari kekerasan.

Audio: Hukuman dalam bentuk fisik itu sangat tak dianjurkan karena dalam satu sisi akan menyakiti anak dan tak berpengaruh apapun bagi pembentuka n perilaku anak. karena sia anak Cuma sakit, diingatnya terus dan parahnya si anak menajdi terbiasa dan menganggap kekerasans ebagai salahs atu cara menyelesaikan masalah

Audio: Suasana sekolah


[Rezki Hasibuan | KBR68H]


foto: www.indyra.wordpress.com

Wednesday, February 4, 2009

Anak Belajar Perbedaan


Indonesia adalah keberagaman. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tapi tetap satu, tak bisa begitu saja terwujud tanpa adanya kesadaran soal perbedaan dan keberagaman. Salah satu cara menumbuhkan kesadaran akan perbedaan adalah lewat pendidikan, seperti yang dilakukan di Sanggar Kreativitas Anak, bagi anak-anak jalanan. Reporter KBR68H Anto Sidharta melongok pelajaran soal perbedaan di kelas kecil itu.

Audio: (Suasana) Tetap satu bangsa? Bangsa apa? Bangsa indoensia…ada suku apa saja yah..? aceh, bali, ambon…semua ada di negara Idonesia…tetap satu bangsa…

Belasan anak kelas 1 SD di daerah Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, sigap mengacungkan jari. Mereka ingin segera menjawab pertanyaan yang diajuan guru atau kakak pendidik.

Audio: Ada medan, ada jawa…jadi gak boleh saling ngejek…Jadi ngak boleh saling ngejek..tuti matanya kecil, boleh gak ngejek-ngejek, eh sipit-sipit? Gak boleh…angel belo-belo boleh gak? Gak boleh…karena semua ciptaan? Allah… Audio (menyanyi): Dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau..sambung menyambung menajdi satu, itulah indonesia….

Ini bukan di sekolah, tapi di sebuah rumah kontrakan sederhana. Ruang tempat mereka belajar sempit, hanya ukuran 3x3 meter. Ada sepuluh meja dan kursi kecil disediakan untuk anak-anak ini. Ruangan yang agak pengap tertolong dengan kehadiran sebuah kipas angin.

Audio: (suasana) Ada agama apa di Indonesia? Hindu.kristen…islam…budha… Idul fitri,…natal.. Gereja…pura…

Di ruang kelas berinding biru kusam itulah anak-anak belajar soal perbedaan: suku, agama, ras dan golongan.

Audio: Boleh gak saling ngejek? Kamu khan orang Kristen gak boleh main sama aku? Gak boleh. Kayak Angel kita harus hormati…jadi harus berteman, saling sayang

Audio: Harus saling? Menyayangiii…siapa yang sayang temannya? Sayaaa…


Anak-anak ini ada di bawah asuhan organisasi Anak Jalanan Indonesia, ISCO. Hari itu mereka tengah belajar soal perbedaan, dengan judul materi ‘Berdamai dalam Perbedaan’. Ini materi yang cukup berat bagi anak-anak kecil. Karena itulah, digunakan media gambar serta nasihat, kata salah satu pendidik, Siti Khodijah.

Audio: Ngasih ceramah dulu, baru media gambar. Tadi tk jadi ngasih arahan biar paham, apasih yang akan dikejakan pada dia sebelum ke gambar. Kita jelasin agama apa aja. Kola da ras, keriting, rambut lurus, ada yang sipit emang ada wujudnya yah aslinya..seperti ini nih..

Salah satu gambar yang biasa dipakai untuk mewakili perbedaan adalah pelangi.

Audio: Jadi seperti apa? Pelangiii..yang apa? Banyak warna jadi indah..siapa yang mau jadi pelangi? Sayaaa..Pelangi Indah tidak? Indaahh…

Audio: Siapa yang mau bikin pelangi? Sayaa…pake krayon..bisaaa gak dibuatin..jelek tapi hasil karya sendirii…

Anak-anak mulai menggambar pelangi seperti cotoh yang digambarkan kakak pendidik. Sesudahnya, mereka bersama-sama menyanyikan lagu ‘Pelangi’.
Audio: Pelangi-pelangi alahkah indahmu…merah kuning hijau di langit yang biru. Pelukismu agung siapa gerangan? Pelangi2 ciptaan tuhan.

Selain teori di dalam kelas, anak-anak juga diajak ke lapangan untuk melihat bagaimana perbedaan ada di tengah kehidupan sehari-hari. Rita Handayani, penanggung jawab program ISCO di Cipinang.

Audio: Kenapa harus beda sih gambar mesjid dengan gereja, kenapa mesjid ada kubahnya? biasanya langsung kita cari mesjid atau gereja deket sini nah anak2 kunjungan. Masuk nanya sama orang yang ada di situ. Lalu dibahas apa yang udah kalian dapatkan saat naya ke pendeta, ustad, biksunya..

Selain lewat materi khusus, pelajaran ini juga diselipkan di pelajaran lain, seperti matematika.

Audio: Klo perbedaan pada matematika di bilangan2. akdang merka suka mengambar, gambnar orang. Kadanag anak bingung juga. Itu kak , 2 laki2,. Terus ini apa? Dua perempuan. Khan ada perbedaan gamabrnya..

Pelajaran apa pun yang tengah dibahas, materi perbedaan selalu diulang, supaya tertanam di benak setiap anak. Siti Khodijah, salah satu pendidik di ISCO.

Audio: Ada tahapan-tahapannya. Gak hanya dalam saat itu. Karena anak cepet lupa. Ada tahapan2 lanjutan, jadi gak pas hari ini ajah. Karena mereka juga dalam setiap hari ada nilai2 yang dipelajari dia.

Supaya materi ini betul-betul sampai, orangtua ikut dilibatkan. Jumira, salah satu orangtua murid.

Audio: Ke orang ramah tamah ke orang islam, hindu, atau agama lain lah. Gak boleh beda2in. agama sama ajah, cuma caranya lain-lain.

Apa pentingnya mengajarkan perbedaan sejak dini?

ISCo adalah lembaga yang menampung anak-anak jalanan. Kehidupan anak jalanan membuat mereka melulu bersinggungan dengan kelompok lain. Perbedaan, kata Manajer ISCO Jakarta, Marryah, jadi makanan mereka sehari-hari. Tapi perbedaan seringkali membuat masyarakat terkotak-kotak.

Audio: ISCO kan melihat ada perbedaan di setiap anak. Contoh perbedaan orang atas dan bawah, nanti melebar ke keadaan anak. Misalnya anak yang hidup di tempat kumuh gambaran fisiknya jorok, beda dengan yang di komplek mungkin lebih bersih…

Audio: Yang membuat ada perbedan ada masy dan org2 ttt yang menjadikan kotak. Semua manusia sama, tapi dalam komunitas mana ada kotak, ini jawa, sunda.

Karena itulah, nilai hidup bermasyarakatan jadi penekanan di Sanggar Kreativitas Anak, kata Rita Handayani, penanggung jawab program ISCO di Cipinang.
Audio: Kita ada modulnya. Namanya Sos. Jadi disitu diajarkan semua perbedaan, walau semua beda, kita tetep warga Indonesia! anak ISCO.

Selain soal perbedaan, nilai-nilai lain secara bergiliran dijadikan materi pelajaran. Misalnya, penghargaan dan hormat, toleransi, kerjasama, yang disajikan per bulan. Para pendidik di ISCO berpendapat, ini adalah nilai dasar yang sangat minim diajarkan di sekolah dan keluarga, terutama dari kalangan yang kurang mampu. Rara dan Siti Khodijah, pendidik di Sanggar Kreativitas Anak.

Audio: Belum tentu ini diajarkan di rumah mereka, melihat ekonomi dan orang tua mereka. Kita harapkan ini lebih baik lagi… Audio: Kesadaran ortu untuk pendidikan kurang klo kebersamaan merka lebih solid. Karna di tempat tiggal mereka ada non muslim dan mereka menghargai juga.

Teori di kelas tidak akan ada artinya kalau tidak diterapkan sehari-hari oleh anak-anak ini. Ainun dan Istri yang masih SD, serta Pipit dan Ratih yang duduk di bangku SMP berbagi pemahaman mereka soal apa itu perbedaan.
Audio: Sama-sama manusia. Ngajak main gak? Ngajak. Seneng diajarin beda agama? seneng Ada orang Kristen, namanya jesica. Suka main sama dia? suka. Main ayunan di sekolahan.

Audio: Gak milih2 temen karena semua suku bangsa sama. Bisa saling berkenalan walau beda agama dan suku.

Audio: Kita gak boleh menghina temen walau kita gak sama agama…

Sikap positif ini juga harus dibawa sampai ke lingkungan rumah dan keluarga. Jumirah dan Karyati sudah membuktikan perubahan sikap anak-anak mereka.
Audio: Alhamdulilah gak dibeda2 kan. Jangan milih orang lain dia agama Kristen, islam, agama lain2, biarin sama ajah
Audio: Bedaain gak? Gak beda2in. sama ajah sih, bareng2 mau..

Perbedaan adalah kekayaan yang harus dihormati. Manajer ISCO Jakarta Marryah mengatakan, nilai ini mesti terus ditanamkan sejak dini, sebagai tameng untuk menjaga keberagaman di tanah air.

Audio: Kita berangkat ke fisik manusia, misalnya orang negro dan Indonesia. Tapi ita lihat persamaan. Ramuan yang kita sajian pada akhirnya dia yang memilih. Ah kita gak cocok dengan orang cina karna kecederungan seperti ini. Tapi pada akhirnya apa pun yang dia lihat dia tidak menajdi pemicu perbedaan.

Audio: menyanyi 'Dari Sabang sampai Merauke'

[Anto Sidharta | KBR68H]


foto: iscofoundation.org