Wednesday, February 4, 2009

Anak Belajar Perbedaan


Indonesia adalah keberagaman. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tapi tetap satu, tak bisa begitu saja terwujud tanpa adanya kesadaran soal perbedaan dan keberagaman. Salah satu cara menumbuhkan kesadaran akan perbedaan adalah lewat pendidikan, seperti yang dilakukan di Sanggar Kreativitas Anak, bagi anak-anak jalanan. Reporter KBR68H Anto Sidharta melongok pelajaran soal perbedaan di kelas kecil itu.

Audio: (Suasana) Tetap satu bangsa? Bangsa apa? Bangsa indoensia…ada suku apa saja yah..? aceh, bali, ambon…semua ada di negara Idonesia…tetap satu bangsa…

Belasan anak kelas 1 SD di daerah Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, sigap mengacungkan jari. Mereka ingin segera menjawab pertanyaan yang diajuan guru atau kakak pendidik.

Audio: Ada medan, ada jawa…jadi gak boleh saling ngejek…Jadi ngak boleh saling ngejek..tuti matanya kecil, boleh gak ngejek-ngejek, eh sipit-sipit? Gak boleh…angel belo-belo boleh gak? Gak boleh…karena semua ciptaan? Allah… Audio (menyanyi): Dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau..sambung menyambung menajdi satu, itulah indonesia….

Ini bukan di sekolah, tapi di sebuah rumah kontrakan sederhana. Ruang tempat mereka belajar sempit, hanya ukuran 3x3 meter. Ada sepuluh meja dan kursi kecil disediakan untuk anak-anak ini. Ruangan yang agak pengap tertolong dengan kehadiran sebuah kipas angin.

Audio: (suasana) Ada agama apa di Indonesia? Hindu.kristen…islam…budha… Idul fitri,…natal.. Gereja…pura…

Di ruang kelas berinding biru kusam itulah anak-anak belajar soal perbedaan: suku, agama, ras dan golongan.

Audio: Boleh gak saling ngejek? Kamu khan orang Kristen gak boleh main sama aku? Gak boleh. Kayak Angel kita harus hormati…jadi harus berteman, saling sayang

Audio: Harus saling? Menyayangiii…siapa yang sayang temannya? Sayaaa…


Anak-anak ini ada di bawah asuhan organisasi Anak Jalanan Indonesia, ISCO. Hari itu mereka tengah belajar soal perbedaan, dengan judul materi ‘Berdamai dalam Perbedaan’. Ini materi yang cukup berat bagi anak-anak kecil. Karena itulah, digunakan media gambar serta nasihat, kata salah satu pendidik, Siti Khodijah.

Audio: Ngasih ceramah dulu, baru media gambar. Tadi tk jadi ngasih arahan biar paham, apasih yang akan dikejakan pada dia sebelum ke gambar. Kita jelasin agama apa aja. Kola da ras, keriting, rambut lurus, ada yang sipit emang ada wujudnya yah aslinya..seperti ini nih..

Salah satu gambar yang biasa dipakai untuk mewakili perbedaan adalah pelangi.

Audio: Jadi seperti apa? Pelangiii..yang apa? Banyak warna jadi indah..siapa yang mau jadi pelangi? Sayaaa..Pelangi Indah tidak? Indaahh…

Audio: Siapa yang mau bikin pelangi? Sayaa…pake krayon..bisaaa gak dibuatin..jelek tapi hasil karya sendirii…

Anak-anak mulai menggambar pelangi seperti cotoh yang digambarkan kakak pendidik. Sesudahnya, mereka bersama-sama menyanyikan lagu ‘Pelangi’.
Audio: Pelangi-pelangi alahkah indahmu…merah kuning hijau di langit yang biru. Pelukismu agung siapa gerangan? Pelangi2 ciptaan tuhan.

Selain teori di dalam kelas, anak-anak juga diajak ke lapangan untuk melihat bagaimana perbedaan ada di tengah kehidupan sehari-hari. Rita Handayani, penanggung jawab program ISCO di Cipinang.

Audio: Kenapa harus beda sih gambar mesjid dengan gereja, kenapa mesjid ada kubahnya? biasanya langsung kita cari mesjid atau gereja deket sini nah anak2 kunjungan. Masuk nanya sama orang yang ada di situ. Lalu dibahas apa yang udah kalian dapatkan saat naya ke pendeta, ustad, biksunya..

Selain lewat materi khusus, pelajaran ini juga diselipkan di pelajaran lain, seperti matematika.

Audio: Klo perbedaan pada matematika di bilangan2. akdang merka suka mengambar, gambnar orang. Kadanag anak bingung juga. Itu kak , 2 laki2,. Terus ini apa? Dua perempuan. Khan ada perbedaan gamabrnya..

Pelajaran apa pun yang tengah dibahas, materi perbedaan selalu diulang, supaya tertanam di benak setiap anak. Siti Khodijah, salah satu pendidik di ISCO.

Audio: Ada tahapan-tahapannya. Gak hanya dalam saat itu. Karena anak cepet lupa. Ada tahapan2 lanjutan, jadi gak pas hari ini ajah. Karena mereka juga dalam setiap hari ada nilai2 yang dipelajari dia.

Supaya materi ini betul-betul sampai, orangtua ikut dilibatkan. Jumira, salah satu orangtua murid.

Audio: Ke orang ramah tamah ke orang islam, hindu, atau agama lain lah. Gak boleh beda2in. agama sama ajah, cuma caranya lain-lain.

Apa pentingnya mengajarkan perbedaan sejak dini?

ISCo adalah lembaga yang menampung anak-anak jalanan. Kehidupan anak jalanan membuat mereka melulu bersinggungan dengan kelompok lain. Perbedaan, kata Manajer ISCO Jakarta, Marryah, jadi makanan mereka sehari-hari. Tapi perbedaan seringkali membuat masyarakat terkotak-kotak.

Audio: ISCO kan melihat ada perbedaan di setiap anak. Contoh perbedaan orang atas dan bawah, nanti melebar ke keadaan anak. Misalnya anak yang hidup di tempat kumuh gambaran fisiknya jorok, beda dengan yang di komplek mungkin lebih bersih…

Audio: Yang membuat ada perbedan ada masy dan org2 ttt yang menjadikan kotak. Semua manusia sama, tapi dalam komunitas mana ada kotak, ini jawa, sunda.

Karena itulah, nilai hidup bermasyarakatan jadi penekanan di Sanggar Kreativitas Anak, kata Rita Handayani, penanggung jawab program ISCO di Cipinang.
Audio: Kita ada modulnya. Namanya Sos. Jadi disitu diajarkan semua perbedaan, walau semua beda, kita tetep warga Indonesia! anak ISCO.

Selain soal perbedaan, nilai-nilai lain secara bergiliran dijadikan materi pelajaran. Misalnya, penghargaan dan hormat, toleransi, kerjasama, yang disajikan per bulan. Para pendidik di ISCO berpendapat, ini adalah nilai dasar yang sangat minim diajarkan di sekolah dan keluarga, terutama dari kalangan yang kurang mampu. Rara dan Siti Khodijah, pendidik di Sanggar Kreativitas Anak.

Audio: Belum tentu ini diajarkan di rumah mereka, melihat ekonomi dan orang tua mereka. Kita harapkan ini lebih baik lagi… Audio: Kesadaran ortu untuk pendidikan kurang klo kebersamaan merka lebih solid. Karna di tempat tiggal mereka ada non muslim dan mereka menghargai juga.

Teori di kelas tidak akan ada artinya kalau tidak diterapkan sehari-hari oleh anak-anak ini. Ainun dan Istri yang masih SD, serta Pipit dan Ratih yang duduk di bangku SMP berbagi pemahaman mereka soal apa itu perbedaan.
Audio: Sama-sama manusia. Ngajak main gak? Ngajak. Seneng diajarin beda agama? seneng Ada orang Kristen, namanya jesica. Suka main sama dia? suka. Main ayunan di sekolahan.

Audio: Gak milih2 temen karena semua suku bangsa sama. Bisa saling berkenalan walau beda agama dan suku.

Audio: Kita gak boleh menghina temen walau kita gak sama agama…

Sikap positif ini juga harus dibawa sampai ke lingkungan rumah dan keluarga. Jumirah dan Karyati sudah membuktikan perubahan sikap anak-anak mereka.
Audio: Alhamdulilah gak dibeda2 kan. Jangan milih orang lain dia agama Kristen, islam, agama lain2, biarin sama ajah
Audio: Bedaain gak? Gak beda2in. sama ajah sih, bareng2 mau..

Perbedaan adalah kekayaan yang harus dihormati. Manajer ISCO Jakarta Marryah mengatakan, nilai ini mesti terus ditanamkan sejak dini, sebagai tameng untuk menjaga keberagaman di tanah air.

Audio: Kita berangkat ke fisik manusia, misalnya orang negro dan Indonesia. Tapi ita lihat persamaan. Ramuan yang kita sajian pada akhirnya dia yang memilih. Ah kita gak cocok dengan orang cina karna kecederungan seperti ini. Tapi pada akhirnya apa pun yang dia lihat dia tidak menajdi pemicu perbedaan.

Audio: menyanyi 'Dari Sabang sampai Merauke'

[Anto Sidharta | KBR68H]


foto: iscofoundation.org

No comments:

Post a Comment