Wednesday, February 11, 2009

Jajanan Berbahaya di Sekitar Kita


Zat-zat berbahaya seperti pengawet mayat formalin, pewarna tekstil Rhodamin B dan pemanis seperti Sakarin dan Asparthame setiap hari masuk ke tubuh anak-anak melalui jajanan yang mereka beli di sekolah. Di sini terjadi pelanggaran terhadap hak anak untuk mendapat mendapat kesehatan. Prihatin dengan kondisi ini Departemen Pendidikan Nasional meluncurkan program penataan kantin sehat. Reporter KBR68H Antonius Eko mencoba melihat lebih dekat jenis-jenis panganan yang berbahaya, serta upaya untuk melindungi kesehatan anak-anak.

Audio: suasana belajar

Murid-murid kelas 5 SD Negeri Rawa Kemiri, Kabayoran Lama, Jakarta Selatan serius mengikuti pelajaran agama. Mereka mengulangi kata-kata dalam bahasa Arab seperti dicontohkan guru. Saat itu pukul 08.50 pagi. Sepuluh menit lagi istirahat pertama.

Audio: suara lonceng
Begitu bel berbunyi, puluhan anak bergegas keluar kelas. Lantas keluar pagar sekolah, menyerbu tukang jajanan yang berderet di pinggir jalan.

Audio: suasana beli jajanan

Jajanan di sini aneka rupa. Ada mi bakso, mi ayam, siomay, batagor, cakwe, es krim, es sirup sampai aneka keripik rasa gurih-asin dalam kemasan plastik. Tinggal pilih mana yang disuka. Bakso dan cakwe disajikan dengan saus berwarna merah terang. Minumannya juga laris manis. Itu tuh, es sirup dalam kantong plastik kecil. Harganya murah meriah, cukup bayar dengan satu uang logam 500 perak.

Bagi anak-anak ini, aneka jajanan yang ditawarkan enak dan lezat. Tapi ada juga anak-anak yang tahu bahaya di balik jajanan ini. Kantin sekolah memang ada, tapi makanan yang dijual di tukang jajanan di luar sekolah lebih menantang; jenis, penampilan dan warnanya jauh lebih menarik.

Audio: ada..ada.. daging..daging nugget..takut..aku nggak pernah beli nugget..dagingmya bisa daging yang lain..sambelnya terbuat dari tomat busuk, belatung..jadi asem..(kok tetep beli diluar) abisan nggak ada tempat jajan yang lain..(kalau kantin disini ada nggak)..adaaaaaa…(kenapa belinya di depan)..ada di belakang..di depan lebih banyak makanannya…
Sayang Kepala Sekolah SD Negeri Rawa Kemiri menolak diwawancara soal kantin sekolah. ‘Takut salah kata,’ begitu dia bilang. Menurut si kepala sekolah, ada kok guru yang ditugaskan mengawasi jajanan di luar sekolah. Tapi hingga jam istirahat usai, tak ada satu pun guru yang melongok keluar.

Audio: suasana beli jajanan

Suasana beda dijupai di SD Percontohan Pondok Pinang 10 Pagi, Jakarta Selatan. Sejak jam masuk hingga pulang, pintu gerbang tertutup rapat. Saat jam istirahat, tak ada murid yang jajan di luar, meskipun masih ada juga pedagang yang mangkal di luar pagar sekolah. Kepala Sekolah Djunaedi mengatakan, murid-murid hanya mengkonsumsi makanan-minuman dari kantin sekolah. Orangtua murid diundang untuk terlibat dalam mengelola kantin. Harapannya, kualitas pangan yang disajikan terkontrol.

Audio: oh syarat mutlak nggak ada yang penting beliau mau dan bisa kita ajak kerjasama..pertama tujuannya bukan semata-mata untuk mencari keuntungan yang mutlak tapi juga mau memperhatikan tentang kebersihan, kemudian makanan yang dijual..kita sudah menentukan setiap lokasi atau pintu yang kita berikan kalau bisa berjualan jangan sama jenisnya sehingga ada variasi anak-anak untuk memilih… Audio: suasana kantin
Kantin di SD Percontohan Pondok Pinang 10 Pagi ini terlihat bersih. Ada tujuh pedagang di sana, masing-masing punya ruangan tersendiri. Aneka panganannya pun beragam ada bakso, somay hingga minuman ringan.

Penyediaan kantin dan jajanan yang bersih adalah bagian dari pemenuhan hak anak untuk hidup sehat.

Sekretaris Jendral Komisi Nasional Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait.

Audio: pertama kan hak anak itu kan yang harus dilindungi karena setiap orang, baik itu sekolah, orang tua, masyarakat wajib memberi perlidungan kepada anak..wajib memberi perlindungan dalam segala macam termasuk dengan jajanan anak itu..nah oleh karena itu ini harus dikampanyekan kepada orang tua juga..supaya lebih menyiapkan jajanan-jajanan yang dikelola orang tua sendiri..

Komnas Anak menekankan pentingnya orangtua menyiapkan bekal makanan-minuman untuk dibawa anak ke sekolah. Kata Aris, orangtua tak semestinya beralasan sibuk atau tak sempat, lantas memilih langkah praktis dengan memberikan uang jajan. Siap punya anak, harus siap bertanggungjawab atas kesehatannya, kata Aris.

Audio: itu adalah bentuk tidak bertanggung jawabnya orang tua..sudah tahu begitu bahwa banyak hal-hal yang instan, tidak higienis dan sebagainya tapi kita justru memberikan uang jajan. Sebenarnya uang jajan itu yang kita bisa kelola lalu kita buat jenis makanan yang sedang disukai anak-anak itu kan lebih higienis..nah kalau kita sudah berencana mempunyai anak dan keturunan maka kita harus memberi perhatian yang ekstra termasuk menghnidari anak mengkonsumsi jajanan yang tidak higienis tadi..
Membiarkan anak jajan sembarangan artinya mempertaruhkan kesehatan mereka. Survei tahunan yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia YLKI menunjukkan, pengawet terlarang masih saja dipakai di jajanan anak. Misalnya, formalin, yang sebetulnya dipakai untuk mengawetkan mayat, juga untuk antiseptic dan penghilang bau. Pewarna tekstil Rhodamin B dan pemanis seperti sakarin dan asparthame dengan dosis berlebih. Zat-zat ini berbahaya dan bisa menyebabkan keracunan, gangguan mental, hiperaktif sampai kanker.

Peneliti YLKI Ilyani S Andang menuturkan, perlu ada pembinaan, pengawasan dan penegakan hokum bagi para pedagang jajanan yang bandel. Apalagi YLKI tak pernah melihat adanya perbaikan kualitas jajanan anak sekolah.

Audio: misalnya dulu saya pernah dengar program dari Badan POM, mereka akan mengadakan lomba untuk pedagang grobak yang paling sehat atau apa gitu, tapi itu tidak jalan..tidak ada buktinya, tidak ada indikatornya..kalau kita melakukan perbaikan ada dong indikakatornya..mereka melakukan tiap tahun keliatan indikatornya seperti ini…nah itu yang tidak terlihat..tapi kita kalau kita ujuk-ujuk mereka salah dan ditangkat tidak bisa..karena kalau seperti YLKI kita melakukan pengujian dan kasih tau bahwa ini bermasalah…tapi ketika kita menguji lagi hasilnya sama saja..mereka sudah dikasi penyuluhan tapi liat temennya pake pewarna buatan yang lebih untung, lebih awet..akhirnya mereka bilang loh ini lebih untung dia nggak diapa-apain..saya lebih baik seperti dia juga gitu…

Sekolah diminta bersikap lebih tegas dengan membatasi jumlah pedagang yang mangkal di sekitar sekolah. Orangtua dan murid juga harus diberi pemahaman kalau jajanan tersebut berbahaya. Anak-anak, tambah Ilyani, punya pikiran yang sangat terbuka. Karenanya, orangtua dan guru bisa menanamkan ajaran yang benar soal makanan sehat.

Audio: jadi kalau ortu sudah bisa megajar sejak awal sudah memberitahu bahwa ini makanan yang berbahaya ini yang tidak..kamu jangan jajan di sekolah ini ibu bekali dengan kue dengan roti atau dengan makanan yang dibuat sendiri oleh ortu itu malah baik sekali dan itu akan berpengaruh sekali ke pikiran anak..saya punya banyak sekali contoh bahwa anak-anak yang sejak awal diwanti-wanti ortu untuk tidak jajan, itu tidak akan jajan walaupun godaan sedemikian besar disekitar sekolah..

Audio: ada..ada.. daging..daging nugget..takut..aku nggak pernah beli nugget..dagingmya bisa daging yang lain..sambelnya terbuat dari tomat busuk, belatung..jadi asem..(fade out)

Anak-anak saja ogah jajanan berbahaya, masa guru dan orangtuanya diam saja?

Audio: dan kita selalu menemukan hal yang sama seperti pengawet yang dilarang masih dipake, kemudian pewarna tekstil masih dipake, terus pemanis yang nggak jelas dosisnya sakarin, asparthame banyak sekali (fade out).. dari sambel ada pewarnanya, dari saos ada pewarnanya, dari kecap barangkali pake penyedap rasa..dari mie ada pengawet..sekarang makan mie pangsit ya pake sambel, pake kecap dia pake saos kan numpuk itu (fade out) .tidak baik kesehatan akan terjadi penumpukan lemak, IQ akan rendah dan akan menumbuhkan jenis-jenis penyakit yang tidak pernah diduga..
Temuan YLKI, Lembaga Konsumen Jakarta dan Komnas Anak menunjukkan, jajanan anak mengacam kesehatan anak. Ini mengundang keprihatinan Departemen Pendidikan Nasional, Depdiknas. Mulai tahun ini, Depdiknas punya program untuk membina penjual makanan yang mangkal di sekolah-sekolah. Anggarannya besar, yaitu 10 miliar rupiah per tahun.

Kepala Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Depdiknas Widaninggar Widjajanti mengatakan, program ini bernama ‘Penataan Kantin Sehat’. Untuk tahap awal, akan diuji coba di 28 provinsi. Depdiknas menggandeng Badan Pengawasan obat dan Makanan, BPOM serta Institut Pertanian Bogor, IPB.

Nantinya, setiap sekolah akan menerima dana bantuan untuk membenahi kantin. Tapi ada syaratnya.

Audio: lokasinya harus jauh dari sumber pencemaran seperti tempat penampungan sampah itu penting ya karena kalau nggak kan bisa dicemari oleh berbagai lalat dan sebagainya..dia memiliki sumber air bersih itu penting sekali untuk mencuci tangan, untuk mencuci alat-alat makan dan minum..lantainya mudah dibersihkan..ada tempat makanan yang tertutup..ada tempat cuci tangan siswa..ada tempat sampah yang tertutup…

Program Kantin Sehat memungkinkan sekolah menggandeng pedagang yang ada di luar. Demi menghindari konflik, kata Widaninggar.

Audio: ada sekolah yang membuat kebijakan anak-anak nggak boleh jajan di luar, lalu pintu gerbang dikunci supaya anak-anak nggak jajan di luar, apa yang terjadi? kepala sekolahnya di demo oleh penjual..kita harus mengerti bahwa ada faktor ekonomi bukan? Jadi satu cara yang baik saya lihat di beberapa sekolah di beberapa daerah itu pedagang-pedagang diajak masuk ke dalam tapi dengan syarat mereka harus mengikuti peraturan sekolah dan harus mau diberikan bimbingan…

Kantin juga jangan jadi ajang bisnis, begitu pesan dari Nurhasan, Lembaga Konsumen Jakarta. Kata dia, kantin jangan sampai kemasukan perusahaan yang memonopoli pasokan alat kebersihan.

Audio: ada juga yang saya tidak mau terjadi ya itu kemudian disitu ada semacam komersialiasi kemudian di aspek-aspek bisnis..dalam hal yang sederhana misalnya makanan sehat itu diawali dengan cuci tangan, kemudian apa yang kita lihat harus pake sabun nah…ini nanti kepentingan industri akan masuk..saya tidak setuju… Audio: suasana kantin

Sekjen Komnas Anak, Aris Merdeka Sirait meminta kantin sehat dibangun dengan suasana yang santai. Supaya anak bisa rileks setelah berjam-jam terkurung dalam ruang kelas yang kaku.

Audio: ya saya kira suasananya harus dibangun dengan suasana anak kan karena proses belajar mengajar kita itu kan indoor ketika dia punya waktu hanya setengah jam atau satu jam untuk beristirahat kan lebih pda melihat outdoor gitu kan..nah itu kan alami aja karena memang dunia anak seperti itu..tapi kalau misalnya tempatnya itu dibuat sedemikian rupa seolah-olah itu tempat rekreasi dan satu proses outdoor saya kira akan menarik…
Soal makanan yang disajikan, ini juga harus jadi perhatian. Peneliti YLKI Ilyani S Andang mengusulkan, makanan jangan mengandung terlalu banyak lemak, garam atau gula. Juga kantin harus menyediakan buah-buahan.

Audio: tapi juga mengandung…misalnya kayak buah kan segar sekali kalau di sekolah menawarkan buah-buah yang alami lokal Indonesia, tapi sangat bergizi sangat segar di udara terik matahari gitu kan..jadi dari sisi bahan tambahannya dari sisi jenisnya dari sisi higienitasnya harusnya diperhatikan
Kalau kantin sudah bersih, makanannya pun bergizi, kesehatan anak pasti lebih terjamin. Kepala Bidang Promosi Badan Pengawasan Obat dan Makanan BPOM Endang Susigandhawati berpesan, anak harus diajari cara membedakan makanan yang sehat dan yang berbahaya. Jangan sampai memilih makanan hanya dari tampilan warna saja, karena warna yang menawan kadang mengandung bahaya.

Audio: cara-cara memilih pangan terutama bapak ibu mungkin jalan sama anaknya kalau mau jajan itu dilihat kantinnya itu pangannya tertutup, kemudian kalau kemasan seperti royal jelly atau gula-gula harus terdaftar harus ada nomor registrasi nomor pendaftaran ijin edar yaitu MD, kalau luar itu ML kemudian kalau industri rumah tangga PIRT, itu yang utama kalau nggak ada hati-hati belum tentu makanan itu sehat atau aman karena kemungkinan warnanya itu dari pewarna tekstil, kemudian dibungkusnya dengan apa? jangan mau kalau dibungkus dengan kertas koran..

[Antonius Eko | KBR68H]


foto: my.opera.com

2 comments:

  1. Menarik sekali tulisan Anda dan semua sangat benar. program pembinaan pedagang jajan sudah sejak dulu menjadi gembar-gembor BPOM tp belum mendapat sambutan hangat dari pihak diknas, sekarang saatnya dua jajaean kompeten bergandeng tangan. IPB sudah berpengalaman dengan pola pembinaan pedagang kaki lima di street project di era 90 an dengan dana dari Belanda. Nah kita tunggu hasil gebrakan program KANTIN SEHAT ini semoga bisa menegakkan hak anak-anak Indonesia.

    ReplyDelete
  2. teriamakasih banyak, sangat menarik sekali pembahasannya...

    ReplyDelete